logo alinea.id logo alinea.id

Wisata religi: Pesona arsitektur lintas budaya Masjid Annawier

Masjid Jami Annawier sudah berusia lebih dari 200 tahun, berdiri di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Minggu, 19 Mei 2019 02:27 WIB
Wisata religi: Pesona arsitektur lintas budaya Masjid Annawier

Siapa sangka di antara pemukiman padat penduduk di daerah Kampung Arab Pekojan, Jakarta Barat, berdiri kokoh sebuah surau yang berusia lebih dari 200 tahun. Surau itu dikenal dengan nama Masjid Jami Annawier.

Masjid yang terletak di jalan Pekojan, Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, memiliki ciri khas tersendiri dibanding masjid pada umumnya. Seperti gaya bangunan masjid tersebut yang memiliki paduan gaya arsitektur lintas budaya dan negara.

Menurut Ketua Pengurus Masjid Annawier Dikky Bashandid, bangunan masjid yang berumur 258 tahun itu memiliki paduan gaya arsitektur Eropa, Jawa, dan Cina. Dia berpendapat gaya tersebut merupakan jejak peradaban yang pernah menghidupi daerah Kampung Arab Pekojan.

Memang, dahulu kawasan Kampung Arab Pekojan merupakan sebuah pemukiman yang ditinggali mayoritas penduduknya keturunan bangsa Arab, seperti Yaman dan India.

"Kalau dilihat dari pagar sampai pintu masjid, itu khas bangunan Jawa. Di bagian dalamnya paduan China sama Eropa nyatu," ucap pria keturunan Hadhramaut Yaman, saat berbincang dengan Alinea.id di Masjid Annawier, Sabtu (18/5).

Menariknya, masjid seluas 1.050 meter pesegi itu memiliki makna filosofis di setiap unsur bangunannya. Misalnya pada bagian pintu masjid. Masjid Annawier sendiri memiliki tiga pintu masuk utama, pertama pintu selatan yang berhadapan langsung dengan Jembatan Kambing. Kedua adalah pintu timur, dan terakhir adalah pintu utara.

Dikky menjelaskan, empat buah bagian pintu masjid yang menghadap ke arah selatan itu melambangkan jumlah Khalifah Ar Rasyidin. Sebagaimana diketahui, Khalifah Ar-Rasyidin ialah khalifah pertama dalam tradisi Islam Sunni, yang ditunjuk sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW setelah wafat.

Khalifah Ar-Rasyidin berjumlah empat ulama besar yakni, Syekh Abu Bakar Ash Siddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Sponsored

"Kalau pintu yang menghadap ke arah timur itu berjumlah lima buah yang melambangkan rukun Islam, kalau yang menghadap ke utara itu jumlahnya ada lima buah juga yang berarti waktu shalat," kata Dikky, sambil tersenyum.

Pilar penyangga Masjid Jami Annawier berjumlah 33 buah. Alinea.id/Achmad Al Fiqri

Memasuki bagian dalam masjid, terdapat pilar penyangga berbaris rapi yang dapat memukau mata. Pilar tersebut berjumlah 33 buah. "Ini mempunyai arti seperti bacaan tasbih, takbir, tahmid yang biasa dibaca setelah salat fardhu sebanyak 33 kali," tutur Dikky.

Sedangkan arti dari enam buah jendela yang menghadap ke arah barat melambangkan dari rukun iman. Di antaranya rukun iman ialah iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada rasul, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qodho dan qodar.

Keunikan lainnya dari Masjid Jami Annawier itu ialah adanya sebuah menara yang menyerupai mercusuar. Dikky menjelaskan menara itu digunakan pada zaman dahulu untuk mengumandangkan azan yang saat itu belum ada pengeras suara.

Lebih jauh, Dikky mengatakan Masjid Annawier dibangun pada 1760. Saat itu, luas masjid hanya sebesar 500 meter persegi. Tanah tersebut juga merupakan lahan sumbangan dari tokoh perempuan asal betawi, yakni Syarifah Baba Kecil.

"Seiring berjalannya waktu, Kemudian dilakukan perluasan pada tahun 1850-an menjadi kurang lebih 1.000 meter persegi oleh seorang mufti betawi yaitu Said Usman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya, " tutur Dikky, seraya menyimpulkan senyumannya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by About Jakarta (@_about.jakarta_) on