Dua kali pengalaman jadi tuan rumah Asian Games

Apa yang membedakan perhelatan Asian Games di Indonesia pada 1962 dan 2018?

Dua kali pengalaman jadi tuan rumah Asian Games Hiburan di upacara penutupan Asian Games 2018./ Antarafoto

Asian Games 2018 memang telah usai. Kendati tak bisa menyabet peringkat kedua laiknya prestasi pada 1962, Indonesia tetap panen medali. Tak tanggung-tanggung, 31 medali diborong kontingen atlet Indonesia tahun ini, bahkan cabang pencak silat sukses bawa pulang 14 medali. Dengan puluhan medali tersebut, Indonesia memastikan tempat di peringkat empat, di bawah China si juara bertahan, Jepang, lalu Korea Selatan.

Sementara, dana yang dihabiskan untuk pesta olahraga yang diikuti 45 negara itu secara keseluruhan mencapai Rp 40 triliun. Dana ini dialokasikan untuk pemugaran gedung Gelora Bung Karno (GBK), Kampung Atlet di kawasan Kemayoran, pembangunan Velodrome Rawamangun dan Equestrian Park Pulomas sebagai arena balap sepeda dan pacuan kuda. Sarana transportasi yang baik pun digagas, dengan membangun Light Trail Transit (LRT) di Jakarta dan Palembang.

Membandingkan angka itu dengan dana di Asian Games IV 1962 di Jakarta jelas tak sepadan. Pasalnya, di era Soekarno dulu, Indonesia perlu membangun dari awal stadion berstandar internasional dan printilan lainnya. SImak apa saja perbedaan penyelenggaraan Asian Games tersebut.


Berita Terkait