sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pesantren radikal versi BNPT

Kepala BNPT Boy Rafli Amar memaparkan 198 pesantren yang punya keterkaitan dengan kelompok teroris. 

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Selasa, 08 Feb 2022 11:42 WIB
Pesantren radikal versi BNPT

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengungkap daftar pesantren yang terafiliasi kelompok teroris dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Selasa (25/1). Ketika itu, Boy memaparkan setidaknya terdapat 198 pesantren anti-Pancasila yang punya keterkaitan erat dengan kelompok teroris. 

Di data itu, sebanyak 119 pesantren "dituduh" terafiliasi kelompok Jamaah Ansharut Daulah/ISIS, 69 pesantren terkait Jamaah Islamiyah, dan 11 pesantren tersangkut Jamaah Anshorut Khilafah (JAK). Mayoritas pesantren radikal versi BNPT itu beroperasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Direktur Pencegahan BNPT Brigadir Jenderal Ahmad Nurwakhid mengatakan daftar pesantren "radikal" disusun berbasis riset. Pesantren-pesantren itu, kata dia, diduga radikal setelah ditinjau dari sejumlah aspek dan kriteria, semisal punya keterpautan erat secara ideologi dengan sebuah kelompok teroris. 

"Pesantren itu terafiliasi dengan jaringan terorisme sebagai strategi kamuflase atau siasat menyembunyikan diri dan agendanya (taqiyah), dan atau strategi tamkin, yaitu strategi penguasaan wilayah ataupun pengaruh dengan mengembangkan jaringan ataupun menginfiltrasi ke organisasi maupun institusi lain," ucap Nurwakhid kepada Alinea.id, Minggu (30/1). 

Sponsored

Kadar radikalisme pesantren-pesantren itu, kata Nurwakhid, teridentifikasi dari adanya paham takfiri yang diajarkan para pengasuh ke para santri. Pada sejumlah pesantren, BNPT juga menemukan keterlibatan oknum pengurusnya dalam mendanai aktivitas jaringan teroris. 

"Mereka mengajarkan paham takfiri, dengan mengkafirkan pihak lain yang berbeda paham maupun berbeda agama. Bersikap eksklusif terhadap lingkungan maupun perubahan, serta intoleransi terhadap perbedaan maupun keragaman (pluralitas)," kata Nurwakhid.

Infografik Alinea.id/Aisya Kurnia

Berita Lainnya