sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Mochtar W. Oetomo

Gus Ipul dan kisah tragis Ibrahim Pasha

Mochtar W. Oetomo Kamis, 01 Feb 2018 07:05 WIB

Alkisah Ibrahim Pasha dari Praga atau dalam beberapa lembar buku sejarah lebih sering disebut dengan Pargali Ibrahim Pasha. Ia dinobatkan sebagai Wazir Agung atau Perdana Menteri atau Wakil Raja Ottoman mengganti Piri Mehmed Pasha pada 1523. Berdasarkan catatan biografi, Ibrahim Pasha, ia berasal dari keluarga pelaut beragama Kristen Yunani Ortodoks di Parga, Epirus, Yunani Utara, Republik Venesia. Saat dewasa, ia pindah agama Islam. Ibrahim Pasha dibawa oleh para bajak laut dan dijual ke Istana Manisa di Anatolia Barat.

Ketika itu, Pangeran Suleiman putra Sultan Selim penguasa Ottoman (1512-1520) berstatus Putra Mahkota dan sedang menempuh pendidikan di Anatolia Barat. Pertemuan antara Suleiman muda dengan Ibrahim Pasha, membuat keduanya bersahabat baik, meski status Ibrahim Pasha adalah seorang budak. Saat Suleiman diangkat menjadi Raja Ke-10 Kekhalifahan Ottoman (1520-1566), ia membawa serta Ibrahim Pasha sebagai penjaga kamar Raja.

Seiring berjalannya waktu, karena kepercayaan Suleiman yang sangat kuat pada Ibrahim Pasha, Suleiman mengangkat sahabatnya tersebut sebagai Wazir Agung. Bahkan Ibrahim dinikahkan dengan Hatice Suljan Khadijah, adik terkasih Raja Suleiman. Lengkap sudah kedekatan Ibrahim dan Suleiman. Sahabat terbaik, wakil terbaik dan sekaligus keluarga sendiri sebagai ipar.

Pendeknya, Ibrahim dan Suleiman bak realitas Dwi Tunggal. Dua tapi sesungguhnya satu. Dimana ada Suleiman disitu ada Ibrahim. Kesuksesan dan kemasyhuran Ottoman pada masa Suleiman sama sekali tak bisa dilepaskan dari sumbangsih maksimal dari Sang Wazir Agung, Pargali Ibrahim Pasha.

Dwi Tunggal yang membawa Ottoman memasuki puncak kejayaannya. Ditakuti lawan, disegani kawan. Menjadikan Ottoman sebagai salah satu kekaisaran dengan wilayah terluas di dunia meliputi tiga benua, dalam bentang perjalanan sejarah bangsa-bangsa. Dan seluruh rakyat Ottoman mafhum benar dengan kedekatan, kebersamaan dan kesatuan antara Suleiman dan Ibrahim. Pasangan pemimpin terbaik yang pernah dimiliki oleh Ottoman. Saling melengkapi dan menguatkan.

Akhir kedekatan Pakde Karwo-Gus Ipul

Sebagaimana Pakde Karwo dan Gus Ipul di Jawa Timur. Siapa yang berani menyangkal kedekatan, kebersamaan dan kesatuan keduanya. Bahu membahu membangun Jawa Timur hingga meraih berbagai penghargaan baik skala nasional maupun internasional. Saling melengkapi dan menguatkan sejak 2008, melayani dan merangkul seluruh kekuatan dan rakyat di Jatim.

(Gus Ipul beserta pasangannya Puti Soekarno. foto: Antara)

Hampir tidak pernah terdengar kabar buruk mengenai hubungan diantara keduanya, sebagaimana banyak terjadi di daerah lain dimana Gubernur dan Wakil, atau Bupati dan Wakil hanya nampak dekat saat Pilkada, dan langsung pecah kongsi saat sudah berkuasa karena kepentingan yang dibawa oleh masing-masing. Dibawah Pakde Karwo dan Gus Ipul Jatim selalu dalam kondisi aman dan terkendali. Memperoleh capaian-capaian yang mencengangkan hingga membuat rakyat Jatim merasa bangga saat harus dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain.

Soekarwo-Saifullah Yusuf, KARSA, menjelma Dwi Tunggal selayaknya Suleiman dan Ibrahim Pasha yang sepertinya muskil untuk dipisahkan.

Hingga tibalah pepatahnya. Sebuah hubungan tidak hanya ditentukan oleh faktor subjektif tapi juga faktor objektif. Sebuah kedekatan, kebersamaan dan kesatuan tidak hanya ditentukan oleh motivasi, kepentingan dan sejarah internal. Lebih dari itu adalah faktor-faktor eksternal, baik kepentingan dan motivasi pihak lain maupun dinamika dan momentum kontekstual.

Tercatat, Ibrahim Pasha menjadi Wazir Agung selama 13 tahun. Keruntuhannya dimulai saat kepercayaan Suleiman pada Ibrahim Pasha turun. Ketika itu, Ibrahim Pasha diduga melakukan kekeliruan dalam kampanye melawan kekaisaran Persia Safawi. Kesalahan Ibrahim Pasha disinyalir karena ia menyematkan sebutan Sultan untuk dirinya, sementara Suleiman merasa hal itu sebagai suatu penghinaan.

Hubungan Ibrahim Pasha dengan Suleiman makin memburuk saat Ibraihim terlibat perbedaan pendapat dengan Iskender Celebi, menteri keuangan senior di Kerajaan Ottoman. Namun, beberapa sumber sejarah juga mencatat, keruntuhan Ibrahim Pasha tidak lepas dari intrik Istri sah Suleiman, Hurrem Sultan. Konflik yang terjadi antara Ibrahim Pasha dengan Iskender Celebi tersebut dimanfaatkan oleh Hurrem Sultan yang berkonspirasi dengan Rustem Pasha untuk menyingkirkan Ibrahim.

Dalam beberapa sumber sejarah, Hurrem menjadi penyebab kepercayaan Suleiman kepada Ibrahim semakin hilang. Suleiman menganggap Ibrahim Pasha terlibat dalam konspirasi untuk menjatuhkan tahtanya. Hingga akhirnya Suleiman menjatuhkan eksekusi mati pada Ibrahim Pasha pada 1536 di Istana Topkapi, istana utama tempat Suleiman tinggal. Konon bahkan Ibrahim dieksekusi oleh tim eksekutor kerajaan beberapa saat setelah makan malam bersama di kamar Suleiman, dan tengah tertidur di kamar sebelah kamar Suleiman. Tragis, kedekatan, kebersamaan dan kesatuan selama 13 tahun itu akhirnya punah juga. Dwi Tunggal yang membuat takut seluruh daratan Eropa itu akhirnya pecah juga.

Sebagaimana pecahnya kongsi kedekatan, kebersamaan dan kesatuan Pakde Karwo dan Gus Ipul setelah berjalan hampir 10 tahun. Faktor objektif Pilgub 2018 benar-benar menjadi badai pemisah politik bagi Dwi Tunggal KARSA. Kepentingan partai, dinamika dan momentum politik mamaksa Pakde Karwo harus meninggalkan shohib nya. Keputusan berat dan dilematis Suleiman untuk mengeksekusi mati Ibrahim Pasha adalah sama berat dan dilematisnya Pakde Karwo saat harus meninggalkan Gus Ipul dan mendukung lawan politik yang dalam dua kali gelaran Pilgub Jatim (2008 dan 2013) mereka hadapi berdua, Khofifah Indar Parawansa (KIP). Janji Suleiman untuk tidak menyingkirkan Ibrahim saat dia mengangkat shohibnya jadi wazir adalah janji Pakde pada Gus Ipul bahwa kelak dia akan mendukung shohibnya itu untuk menggantikannya sebagai Gubernur Jatim.

Bukan hanya Suleiman. Pakde Karwo pun sama sekali tak pernah berfikir dan berencana untuk meninggalkan shohibnya. Apalagi hingga membunuhnya. Tapi sebuah janji selalu saja sulit untuk ditepati. Apalagi janji poliik. Tidak terpenuhinya sebuah janji jangan hanya dilihat sebagai kelemahan dan kesalahan dari si pembuat janji. Sebab acapkali juga ditentukan oleh yang mendapat janji dan oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap perjanjian itu. Pilihan Gus Ipul untuk maju bersama PKB dan PDIP dan bukannya dengan Demokrat jelas adalah salah satu faktor penyerta.

Disamping itu, kepentingan dan keputusan DPP Partai Demokrat berkait 2019 serta faktor-faktor objektif yang berkembang di masyarakat dan yang dibawa oleh KIP adalah variabel-variabel lain yang membuat Dwi Tunggal KARSA harus berakhir. Bukan hanya bagi Suleiman, bagi Pakde Karwo pun semua ini tentu tidak mudah. Sebagaimana Suleiman, batin humanis Pakde sudah barang tentu juga menangis dan mengiris karena harus berpisah dengan shohibnya.

(Khofifah-Emil Dardak didukung oleh Partai Demokrat, Golkar, Hanura, dan Nasdem. foto: Antara)

Begitulah politik. Tak ada yang abadi selain kepentingan. Jika Suleiman tak tega membunuh Ibrahim dengan tangannya sendiri, maka begitulah agaknya Pakde Karwo. Hingga dengan lantang Pakde menyatakan tidak akan ikut turun kampanye untuk KIP. Sebagaimana Suleiman memiliki pasukan eksekutor yang terlatih dan terpercaya, begitu juga dengan Pakde Karwo. Mesin partai Demokrat, loyalis di birokrasi, tokoh-tokoh panutan yang tersebar di tengah masyarakat, komunitas-komunitas dan ormas-ormas pendukung semua itu bisa saja menjelma menjadi tim eksekutor yang mengantar Gus Ipul pada kekalahan. Akankah demikian? Atau justru akan sebaliknya? Persahabatan panjang Suleiman dan Ibrahim Pasha berakhir tragis dengan kematian Sang Wazir. Akankah nasib Gus Ipul akan setragis Ibrahim? Mestinya Gus Ipul bisa berkaca pada konspirasi Hureem dan Rustem Pasha. Tragika atau Tahta.