sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Bandung Mawardi

Kereta api: Cepat dan ralat

Bandung Mawardi Jumat, 13 Mar 2020 22:55 WIB
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Berita terbaru diberikan ke publik. Pada 2 Februari 2020, pemerintah mengumumkan penghentian sementara kegiatan-kegiatan di proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Pengumuman itu membuat "cepat selesai" bisa diralat untuk mewujudkan kereta cepat. Konon, pemerintah ingin kereta cepat sudah bisa beroperasi pada 2021. Sejak digagas dan dilaksanakan, proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sering menjadi polemik dan bergelimang masalah. "Cepat" itu masalah. Dulu, "cepat" sudah masalah bagi orang-orang takjub dan takut melihat dan naik kereta api. 

Sejak awal abad XX, kaum pribumi bepergian naik kereta api. Di kereta api, mereka mengalami keajaiban cap modernitas. Lokomotif dan gerbong bergerak cepat di atas rel, melintasi desa-desa dan kota-kota. Posisi duduk atau berdiri bakal membuat penumpang kereta api serasa melihat segala hal di luar berlari cepat. Kereta api di Hindia Belanda memberi sihir kecepatan. Suara kereta api turut mencipta orkes "kemadjoean".

Siapa mau naik kereta api? Pada 1934, Ibu Soed menggubah lagu berjudul "Kereta Apikoe" untuk ekspresi kegirangan bocah mengalami perjalanan dengan naik kereta api. Lagu bersahaja tapi selalu disenandungkan sampai sekarang. Lirik-lirik gampang diingat: Naik kereta api toet toet toet/ Siapa hendak toeroet/ Ke Bandoeng-Soerabaja/ Bolehlah naik dengan pertjoema/ Ajo temankoe lekas naik/ Keretakoe tak berhenti lama// Tjepat keretakoe berdjalan toet toet toet/ Banjak penoempang toeroet/ Keretakoe soedah penat/ Karena beban terlaloe berat/ Di sinilah ada stasioen/ Penoempang moelai toeroen.

Kereta itu kecepatan! Penumpang memang menginginkan cepat, cepat, cepat. Hasrat untuk cepat dengan peningkatan jumlah penumpang di gerbong-gerbong membuat kereta api "penat" akibat "berat". Perjalanan di atas rel itu cepat. Kereta api telah jadi idaman.

Pengalaman naik kereta api tak selalu girang. Kereta api juga ingatan sedih dan derita. Di majalah Kadjawen edisi 12 November 1938, Saniki asal Bandung menulis pengalaman naik kereta api, lima belas tahun silam. Tulisan berjudul "Njepoer." Saniki terkena sihir kereta api sehari sebelum berhasil berada dalam gerbong. Perut tak merasa lapar, susah tidur. Saniki terlalu girang mengandaikan diri benar-benar naik kereta api. Girang terpenuhi saat Saniki, ibu, dan adik-adik berhasil berada di gerbong. Saniki bercerita: Sasoewene akoe mapan loenggoeh sing takdelok moeng kaanan ing djeron sepoer, akoe goemoen, dadi mangkono sepoer ikoe. Bocah itu goemoen, kagum tiada tara. Goemoen semakin menjadi saat melihat di luar: ... weroeh wit-witan pada mlajoe-mlajoe kaja lagi pada boeron. Pohon-pohon terlihat seperti berlari kencang. Sekian keajaiban terjadi saat naik kereta api. Girang dan "goemoen" cuma sesaat. Perjalanan selama hampir 11 jam membuat Saniki pusing dan muntah. Selama di kereta api, Saniki sedih. Kereta api malah bercerita derita bocah: pusing, muntah, lapar, dan lelah.

Kita ingin sejenak mengurusi kereta api itu kecepatan. Pada 17 Mei 1884, peresmian jalur kereta api Batavia-Bandung, melewati Bogor dan Cianjur. Bandung berubah gara-gara kereta api. Kecepatan mesin ajaib memindahkan orang dan barang dari kota ke kota. Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) mengingatkan dampak kereta api bagi penduduk Priangan. Kedatangan kereta api itu "atraksi mencengangkan." Pada masa 1930-an, "orang gunung" mesti turun ke Bandung berbekal nasi timbel atau leupeut-gorengan agar bisa menonton lokomotif dan gerbong mengular lewat. Mereka memberi sebutan "si gombar". Kereta api memang kecepatan dan keajaiban.

Puluhan tahun berlalu dari masa kolonial, jalur kereta api Jakarta-Bandung tetap jadi tema besar, mengalami perubahan-perubahan drastis. Di majalah Penka (1971), ada pembahasan kecepatan kereta api dan waktu. Di halaman tajuk, redaksi memberikan tulisan berjudul "Arti Projek Djakarta-Bandung 2,5 Djam." Hukum kecepatan dalam perjalanan kereta api dianggap prestasi. Para pejabat meresmikan kecepatan Kereta Api Pattas Parahijangan, 31 Juli 1971. Para pejabat senang, bertepuk tangan, dan bangga. Kebijakan "cepat" diharapkan membahagiakan warga saat menempuh perjalanan dengan kereta api. Mereka tak usah terlalu lama duduk di gerbong. Misi lanjutan: "Dari segi kepariwisataan, memungkinkan para turis jang waktunja sangat berharga untuk berkundjung ke objek-objek turis di sekitar Bandung, untuk selandjutnja pada hari itu djuga kembali ke Djakarta, setelah menikmati tempat-tempat rekreasi-tamasja jang disenanginja."

Kesuksesan pembangunan nasional di bidang perhubungan darat mulai dibuktikan melalui kereta api cepat Jakarta-Bandung. Cepat jadi mantra agar terjadi peningkatan etos kerja, pariwisata, dan investasi. Cepat berarti hemat waktu. Dalil cepat sampai tujuan sudah menepikan kenikmatan. Cepat mungkin tak pernah menghasilkan kenangan atas perubahan desa dan kota. Tatapan mata tak sempat sampai ke "serius" dan renungan. Peresmian kereta api cepat agak aneh saat Menteri Perhubungan Frans Seda berpidato. Sang menteri mengutip sastra di awal pidato, mengutip biografi dan puisi-puisi Chairil Anwar.

Apakah ada hubungan kereta api cepat dan si pujangga tenar? Frans Seda berkata: "... kita hidup sekarang dalam 1000 km sedjam." Kalimat meniru perkataan Chairil Anwar pada Ida. Publik sastra  ingat sesumbar Chairil Anwar: "Aku mau hidup 1000 tahun lagi!" Pidato Frans Seda  kalem: "Di bidang kereta api kita tjoba mentjapai sepersepuluh daripada ketjepatan dalam bidang kesusasteraan ini." Barangkali Frans Seda juga membaca puisi-puisi berisi pengalaman Chairil Anwar saat naik kereta demi mengejar estetika dan sang pujaan hati.

Penggalan-penggalan masa lalu mesti disimpan di lemari untuk dikunci selama 1000 tahun. Kini, Indonesia ingin cepat "banget". Kebijakan pembangunan kereta api cepat "banget" rute Jakarta-Bandung jadi "puisi besar" abad XXI. Cepat! Cepat! Cepat! Konon, kereta api cepat itu bisa dioperasikan pada 2021 meski bakal terganggu oleh kebijakan penghentian sementara segala kegiatan mulai 2 Februari 2020. Kelak, pemerintah, pengusaha, dan publik mungkin tak sempat lagi bersenandung lagu gubahan Ibu Soed. Orang tak gampang lagi menulis pengalaman naik kereta api. Cepat itu melampaui kenangan-kenangan kota, biografi, dan bahasa. Begitu.

 

Memetik laba di tengah pandemi corona

Memetik laba di tengah pandemi corona

Selasa, 31 Mar 2020 17:51 WIB
Nasib pekerja informal yang di ujung tanduk

Nasib pekerja informal yang di ujung tanduk

Senin, 30 Mar 2020 06:10 WIB
Berita Lainnya