Pajarakan

“Orang boleh mengatakan apa saja: jika mengeluh adalah dosa, menjadi budak (kehilangan tanahnya) adalah nasib sial.”

Pajarakan Dokumen pribadi Agus Rois.

“Berapa usiamu kemarin kau bilang?”

“Lima puluh enam.”

“Lebih tua dariku.”

“Siapa namamu?”

“Ketut Mutra.”

“Bagus. Setidaknya kau punya nama.”

“Ya.”

“Kamu komunis?”

Tak ada jawaban dari Mutra.

“Kamu komunis?”

Masih tak ada jawaban dari Mutra. Ia tetap diam.

“Sekarang buka mulutmu. Buka lebar-lebar, buka, setan desa!”

Ada kertas-kertas tipis dari Veda, dirobek dan dijejalkan ke dalam mulut Mutra.

“Ini makan Tuhanmu, anjing!”

“Lekas, katakan lambat-lambat, aku komunis.”

Tak sampai semenit, sebuah hantaman keras dari balok kayu besar mendarat di wajahnya. Darah keluar dari mulutnya.

“Kau bisu?”

“Tidak.”

“Apakah aku perlu mengiris lidahmu?”

Mutra tidak menyela lagi.

“Cepat, ucapkan pelan-pelan, aku komunis.”

Hening. Mulut Mutra masih mengatup.

Kemudian tiba-tiba terdengar suara memecah. Sebuah tendangan masuk mengenai dadanya. Mutra jatuh terjengkang, lehernya kaku serasa ada yang patah.

“Kau membuatku kesal, sialan.”

Hari sudah hampir gelap di kamar sempit itu.

Mutra yang telentang baru menyadari ketika kaki yang sangat besar menginjak kepalanya. Menekannya dengan kuat ke tanah.

Setengah sadar, ia mengigau, “Ah, Tuhan, bebaskan aku dari tempat ini...”

“Percuma, ini bukanlah surga, tak ada Tuhan, Tuhan sudah mati!”

Tangan Mutra masih terikat, ketika lehernya dijepit dengan lutut. Pada awalnya ia tak begitu menghiraukannya. Tapi ketika berliter-liter bensin dituangkan ke dalam mulutnya, ia gugup. Takut.

“Aku akan bakar mulutmu, istrimu, anak-anakmu! Jika masih tak mau mengaku komunis!”

Lelaki itu membuka kancing kantong bajunya, mengambil geretan dan memainkan ujung penutupnya, dan terdengar bunyi klik berkali-kali.

“Kau dengar yang tadi kukatakan?” masih kata lelaki itu. “Aku akan membantai keluargamu, membuat tubuh kalian jadi arang, dan kau bisa melihat kekejian itu dari jarak yang tak begitu jauh, dan kau mati penasaran sendirian.”

“Kamu komunis? Bekas anggota PKI? Ngaku kamu. Tak perlu bersikeras lagi.”

“Ya, ya, saya komunis.”

Nah, apa susahnya bilang begitu. Sejak kapan kamu jadi PKI?”

“Saya tak tahu.”

“Goblok! Bukan jawaban itu yang ingin saya dengar.”

Sambil mengatakan begitu, sang jagal itu bergegas menuju kamar sebelah. Lalu terdengar suara pistol dari dalam kamar.

Mutra hanya satu dari berpuluh-puluh warga Pajarakan yang mendapat perlakuan keji itu: dituding PKI! Dianggap subversif! Dirampas hidupnya –dan lahan yang sudah digarapnya sejak 1959. Berita itu tersiar di seluruh Bali mulai 1991. Lebih dari dua puluh lima tahun kemudian, warga Pajarakan, yang rata-rata miskin dan menderita, hidup di bawah kuasa perusahaan yang kejam, Prapat Agung Permai. Tanah bukan lagi hak mereka. Pohon-pohon bukan lagi milik mereka. Lahan mereka, dengan dalih pariwisata, diserobot paksa, dan akan dibangunkan gedung-gedung yang indah dan megah.

Namun itu tak pernah terjadi, dan kini seumur hidup mereka terus meratapi.

Mutra bercerita bagaimana ia dan tujuh warga yang memilih bertahan kala itu diinterogasi, dihajar, diseret masuk mobil yang membawanya, dalam keadaan diborgol. Di kantor polisi, mereka diancam jika tak mau melepas lahannya, mereka masih dipukuli, dan ditakut-takuti akan di-dor.

Negara –yang harusnya melindungi kelompok minoritas– menuduh mereka dengan keras, malah berpihak pada golongan aristokrat atau para pemodal. Dengan segera, orang-orang mulai menghirup udara perbudakan, ada yang putus asa dan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Mutra bercerita, dengan segala kepedihan yang dimilikinya, salah satu warga yang mati dengan menjirat leher adalah Pan Dayuh.

“Aku melihatnya sendiri di rumahnya, bagaimana ia tergantung. Mulutnya berbusa, lidahnya menjulur ke luar, matanya mendelik, lehernya pucat. Kedua tangannya terbelenggu, tak ingin mendekap siapa pun dan apa pun, entah pohon-pohon yang pernah dimilikinya atau Tuhan sekali pun. Aku masih bisa ingat persis suara tangis istri dan anak-anaknya sampai perlahan memudar... Pan Dayuh meninggal, dan aku ke sana hanya untuk merasakan kepedihan, nasib yang sial.”

“Orang boleh mengatakan apa saja: jika mengeluh adalah dosa, menjadi budak (kehilangan tanahnya) adalah nasib sial.”


Berita Terkait