Peramalan, peringatan dini, dan sosialisasi gempa

Saat ini para ahli gempa sudah dapat melihat dan memperkirakan lokasi yang memiliki potensi gempa.

Rovicky Dwi Putrohari

Rovicky Dwi Putrohari

Dewan Penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia

Gempa Palu-Donggala masih meninggalkan pilu dan kesedihan tetapi kehidupan harus tetap berjalan. Peristiwa fenomena bencana alam ini hanya berlangsung sekitar beberapa detik goyangan dan diikuti fenomena susulannya berupa tsunami dan likuifaksi mungkin hanya satu jam saja. Gempa susulan memang masih terus berlangsung, mungkin dalam beberapa pekan ke depan. Proses penyelamatan (resque) sudah dengan segera dijalankan dan saat ini pemulihan sudah mulai dijalankan.

Pertanyaan-pertanyaan selalu saja muncul, apa yang terjadi, bagaimana terjadinya? Juga sering muncul,
mengapa selalu saja setiap ada bencana kita selalu kaget dan merasa terlambat?

Peramalan

Kalau peramalan itu menyangkut di mana, berapa besarnya dan kapan terjadinya, maka mengatakan bahwa gempa tidak dapat diramalkan tidaklah 100% benar. Karena saat ini para ahli gempa sudah dapat melihat dan memperkirakan lokasi yang memiliki potensi gempa dan juga prakiraan besarnya potensi yang masih tersimpan.

Mirip sebuah ketapel yang ditarik, maka regangan batuan akibat gerakan tektonik itu terkunci (locked), dan akhirnya dengan mekanisme pemicu yang akhirnya melepaskan regangan, terjadilah gempa saat regangan dilepaskan. Selain dengan melihat lokasi-lokasi patahan yang diyakini aktif bergerak dalam catatan sejarah, dengan metode pengukuran geodetic dengan akurasi hingga millimeter, para ahli dapat melihat bagaimana lokasi pulau-pulau ini bergerak sehingga diketahui arah dan kecepatannya, selain itu juga diperkirakan di mana lokasi-lokasi yang terkunci tempat regangan terkumpul. Disitulah para ahli menyatakan adanya potensi-potensi gempa. Diketahuilah lokasi dan besaran potensi gempa.

Salah satu parameter yang masih dalam kajian studi para ahli gempa adalah bagaimana mekanisme kunci pemicu gempa ini sehingga potensi gempa ini terlepaskan. Sudah banyak kajian khusus, baik dari sifat batuan yang terkena regangan (stress), sifat fisiknya, kimiawinya (misal mengeluarkan gas Radon), juga sifat elektromagnetik akibat terkena regangan. Peralatannyapun tidak tanggung-tanggung bahkan sebuah satelit DEMETER pernah diluncurkan untuk riset ini elektromagnetik tahun 2004. Beberapa penemuan memang sudah mulai terlihat. Namun masih dalam taraf riset sains, belum dapat dikatakan sebagai metode yang tepat untuk peramalan. Apalagi sebagai alat peringatan dini. Belum. Belum dapat dipakai. Dan kita harus tetap bersabar dan menunggu.

Peringatan dini gempa 

Menyadari bahwa sains masih belum dapat menentukan kapan terjadinya gempa, berarti sistem peringatan dini gempa anggap sajalah tidak ada. Sehingga fenomena bencana gempa harus disikapi sebagai bencana yang memerlukan kewaspadaan ekstra dibandingkan kewaspadaan bencana alam lain yang lebih predictable.

Mengingat ada tiga aspek dalam peramalan gempa, lokasi dan potensi besarnya magnitude sudah dapat diketahui oleh para ahli gempa. Dengan demikian, dua parameter itu perlu dan bahkan menjadi sangat penting dianggap sebagai peringatan dini kejadian gempa. Lokasi-lokasi yang sudah diperkirakan oleh para ahli ini perlu disikapi khusus sebagai daerah rawan yang memerlukan kewaspadaan ekstra. Itulah peringatan dininya.

Goyangan gempa memang tidak membunuh, mungkin hanya seperti goyangan saat naik di atas kereta api yang sedang mengerem mendadak. Bukan goyangannya, tetapi akibat goyangan ini dapat menyebabkan benda berjatuhan atau bahkan meruntuhkan bangunan serta melongsorkan tebing-tebing curam.

Dengan demikian perlu disadari bila berada di lokasi-lokasi yang rawan gempa, perlu mengerti dan mengatur benda-benda supaya tidak mudah berjatuhan, membangun bangunan yang tahan gempa, serta memperkuat lereng-lereng sekitar supaya tidak mudah longsor.

Untuk siapa saja peringatan dini gempa ini ?

Dalam beberapa gempa yang sangat merusak, seringkali ikut merusak sarana komunikasi. Rusaknya sistem komunikasi ini menyebabkan tidak adanya informasi yang keluar dari lokasi gempa. Namun alat seismograf mampu mendeteksi dari jarak ribuan kilometer. Dengan demikian, baru diketahui ada sebuah kejadian gempa dengan magnitude yang sangat besar dengan skala MMI yang sangat merusak sudah dapat diketahui dengan segera di tempat lain. Sehingga deteksi alat seismograf ini saja semestinya sudah menjadi panggilan untuk petugas, pejabat serta relawan di tempat lain yang siap akan membantu dan melaksanakan tugasnya. Tanpa menunggu berita dari lokasi gempa.

Sosialisasi Gempa

Para ahli sudah meneliti, pemerintah sudah menyiapkan seandainya terjadi gempa. Namun tetap saja, KAGET!! Bahkan panik saat terjadinya gempa. Satu hal barangkali yang terlupa dalam pengurangan risiko bencana ini adalah sosialisasi. Benar sosialisasi sudah dilakukan oleh BNPB, oleh BMKG dan juga oleh relawan. Namu, hampir selalu muncul ocehan yang sama ketika ada bencana.

“Apa enggak pernah diteliti ?”
“Apakah enggak bisa diprediksi sebelumnya ?”
“Para ahli ini ngapain aja ?”
Yang mungkin juga mengherankan, seringkali, setelah kejadian banyak bermunculan tulisan atau artikel,
paper ilmiah yang menyebutkan dugaan atau kekawatiran yang terjadi. Para ahli yang pernah meneliti
mengeluarkan hasil kajiannya …. doh terlambat !!

Masalah Coomunication GAP

Ini sudah terlalu sering, memang bukan kesalahan para ahli saja yang tidak (belum sempat) mengkomunikasikan, namun juga masyarakat awam lebih banyak yang hanya pasif juga menerima, dan bahkan “pelupa“, atau bahkan ada yang sengaja hanya bertanya bahkan memberi info salah yang memperkeruh suasana dengan menebarkan hoax. Sehingga proses sosialisasi menjadi sangat terdistorsi.

Pendidikan dan pengajaran serta sosialisasi itu tidak ada batasnya. Jadi kalau merasa “pernah” melakukan sosialisasi itu bukan berarti sudah selesai tugasnya, karena yg dilakukan pasti tidak menjangkau semua elemen masyarakat, khususnya Indonesia sebagai negara besar, beragam dan terpencar.

Pengalaman saya tentang membicarakan gempa ini bukan yang pertama, selalu saja sudah yang kesekian kalinya. Isinya ya itu-itu saja. Bahkan berulang ulang. Namun, saya dengan ini justru menyelami bagaimana sulitnya guru itu mengajar. Membayangkan setiap tahun mengajar hal yang sama ke murid dan mahasiswa yang berganti-ganti. Memang bahan bertambah, ilmu pengetahuan berkembang. Demikian juga pengalaman saya mendongeng gempa. Ilmunya sedikit berkembang, fakta bahan yang dibicarakan bertambah, namun
masyarakat melalui media sering menanyakan berulang ulang. Tapi enggak boleh bosen.  Memang sosialisasi itu proses yang harus dilakukan terus-menerus. Ini bagian dari proses belajar mengajar. Tidak boleh berhenti!

Evaluasi dari sosialisasi

Sudah semestinya program sosialisasi ilmu dan hasil penelitian para ahli ini lebih diintensifkan. Dan persis seperti guru, kegiatan sosialisasi juga harus ada evaluasinya. Demikian juga sosialisasi bencana, perlu ada evaluasi, perlu survei umpan-balik, apakah benar masyarakat sudah sadar akan bencana di sekelilingnya?

Survei pemahaman dan kesadaran juga diperlukan supaya kita tahu apakah masyarakat dan juga pejabat setempat mengerti lingkungannya sendiri. Selain mengerti ancamannya juga harus tahu apa yang perlu dilakukan bila terjadi bencana. Perlu disadari juga, apakah kalau sosialisasi sudah dilakukan, masyarakat tidak akan bertanya-tanya “Mengapa gempa tidak bisa diprediksikan?”

Tidak ada jaminan !

Karena sosialisasi ilmu pengetahuan dan hasil penelitian itu bagian dari proses belajar. Itu terus berjalan walau sudah pernah dilakukan.


Kolom

Infografis