logo alinea.id logo alinea.id
M Fauzi Sukri

Politik kamera di zaman Instagram

M Fauzi Sukri Rabu, 13 Mar 2019 18:57 WIB

100 tahun yang lalu, seorang analis-politikus kiri cum novelis Semaoen (2000: 81) menulis satu peristiwa yang mustahil terjadi sekarang: “Kadiroen berdandan. Dengan pakaian palsu, ia menyamar seperti orang Arab, layaknya seorang mindring yang mengutangkan kain pelakat dan kain kebaya kepada penduduk desa. Dengan pakaian begitu, maka ia akan mendapatkan keterangan yang sebenarnya dari rakyat. Kadiroen akan mendatangi tiga atau empat desa dalam sehari di setiap onderdistrik. Dalam empat hari, pekerjaan itu akan bisa selesai.” 

Begitulah Wedono Kadiroen, dalam novel Hikayat Kadiroen (1919) karya Semaoen, menjadi pejabat yang selalu ingat keperluan rakyat di distriknya dan yang selalu bekerja untuk rakyat siang malam. Tapi dia harus menyamar saat melakukan kerja-inspeksi agar mata rakyat tidak melihatnya sebagai seorang pembesar yang menakutkan rakyat. Yang tertekan, terintimidasi, atau biasa dikibuli jarang memberikan informasi berani, jujur, dan apa adanya, yang terkadang justru bisa mencelakai mereka sendiri.

Para pejabat yang jujur dan hendak mengetahui realitas penghidupan rakyat sesungguhnya wajib menyamar, datang langsung, dan tidak boleh diketahui siapa pun, terutama orang-orang penjilat nan korup di sekelilingnya. Eksibisionisme politik itu buruk?

Warisan Erich Salomon

Kita ingat “bapak” foto jurnalisme dunia: Erich Salomon (1886-1944). Awalnya, orang Yahudi Jerman ini hanya rakyat biasa, tapi cukup kaya raya berkat warisan perusahaan keluarga. Namun, ekonomi Jerman tahun 1920-an ambruk akibat keharusan membayar sanksi Perang Dunia I. Pada usia 42 tahun, setelah gonta-ganti pekerjaan, Salomon menjadi juru kamera pemasangan iklan. Dari sini, Salomon melanjutkan kerja memotretnya terhadap apa yang disebutnya “foto human interest” kemudian dia jugalah yang mempopulerkan istilah “foto jurnalisme”. Fotonya mulai bermunculan di koran Eropa.

Awalnya, karena menggunakan kamera kecil Ermanox dan Leica daripada kamera besar profesional, Salomon dicemooh para wartawan-fotografer. Namun, Salomon justru bisa masuk ruang sidang pengadilan dan memotret melalui topi yang dilubangi.

Salomon mendapatkan foto ekslusif yang tak bisa dimiliki para fotografer dengan kamera profesional yang justru dilarang masuk ke ruang rapat akbar karena cahaya blitz dan ukuran kamera yang jumbo. Salomon pun sempat disebut sebagai “si tukang sulap” karena kelihaian dan ketajamannya. Dari sana Salomon naik menjadi fotografer handal koran Berliner

Foto jepretan Salomon memang gagal menghentikan ancaman perang baru (Perang Dunia II). Namun, sejak Salomon menggunakan kamera kecil, terjadilah revolusi teknik memotret politikus.

Sejak Salomon, bukan lagi zamannya memotret politikus dalam posisi pose dengan senyum gagah, seperti lukisan pada abad sebelum kamera. Dengan kamera kecil, cepat, dan hampir tanpa suara, para politikus dibiarkan terbebas dari pose dan bisa terpotret dalam ekspresi alami. Hasil jepretannya memukau rakyat, tapi ditakuti politikus.

Berkat Salomon, kita tahu bagaimana menteri luar negeri Inggris yang terkenal dingin nan diplomatis ternyata berdiskusi dengan penuh emosi. Begitu juga, rekan-rekannya dari Jerman dan Prancis terdengar seperti murid nakal yang sedang berdiskusi.

Berkat Salomon, kita melihat foto perdana menteri yang murka atau wakil rakyat yang sedang tertidur dalam pembahasan undang-undang, dan seterusnya. Foto-foto Salomon, yang diterbitkan dalam buku Tokoh-Tokoh Besar di Saat Lengah, berhasil menguak kedok dan muslihat politikus—karya ini pernah dipamerkan di Goethe-Institut, Jakarta, pada Oktober 1992 (TEMPO, 24 Oktober 1992).

Zaman Mahafoto

Tentu saja, sekarang kita memasuki abad mahafoto. Politikus sangat sadar mahakuasa fotografi. Eksibisionisme fotografis memang pernah ditakuti para politikus, terutama jika dilakukan dengan gaya Erich Salomon. Tapi, di abad mahafoto dan zaman digital, foto adalah mahacandu eksibisionistik penuh kuasa yang bisa melesatkan karier jabatan politik. Kerja politik sangat sering menghendaki kehadiran kamera. Strategi kerja politik ala Kadiroen yang tak mendamba kamera adalah tindakan bodoh.

Strategi seorang politikus milenial abad mahadaya kamera satu: potretlah aku sebanyak-banyaknya, terutama saat aku bekerja di lapangan (bukan di kantor), ayok kita selfie bersama-sama, dan sebarkan seluas-luasnya di seluruh media apa pun. Eksibisionisme kerja demi kamera itu sangat baik dan penting di zaman instagram—sang mesin penghasrat penuh nafsu foto. Mereka tahu apa yang tidak diketahui Erich Salomon: foto itu berkuasa dan boleh direkayasa bersama-sama rakyat. 

Namun, yang sering tidak disadari adalah bahwa kita kehilangan kata, atau kata-kata termarjinalkan, dikalahkan oleh kuasa visualitas fotografis. Visi-misi, yang paling artikulatif melalui kata, sekarang tidak cukup laku dibandingkan dengan foto aneh, selfie bersama, selfie di arena kerja outdoor, dan seterusnya. Para politikus cukup hanya perlu berfoto, berfoto, berfoto bersama, disebarkan di jalanan, di media sosial, atau di media besar lainnya. Tanpa kata-kata visioner. Mahakuasa kamera-foto! 

Itu sudah terjadi sejak zaman Erich Salomon. Apa yang dihasratkan Erich Salomon dengan memisahkan antara foto pose dan foto alami tidak sepenuhnya berhasil. Saat Hitler menguasai Jerman, foto politik digunakan sebagai salah satu propaganda yang ampuh. Tiap politikus mutakhir tentu saja paham kuasa visual fotografi, tanpa perlu membaca biografi Hitler.

Benar apa yang dikatakan Jean Baudrillard (2001: 121): “Keajaiban fotografi, atau yang kemudian disebut sebagai gambar objektif, adalah pengungkapannya atas dunia non-objektif secara radikal...Lewat permainan teknik visual yang tak realistik, foto mengiris-iris realitas, imobilitas, ketenangan, dan mereduksi gerakannya secara fenomenologis.

Fotografi menegaskan dirinya sebagai eksposisi gambar yang paling murni sekaligus artifisial.” Foto adalah kenyataan tapi sekaligus mengandung kebohongan inheren berkat daya kuasa persepktifnya yang sangat tajam. Butalah tiap mata-pikiran yang tak menyadari daya ilusif foto. 

Tapi, siapa yang peduli kata-kata Jean Baudrillard itu di zaman Instagram, di masa hampir semua orang punya kamera dan akun media sosial. Mahadaya kamera-foto!