logo alinea.id logo alinea.id
Bandung Mawardi

Seragam: Masa lalu dan Orde Baru

Bandung Mawardi Rabu, 17 Jul 2019 20:00 WIB

Jutaan murid di Indonesia masuk sekolah sejak Senin, 15 Juli 2019. Mereka mengenakan seragam lama dan baru. Seragam menandakan mereka memiliki identitas sebagai murid. Seragam pun memberi gengsi dan penguatan misi berilmu. Seragam memiliki sejarah panjang, sebelum selalu dipikirkan sebagai bisnis atau tertib-rapi di sekolah. Seragam masih masalah saat kita mulai melupa seragam dalam biografi tokoh dan sejarah pendidikan di Indonesia masa lalu. Kita ingin mengenang seragam, sebelum mendapat berita mengenai bisnis seragam meraih untung besar di tahun ajaran baru. 

Pada suatu hari, si bocah yang bakal mengubah sejarah Indonesia diantar sang bapak, dari Kemusuk dan Wuryantoro. Peristiwa demi sekolah dan masa depan. Bocah bernama Soeharto dititipkan ke keluarga paman-bibi. Perkataan bapak dalam serah-terima: “Saya menyerahkan Soeharto kepadamu. Silakan asuh. Saya kuatir, kalau dia terus tinggal di Kemusuk, dia tidak akan menjadi orang. Saya sangat bersyukur jika anak ini memperoleh pendidikan dan bimbingan yang baik.”

Soeharto menurut segala kebijakan bapak. Ia sadar semua hal dikerjakan untuk bisa bersekolah dan mengubah nasib meski Indonesia masih bercerita negeri jajahan. 

Di sekolah, Soeharto senang semua pelajaran. Ia paling tangguh dalam pelajaran berhitung. Kepintaran itu dipuji teman dan guru. Puluhan tahun dari sekolah rendah, Soeharto terbukti mahir berhitung untuk kekuasaan dan sejarah “baru” di Indonesia. Soeharto mengenang juga memiliki kesungguhan dalam pelajaran agama.

Lulus dari sekolah rendah, Soeharto melanjutkan ke sekolah lanjutan rendah di Selogiri. Sejak bocah sampai remaja, Soeharto ada di ketegangan nasib untuk sekolah. Kita membaca nostalgia beliau: “Setelah menamatkan sekolah schakel Muhammadiyah sebenarnya saya masih ingin melanjutkannya. Tetapi, baik ayah saya maupun keluarga lainnya tidak ada yang sanggup membelanjai saya sekolah. Keadaan ekonomi keluarga kami rendah sekali. Saya masih ingat saja akan apa yang dikatakan ayah saya waktu itu: ‘Nak, tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Dari sekarang kamu sebaiknya mencari pekerjaan saja. Dan kalau sudah dapat insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri.’” (G Dwipayana dan Ramadhan KH, Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, 1989).

Kita terharu dengan pengalaman masa kecil-remaja Soeharto. Kutipan di buku itu mengesankan Soeharto berasal dari keluarga miskin tapi tekun belajar dan memiliki watak berani membentuk masa depan.

Ia menunaikan sekolah meski “rendah” dan bertekad menunaikan segala hal untuk hidup bermartabat. Kenangan saat sekolah memang tak lengkap. Kita belum mendapat pengisahan mengenai baju-celana dikenakan Soeharto. Dulu, murid-murid mungkin belum memiliki seragam. Mereka belajar ke sekolah mengenakan pakaian pantas asal masih mengumumkan identitas kaum bumiputra. Seragam kemungkinan belum ada jika kita berpikiran anggaran, bahan pakaian, dan kebijakan politik identitas di masa kolonial.

Pengalaman masa lalu menjadi referensi dalam membuat kebijakan pendidikan-pengajaran selama Orde Baru. Soeharto ingin bocah-bocah di seantero Indonesia bisa sekolah: SD dan SMP. Dua jenjang itu dicap wajib belajar. Jutaan orang Indonesia miskin. Soeharto tetap ingin bocah-bocah dari keluarga miskin wajib sekolah.

Pemerintah mengurusi pelbagai hal untuk kesuksesan tujuan pendidikan nasional. Semua program diselenggarakan demi pemenuhan kalimat-kalimat di konstitusi. Soeharto sadar dengan wajib melaksanakan dan menghasilkan mutu. Kita ingat saat belajar di sekolah, pemerintah “meminjamkan” buku pelajaran. Sekian orang mengingat itu buku paket cap pemerintah: dipinjamkan untuk dikembalikan. Kerja besar berurusan buku pelajaran dilaksanakan Depdikbud.

Ongkos sekolah pun diusahakan murah alias terjangkau. Pada masa Orde Baru, kebijakan harus dibuktikan agar bocah tak lagi mengalami nasib seperti Soeharto saat masih bocah.
Ingatan agak tak lengkap adalah seragam.

Sejak masa 1970-an, murid-murid ke sekolah mengenakan seragam khas: SD (merah-putih), SMP (biru-putih), dan SMA (abu-abu-putih). Seragam kadang dianggap mahal. Keluarga miskin bersiasat agar seragam itu awet. Bocah dilarang untuk melakukan peristiwa sembrono mengakibatkan baju atau celana robek.

Di rumah, seragam itu “disakralkan” sebagai benda bakal mengubah nasib atau biografi bocah di naungan janji pembangunan nasional. Seragam merah-putih mungkin bisa dikenakan selama 3-4 tahun asal raga bocah tak cepat besar. Anggaran seragam dibuat ngirit. Selama 6 tahun di SD, bocah mungkin cuma memiliki dua pasang seragam merah-putih. Miskin dan gagal membeli bisa diatasi dengan mencari seragam bekas biasa dilungsurkan. 

Imajinasi seragam murid SD masa Orde Baru tampak di sampul buku terbitan Depdikbud. Rezim Soeharto tak ingin murid SD kumal. Mereka diajarkan kebersihan dan kerapian berkaitan busana. Di buku, seruan seragam itu cepat menular dan memberi impian terindah bagi murid di keluarga miskin.

Kita melihat gambar di sampul buku Bahasa Indonesia 1a: Belajar Membaca dan Menulis (1976). Tiga bocah duduk sedang belajar. Lihatlah, tampilan bocah perempuan berseragam putih dan rambut dikucir. Ia mengenakan sepatu hitam. Penampilan mengandaikan si bocah dari keluarga mapan. Ada pula bocah lelaki berbusana rapi: celana dan baju putih. Ia bersepatu warna putih. Tas masih menggantung. Rambut disisir rapi. Di tengah, bocah paling kecil sedang diajari membaca. Gambar di sampul itu memastikan tiga bocah dengan dua berpenampilan murid berlatar keluarga mapan, bukan mengisahkan keluarga miskin di Indonesia.

Kita berganti ke tampilan di buku Bahasa Indonesia 3c: Bacaan (1975). Tiga bocah mengenakan seragam. Mereka berangkat ke sekolah. Wajah-wajah ceria dan adegan mengesankan bersemangat. Suasana pagi membuat mereka secerah matahari dan sesegar embun. Tiga bocah bersaudara? Di depan, bocah perempuan mengenakan rok dan baju berlengat menggelembung. Rambut berpita. Di tengah, bocah paling kecil. Rambut pendek dan rapi. Ia bercelana pendek. Di belakang, bocah terbesar. Tampilan rapi. Pembeda cuma tas. Kita berimajinasi bawahan berwarna merah dan atasan berwarna putih. Tiga bocah itu mengenakan sepatu berwarna putih. Gambar dibuat oleh Suyadi (Pak Raden). Kita pastikan Soeharto saat bocah belum pernah mengenakan seragam bersih dan rapi. Gambar mungkin menerjemahkan impian Soeharto agar semua murid SD di Indonesia necis, mengartikan sadar kebersihan, kerapian, dan keindahan.

Kita lanjutkan ke gambar di sampul buku berjudul Bahasa Indonesia 6a: Pelajaran Bahasa (1981). Kita tetap melihat ada tiga bocah. Kita menduga tiga bocah itu berbeda dari tiga bocah di buku kelas 1 dan 3. Mereka tampak besar. Tiga murid sebagai teman, bukan bersaudara. Gambar mengisahkan bahwa belajar tak harus selalu di dalam kelas. Pada masa Orde Baru, Soeharto terus memerintahkan agar mendirikan sekolah sampai ke desa. Fasilitas ingin dilengkapi atau ditambahi demi mutu pendidikan. Kelas menjadi bukti keseriusan pemerintah mengadakan pendidikan modern. Di kelas, ada sekian benda berkhasiat: papan tulis, meja, dan kursi. Kelas itu menjadi tempat menentunkan nasib bangsa dan negara.

Di situ, kita berimajinasi murid-murid SD bisa belajar di luar kelas. Mereka memilih belajar bersama di taman atau kebun. Di atas rumput dan bunga-bunga, mereka duduk membaca buku dan bercakap. Di sampul buku, dua murid duduk di atas rumput. Di belakang, ada murid berdiri dengan wajah semringah. Suasana belajar memang dianjurkan girang, menjauhi lesu dan malas. Pada masa Orde Baru, kegembiraan belajar bakal membuat penguasa dan para pejabat senang. Belajar itu penting. Belajar itu menggembirakan. Murid-murid dengan seragam bagus tentu belajar serius. Mereka menjadi pihak menentukan untuk kemajuan Indonesia. Soeharto memberi amanah ke mereka.

Soeharto mungkin bangga melihat murid-murid di Indonesia semua mengenakan seragam dalam belajar di sekolah. Seragam mungkin berpengaruh menjadikan bocah tertib, disiplin, taat, dan pintar.

Pada abad XXI, kita mulai tak menjadikan seragam itu masalah. Pihak pemerintah dan sekolah partikelir memastikan murid “wajib” berseragam demi kemuliaan pendidikan. Warna seragam masih sama untuk SD, SMP, SMA. Perbedaan adalah kebijakan sekolah di hari pilihan untuk mengenakan busana batik atau kotak-kotak sebagai penguatan identitas bersama di sekolah.

Di sekolah-sekolah partikelir, pengenaan seragam tetap wajib tapi mendapat imbuhan setiap hari. Murid-murid dianjurkan mengenakan busana berbeda setiap hari. Konon, busana itu sanggup diadakan oleh sekolah dan orang tua. Anggaran memang besar tapi pesona seragam atau busana khas memastikan lakon pendidikan di Indonesia tampak di mata.