close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Johnny Pinot. Foto: Dok pribadi
icon caption
Johnny Pinot. Foto: Dok pribadi
Media
Selasa, 06 Februari 2024 08:47

Petualangan Johnny Pinot, dari toko olahraga hingga ke makam Belanda

Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim adalah salah satu follower @pinotjohnny. Ia bahkan pernah menindaklanjuti konten Johnny.
swipe

Lama-lama Johnny Pinot tidak sabar juga. Anaknya, yang lulusan universitas multimedia itu sedang sibuk. Ia tak sempat mengerjakan permintaan Johnny mengeditkan videonya meski berkali-kali ditagih. Situasi itu membuat Johnny berpikir untuk mengerjakan videonya sendiri. Yang jadi masalah, pria 54 tahun itu sama sekali tidak tahu caranya.

Johnny toh tidak cepat putus asa. Semangatnya masih besar untuk menayangkan videonya di media sosial. Apalagi istrinya ternyata memberikan solusi. Ia mengajari Johnny mengedit video langsung di Instagram.

"Kalau istri kan sering dong sama teman-temannya lagi jalan ke restoran bikin reel Instagram. Dia ngasih tahu, nih bikinnya tuh begini. Masukin video begini dan lain-lain. Selebihnya saya belajar sendiri aja. Video yang dimasukin dipotong, dikasih tulisan. Sekitar seminggu belajar, dari editannya kasar sampai sekarang jadi lebih halus rapih. Tetapi saya edit sederhana saja, tidak pakai efek macam-macam," ungkap Johnny.

Johnny membuat akun Instagram mulai 2019. Seperti kebanyakan orang, akunnya itu ia pakai untuk memajang foto kesehariannya saja. Tetapi, di penghujung 2022, Johnny tergelitik membuat konten yang informatif dan bisa dinikmati banyak orang.

Ini berawal dari 'kegabutannya' selepas mengantar salah satu anaknya yang bersekolah di sebuah SMP dekat Kebun Raya Bogor. Ada jeda antara waktunya mengantar sekolah dengan mengurus toko olahraganya yang berada di Jalan Merdeka, Kota Bogor. Waktu luang itu ia manfaatkan untuk blusukan dan membuat konten.

"Habis mengantar ke sekolah, kan malas pulang lagi. Saya buka toko jam sembilan, jadi dari jam tujuh ke jam sembilan, saya jalan ke mana saja. Ke pasar, keliling Kebun Raya, ke kali, kemana saja saya jalan. Dari situ bikin konten pertama, iseng. Ternyata yang nostalgia orang suka. Akhirnya saya cari-cari terus (bahan konten)," kata Johnny.

Johnny akhirnya sering naik motor, kadang membawa mobil sendirian mendatangi tempat yang menarik untuk ia liput kemudian mengunggahnya di Instagram. Aktivitas itu biasanya juga ia lakukan setelah selesai menjaga tokonya. Johnny memang sudah keranjingan jadi konten kreator.

Foto: Johnny Pinot

Salah satu konten pertamanya adalah tentang toko-toko yang masih menggunakan papan sebagai penutup etalase. Video yang ia ambil di pertokoan Jalan Merdeka itu mengundang banyak pemirsa dan ribuan tanda suka. Johnny pun jadi semangat.

Selanjutnya dengan kontennya, Johnny seperti mengupas satu per satu lapisan zaman di sudut-sudut kota dan juga kampung yang masih meninggalkan jejak Bogor masa silam. Ia berpetualang dari memotret kisah pedagang opak tua yang bertarung mencari nafkah di tengah kota, sampai cerita sebuah tugu lonceng yang dibuat Belanda tahun 1752 yang masih ada di daerah Cilebut.

Konsistensi Johnny

Selalu ada konten baru setiap hari di Instagramnya. Pada 2023, menurut Johnny, ia hanya 'bolos' unggah konten tiga kali. Konsistensi ia jaga hanya karena dapat ‘bisikan’ bahwa ia harus mengunggah konten setiap hari. Ini demi melayani alogaritma Instagram agar follower naik.

"Makanya hampir setiap pulang dari toko, saya cari konten. Kadang sekali jalan bisa dapat dua atau tiga konten. Sudah sekian bulan jalan, kalau enggak ngonten, jadi kaya ada yang kurang,” ungkap Johnny.

“Tetapi 2024 ini sudah berapa kali bolos sih. Cuma yang saya baca (tentang tutorial IG) lagi kalau follower udah banyak enggak usah tiap hari. Jadi saya ikuti,” tambah Johnny sambil terkekeh.

Alat perang Johnny praktis hanya satu. Ia mengandalkan iPhone 13. Mengambil gambar dan mengedit semua dilakukan dengan hape itu. Untuk menghasilkan video yang ciamik di Instagram, hapenya itu memang cukup oke. Gambarnya tajam, dan transisinya halus saat mengambil video dengan teknik tilting atau panning. Ini membuat Johnny tidak perlu repot-repot membawa stabilizer gimbal untuk ponselnya.

Video hasil liputannya biasa ia garap sekitar pukul Sembilan malam. Jika pukul 12 malam belum juga selesai, atau kalah dengan kantuk, Johnny melanjutkan pagi harinya. “Biasanya narasinya saya bikin pagi. Saya bangun pukul lima. Tetapi biar mau tidur juga kadang masih saya pikirin tulisannya apa,” katanya.

Yang sering memakan waktu baginya adalah memilih suara latar yang cocok untuk videonya.”Bisa satu jam saya milih lagu,” kata Johnny.

Meski mengedit dengan simpel, Johnny tidak asal-asalan soal urutan gambar dan narasi agar kontennya menarik ditonton. Ia memahami bahwa daya tarik satu konten harus diekspose di tiga detik pertama, sehingga penonton mau mengikuti sampai habis.

“Awalnya saya bikin secara urutan, tapi akhirnya saya tahu harus menampilkan langsung objeknya yang menarik di depan video. Judulnya juga harus menarik. Di tiga detik pertama harus ada tulisan yang bikin orang mau terus baca,” kata Johnny. Semua pengetahuan itu ia pelajari dari praktik langsung dan membaca.

Menggeluti lebih serius dunia konten memang hal baru. Tetapi, Johnny memang sudah lama senang dengan dunia informasi. Sejak SMP, ia suka membaca buku dan majalah, serta koran milik pamannya. Sejak itu ia terkagum-kagum dengan profesi penulis atau pencerita.

“Dari kecil saya suka baca buku, majalah, koran. Saya lihat penulis itu hebat menurut saya waktu itu. Karena, penulis bisa ngasih tahu orang tentang sesuatu yang orang enggak tahu. Penulis itu pikirannya bisa tumpah dalam tulisan, dan enggak semua orang bisa nulis,” ungkap Johnny yang saat SMA menjadi pengurus majalah dinding di sekolahnya.

Johnny sendiri pernah menjadi mahasiswa di fakultas MIPA Universitas Padjajaran. Namun ia harus pulang ke Bogor karena permasalahan keluarga dan tidak bisa melanjutkan kuliah di sana. Kemudian ia pindah ke Universitas Pakuan dan bergabung di Fakultas Hukum. “Hanya sampai semester lima,” kata Johnny.

Kini sehari-hari ia sibuk dengan toko olahraganya. Sebelum membuat konten di Instagram, ia hanya sesekali menulis di Bogordaily.net, media yang ikut ia gawangi, setelah diajak temannya untuk bergabung empat tahun lalu. Di media itu, Johnny duduk sebagai Dewan Redaksi.

Sebelum fokus mengembangkan Instagram sendiri, Johnny beberapa kali mencoba menyuplai konten videonya untuk medsos di media tersebut, namun “tidak pernah naik, mungkin enggak bagus,” katanya. Ia maklum video yang ia buat kurang menarik. Namun sekarang, videonya justru sering ditagih.

Diserang netizen julid

Sekarang, Johnny memiliki sedikitnya 76 ribu follower di Instagramnya @pinotjohnny. Di profil bionya ia menulis, "Bogor Tempo Dulu, Kuliner Bogor Legendaris, Social Life."

Johnny tidak menyangka konten ‘Bogor tempo dulu’ yang ia buat cukup mendapat atensi hingga menarik ribuan follower. Padahal, ia sempat ragu apakah bisa mendapatkan terus bahan untuk kontennya yang mengangkat tema sejarah. Khawatir mudah kehabisan stok liputan, ia kemudian menambahkan tema kuliner jadul, dan sesekali meliput human interest, misal pedagang, yang ia temui di jalan.

Tapi seiring waktu, Ia banyak mendapat info yang menarik dari para pengikut Instagramnya yang bisa ia follow up.”Ternyata konten enggak habis-habis,” katanya. Kontennya pun semakin kaya karena ia akhirnya bisa berkenalan dengan para penggiat sejarah Bogor, dan Johnny bisa bertanya-tanya soal sejarah kepada mereka.

Karena sering mengangkat konten yang terkait sejarah, Johnny mengaku sering dianggap paham sejarah. Ia kadang menerima pertanyaan dari netizen. Padahal, ia baru mulai belajar sejarah sambil membuat konten Bogor tempo dulu. “Tetapi, makin saya belajar, makin mengasyikan,” katanya.

Sejumlah gedung pemerintahan di Kota Bogor, adalah target Johnny. Ia tinggal meminta izin, secara tertulis untuk masuk dan mengambil gambar. Namun, kadang sempat ditolak karena dicurigai ingin bikin konten uka-uka alias bertema mistis. Ia pun menjelaskan bahwa kontennya bersifat edukasi sejarah.

Dalam membuat konten, Johnny pada dasarnya memang hanya hobi membagikan informasi. Ada kepuasan tersendiri kalau mengetahui pengunjung instagramnya memberi testimoni positif setelah merasa mendapat informasi baru dari kontennya. Di kolom komentar, Johnny juga cukup aktif. Dan ia cukup paham dengan kultur anak milenial dan Gen Z di media sosial saat ini. Ia menyapa netizen dengan panggilan ‘Kak’.

“Kan itu orang banyak, saya enggak tahu orang itu sudah tua, atau masih muda. Kadang juga ada nama seperti laki-laki tapi ternyata perempuan. Biar aman panggil ‘Kak’ aja semua. Itu udah paling universal sih,” urai Johnny.

Tapi interaksi Johnny dan follower-nya tidak selalu adem. Johnny juga mengaku pernah menjadi korban bully karena mengangkat data atau narasi yang ternyata dianggap salah. “Netizen julidnya minta ampun. Salah sedikit saja langsung dibully , ‘enggak usah bikin konten sejarah’, katanya. Segala macam lah. Akhirnya saya pikir, kalau konten sejarah enggak usah terlalu detil. Yang penting orang tahu, misal di sini ada makam Belanda, jadi orang tahu aja dulu. Enggak usah kita cerita yang panjang-panjang. Soalnya salah sedikit aja, dibully ‘jangan sok-sokan ngonten sejarah’. Begitulah pokoknya,” papar Johnny.

Foto: Johnny Pinot

Tertarik YouTube

Istri Johnny yang awalnya mengajarinya mengedit video pernah komplain. Johnny dianggap terlalu banyak menghabiskan waktu mengurus konten Instagramnya. Tetapi belakangan Sang Istri melihat manfaatnya karena kenalan Johnny semakin luas dan kontennya mulai menghasilkan.

Wakil Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim adalah salah satu follower @pinotjohnny. Ia bahkan sampai tergerak menindaklanjuti konten Johnny soal makam pelukis Belanda sahabat Bung Karno, Ernest Dezentje (1885-1972) yang terbengkalai di tengah perkampungan. Setelah melihat konten itu, Dedie membawa Kadis Permukim Kota Bogor ke makam tersebut untuk rencana pembenahan.

Konten-konten Johnny juga membuat seorang warga Belanda Sven Verbeek Wolthuys menghubunginya untuk menyambangi sejumlah bangunan peninggalan Belanda di Bogor. Jannus adalah keturunan ke-7 Jannus Thedorus Bik (1796–1875), seorang tuan tanah Cilebut, Ciluar, Cisarua dan Tanah Abang. Dia pengarang buku 250 Years in Old Jakarta.

Perkembangan ini semakin membuat Johnny semangat.  Selain reputasi, berkembangnya jumlah follower dan konten yang semakin banyak, juga mulai mendatangkan tawaran endorse. Awalnya Johnny menolak karena ia menganggap klien yang datang rata-rata tidak cocok dengan tema Instagramnya yang mengusung tema ‘Bogor tempo dulu’. Tetapi akhirnya ia terima dengan membuatnya menjadi konten kreatif. Ia membuat gift way terkait kliennya untuk para follower.

“Kalau saya dapat endorse, saya bagi lagi ke follower. Misal saya dapat Rp1.2 juta, yang Rp600 ribu saya bagi ke follower,” kata pria berkaca mata itu. “Nilai endorse sebulan belum sebesar seperti yang lain. Tetapi ada beberapa,” imbuh dia.

Menjalani aktivitas sebagai konten kreator tentang Bogor tempo dulu, bagi Johnny adalah hobi yang mengasyikan. Maka itu ia mengaku tidak terlalu memikirkan soal monetisasi konten-kontennya. Namun belakangan ia mulai menjajaki kemungkinan merambah YouTube. Ia tergelitik oleh ucapan seorang pakar media sosial yang ia temui bahwa YouTube lebih menjanjikan dibanding Instagram.

“(Monetisasi) perlu juga. Kalau saya dapat duit dari YouTube, kan saya jadi makin semangat dong untuk cari-cari lagi yang lebih menarik. Video mungkin bisa dibuat lebih bagus dengan sinematografi dll,“ jelasnya.

Tantangannya, bagi Johnny tinggal bagaimana membuat video dengan durasi yang lebih panjang. Johnny mengaku perlu belajar banyak hal baru tentang YouTube, termasuk urusan mengedit video. Skill yang tidak ia kuasai sama sekali ketika awal membuat konten bertema Bogor tempo dulu di Instagram.

“Ya itu saya mau coba. Saya perlu belajar lagi,” katanya.

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan