close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Rumah jurnalis Victor Mambor menjadi sasaran serangan bom di Papua. Foto Voice of America-YouTube
icon caption
Rumah jurnalis Victor Mambor menjadi sasaran serangan bom di Papua. Foto Voice of America-YouTube
Media
Kamis, 26 Januari 2023 15:09

Kesaksian Victor Mambor ihwal bom rakitan meledak dekat rumahnya

Tetangga yang tinggal satu kompleks dengannya, sampai yang jauh-jauh juga, pagi-paginya mereka datang bertanya.
swipe

Serangan bom terjadi di rumah jurnalis Papua Victor Mambor. Kejadian itu sekitar pukul 04.00, Senin (23/1), sebuah alat peledak rakitan diledakkan di luar rumah Mambor di Jayapura, ibu kota provinsi Papua.

Mambor, editor dan pendiri situs berita independen lokal Jubi.id dan kontributor reguler BenarNews yang berafiliasi dengan Radio Free Asia, masih terjaga ketika bom meledak. Ia mengatakan bahwa tidak ada yang terluka dalam ledakan tersebut dan rumahnya tidak rusak.

Victor menguraikan kronologi kejadian tersebut:

"Malam, tanggal 23 Januari 2023, saya terbangun sekitar pukul 2 dini hari. Kemudian saya coba buka komputer untuk mengerjakan sesuatu. Sekitar dua jam kemudian, saya masuk ke dalam rumah (karena ruang kerja saya di luar). Saya tidak boleh merokok di dalam rumah, jadi saya bekerja di teras. Saya lalu menonton televisi. Itu sekitar pukul 4 pagi," katanya dalam Konferensi Pers Komite Keselamatan Jurnalis: Menyikapi Teror Bom pada jurnalis Papua Victor Mambor, Selasa (24/1).

Tidak lama kemudian, katanya, dia mendengar bunyi sepeda motor, terus suara kendaraan itu hilang. Dua menit setelah itu, karena tidak jauh dari tempat dia nonton TV, hanya terpisah satu kamar dengan jalan itu, Victor mendengar ada orang menyalakan motor dengan starter tangan seperti cara biasa menyalakan sepeda motor jenis matic.

"Terus motornya jalan, kalau motor matic 'kan setelah distarter biasa langsung jalan?! Tidak sampai satu menit dari motor itu berlalu, langsung terdengar bunyi ledakan. Bunyinya besar sekali. Saya juga kaget karena tidak seperti biasanya. Saya biasa main petasan atau tembak-tembakan tidak seperti itu (bunyinya). Ini besar sekali bunyinya," cetusnya.

Tetangga yang tinggal satu kompleks dengannya, sampai yang jauh-jauh juga, pagi-paginya mereka datang bertanya: "Yang meledak apa?" Hampir semua tetangga dan Victor sendiri awalnya menyangka itu gardu listrik yang meledak karena sudah beberapa kali terjadi sebelumnya. Tapi saat itu dia melihat tidak ada api.

Victor belum langsung keluar rumah selepas ledakan. Dia masih melihat dari dalam rumah. Karena angin bertiup ke arah yang berlawanan dari jendela tempat dia menjenguk itu, jadi asapnya semua tersebar ke ruangan. Tapi dia sama sekali tidak melihat ada asap.

"Setelah saya tutup jendela, saya mau nonton TV lagi, saya sebenarnya tidak terlalu peduli. Tapi saya dengar orang ramai di luar, para tetangga. Akhirnya saya keluar juga. Saat keluar, saya mencium bau belerang dan asap masih kelihatan banyak sekali. Tetangga sudah pada melihat ke tempat kejadian.

"Mereka bilang masih ada asap dan masih ada nyala tapi bukan api seperti bara, kalau belerang terbakar itu kelihatan seperti nyala api. Di situ saya baru sadar bahwa itu bukan petasan, bukan sesuatu yang tidak direncanakan. Ini perbuatan yang disengaja. Saya ambil senter, saya lihat, jalan itu berlubang, dalamnya hampir dua centimeter. Padahal itu aspal concrete, perkerasan, karena proses pengaspalan jalan itu saya tahu.

"Terus saya lihat ada banyak seperti serat-serat ternyata itu sumbu. Jadi pakai sumbu kompor, menurut saya. Itu kelihatan. Ada satu yang masih cukup panjang, yang lain sudah sisa-sisa seratnya. Dan ada juga plastik terbakar. Dari situ, saya yakin bahwa itu bukan petasan," ujar Victor.

Menurut pendapatnya, peristiwa kali ini hampir sama dengan kejadian waktu mobil dia dirusak dulu). Modusnya sama. Ada kendaraaan berjalan ke arah atas (jalur jalan yang lebih tinggi), mematikan motor, meluncur, kemudian merusak mobil, lalu jalan lagi.

Victor mengungkapkan, ledakan bom terjadi di saat malam masih cukup gelap, ada plastik yang terbakar, tampak juga ada sumbu kompor, sisa-sisa serat asbes.

"Karena Kapolresta Jayapura ini adik-adik saya dulu ya. Jadi saya memberitahu mereka. Mereka lantas mengirimkan anggota kepolisian," pungkasnya.

img
Arpan Rachman
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan