sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pencipta kartun Panji Koming di harian Kompas meninggal

Tokoh kartun Panji Koming muncul di harian Kompas sejak 4 Oktober 1979. Kritik sosial lewat kartun tak pernah absen selama 40 tahun.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Kamis, 22 Agst 2019 10:35 WIB
Pencipta kartun Panji Koming di harian Kompas meninggal

Dwi Koendoro Brotoatmodjo, pencipta tokoh kartun Panji Koming yang muncul setiap hari Minggu di harian Kompas meninggal. Ia berpulang pada usia 78 tahun di Rumah Sakit Premier Bintaro, Tangerang Selatan pada Kamis, (22/8) pukul 03.14 WIB.

“Satu demi satu tokoh yang ikut membesarkan nama Harian Kompas berpulang. Subuh tadi giliran Dwi Koendoro Brotoatmodjo,” tulis Irwan Julianto, mantan jurnalis Kompas, di akun media sosial Facebook miliknya pada Kamis, (22/8).

Irwan mengisahkan, sosok pria yang akrab disapa Dwi Koen itu merupakan salah satu yang membesarkan nama harian Kompas lewat tokoh kartun ciptaannya, Panji Koming. Tokoh kartun ini muncul di harian Kompas sejak 4 Oktober 1979. Adapun karya terakhirnya dimuat di Kompas Minggu, 18 Agustus 2019.

“Nyaris 40 tahun kartun ini tak pernah henti hadir hampir setiap hari Minggu, menyampaikan kritik-kritik sosial,” kata Irwan.

Irwan menuturkan, karya terakhir Dwi Koen yakni Pailul menatah batu bertuliskan ‘Selamat Jalan Pak Swan’. Karya tersebut ditujukan untuk Policarpus Swantoro, Wakil dan tandem pendiri harian Kompas, Jakob Oetama, yang wafat sepekan sebelumnya.

“Saya selalu terkenang pada derai tawa dan keramahan Mas Dwi Koen. Ia kartunis dan animator genius,” ujar Irwan mengenang.

Irwan mengatakan, talenta Dwi itulah yang kemudian menurun kepada tiga putranya dari pernikahannya dengan Hurian Dewasih, yaitu Wahyu Ichwandardi, Waluyo Ichwandiardono, dan Alfi Ichwandito. Salah satu dari mereka, yakni Wahyu yang biasa dipanggil Pinot, bereputasi sebagai animator kelas dunia. 

Dwi Koen lahir di Banjar, Jawa Barat pada 13 Mei 1941. Pria yang sejak kecil tergila-gila pada film itu merupakan lulusan Sekolah Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta. Ia sempat dua tahun berkuliah (1963-1964) di jurusan grafis Akademi Seni Rupa Indonesia atau yang kini berganti jadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sponsored