close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Personel Brigade Mobil (Brimob) Polda Jambi mengikuti apel sebelum diberangkatkan di Mapolda Jambi, Jambi, Jumat (30/8)./ Antara Foto
icon caption
Personel Brigade Mobil (Brimob) Polda Jambi mengikuti apel sebelum diberangkatkan di Mapolda Jambi, Jambi, Jumat (30/8)./ Antara Foto
Nasional
Kamis, 12 September 2019 16:26

18 SSK brimob masih bersiaga di Papua Barat

Para personel brimob akan tetap berada di Papua Barat hingga situasi benar-benar kondusif.
swipe

Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak mengatakan di wilayahnya masih ada 18 satuan setingkat kompi (SSK) brimob yang bersiaga. Mereka dikirim ke Papua Barat untuk membantu proses pengamanan di wilayah tersebut, pascakerusuhan beruntun yang terjadi Agustus lalu.

"10 SSK kita siagakan di Manokwari, enam di Sorong dan dua di Fakfak. Sifatnya untuk mengantisipasi sekaligus menjamin agar masyarakat bisa beraktivitas dengan nyaman," kata Nahak di Manokwari, Papua Barat, Kamis (12/9).

Menurutnya, para personel bawah kendali operasi (BKO) dari sejumlah polda di wilayah Tengah dan Timur Indonesia, akan tetap berada di Papua Barat hingga kondisi benar-benar aman. Penarikan pasukan akan dilakukan sesuai perkembangan situasi di wilayah tersebut.

"Sampai benar-benar aman. Hingga hari ini belum ada perintah dari bapak Kapolri terkait penarikan mereka kembali ke Polda masing-masing," katanya.

Dia mengatakan, secara umum situasi Papua Barat saat ini sudah jauh lebih baik. Terlebih, sudah ada Deklarasi Damai Manokwari pada Rabu, 11 September 2019, yang diikuti para kepala suku, tokoh agama, Ketua Majelis Rakyat Papua, kepala daerah, serta tokoh masyarakat lainnya.

Mereka yang dinilai menjadi representasi masyarakat di daerah tersebut, sepakat untuk menciptakan suasana damai. Hanya saja, masih terdapat sejumlah elemen yang menggelar aksi penolakan kasus ujaran rasial di Surabaya, Jawa Timur, dan menyuarakan referendum Papua.

Bagi Nahak, deklarasi tersebut merupakan suara masyarakat yang menginginkan terciptanya perdamaian di Papua Barat. Karena itu dia berharap tak ada lagi aksi serupa yang mengatasnamakan aspirasi masyarakat setempat.

"Jadi sudah jelas, sudah bisa kita lihat siapa pihak-pihak yang tidak mau damai. Masyarakat sudah berdamai, jadi jangan ada aksi lagi yang mengatasnamakan masyarakat," ujarnya.

Sejumlah aksi unjuk rasa terjadi di Papua dan Papua Barat dalam menyikapi pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, pada 16 Agustus 2019 lalu. Ujaran rasial terhadap para penghuni asrama menjadi penyulut aksi besar-besaran yang dilakukan masyarakat setempat.

Hanya saja, aksi damai tersebut diwarnai sejumlah kerusuhan yang disertai perusakan dan pembakaran sejumlah fasilitas umum. (Ant)

img
Gema Trisna Yudha
Reporter
img
Gema Trisna Yudha
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan