close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Dampak gempa yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Barat pada Jumat pagi (25/2/2022). Foto dokumentasi BPBD Sumatera Barat.
icon caption
Dampak gempa yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Barat pada Jumat pagi (25/2/2022). Foto dokumentasi BPBD Sumatera Barat.
Nasional
Sabtu, 26 Februari 2022 22:34

Bahaya ikutan gempa Pasaman, retakan tanah hingga likuefaksi

Masyarakat diminta mewaspadai bahaya ikutan gempa bumi dengan magnitudo (M) 6,2 di wilayah Sumatera Barat.
swipe

Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Eko Budi Lelono meminta masyarakat mewaspadai bahaya ikutan pascagempa bumi dengan magnitudo (M) 6,2 di wilayah Sumatera Barat pada Jumat (25/2). Kejadian gempa bumi ini diperkirakan mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah, dan likuefaksi.

“Lokasi pusat gempa bumi terletak di utara Gunung Talamau, berjarak sekitar 17,5 km timur laut Simpang Ampek, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, dengan M6,2 pada kedalaman 10 km," ujar Eko, dalam keterangan resmi, Sabtu (26/2).

Eko mengatakan likuefaksi dapat terjadi khususnya di daerah dataran dan sedikit landai. Pada umumnya, kerentanan likuefaksi adalah sedang. Artinya, zona kerentanan yang dapat mengalami likuefaksi secara tidak merata dan struktur tanah umumnya rusak, tipe kerusakan struktur tanah yang terjadi berupa pergeseran lateral, penurunan tanah, dan semburan pasir.

"Secara umum, beberapa daerah yang mengalami kerusakan tanah fondasi intensif yaitu sepanjang pantai, bantaran sungai. dan dataran yang memiliki kedalaman muka air tanah yang dangkal kurang dari 10 meter," ujarnya.

Berdasarkan informasi, akibat rentetan gempa yang mengguncang Pasaman dan Pasaman Barat, telah terjadi fenomena tanah bergerak. Fenomena ini terjadi di kawasan Malampah, Kecamatan Tigo Nagari, Pasaman.

Badang Geologi akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan mekanisme tanah bergerak yang telah terjadi. Eko mengatakan, fenomena likuefaksi berupa aliran yang dapat menyebabkan gerakan tanah atau tanah bergerak dapat terjadi apabila beberapa persyaratan terpenuhi, yaitu kondisi litologi penyusun, morfologi, muka air tanah dan gempa bumi sebagai pemicu terjadinya likuefaksi.

"Hasil analisis sementara untuk mekanisme likuefaksi aliran ini berdasarkan informasi media dan kondisi geologi di daerah Malampah, Kecamatan Tigo Nagari, Pasaman. Likuefaksi tipe aliran ini dapat terjadi karena kondisi material tanah yang sangat jenuh air dan relatif dangkal, dan material ini bersumber dari hasil litologi rombakan bagian hulunya," kata dia.

Eko menduga sifat material hasil rombakan ini kemungkinan bersifat nonplastis sampai sedikit plastis, kurang padu, dan berada dalam kondisi jenuh air. 

“Selain itu, kemiringan lereng yang relatif landai mengarah ke sungai batang timah adalah salah satu faktor penting yang menyebabkan terjadi pergerakan mengalir dengan pemicu guncangan yang sangat kuat atau dekat sumber gempa sekitar 17 km, sehingga mengurai dan menghancurkan kekuatan tanah aslinya," ujarnya.

Sementara itu, terkait fenomena semburan lumpur air panas yang juga terjadi akibat gempa bumi Pasaman di lokasi terdampak atau sekitar 30 meter dari pemandian air panas, diduga disebabkan oleh retakan yang memotong akuifer yang berisi air panas.

"Diperkirakan retakan tersebut menembus ke permukaan aluvium hingga permukaan tanah," lanjut Eko.

Kemudian, kata Eko, material lumpur bercampur dengan aluvium (Qh) yang terbawa oleh tekanan air kuat yang berasal dari akuifer mengandung air panas. Adapun sebaran air panas yang ada di beberapa titik karena mengikuti bidang lemah yang terbentuk natural.

“Jadi ini memang ada kemungkinan spot-spot ini sebagai mud volcano atau kemungkinan sand boil," tutur dia.

 

 

img
Ratih Widihastuti Ayu Hanifah
Reporter
img
Satriani Ari Wulan
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan