sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Cerita pegawai KPK pernah ikut TWK di Batujajar: Kami dididik Kopassus

Tes wawasan kebangsaan di KPK tidak sama dengan TWK CPNS.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Minggu, 30 Mei 2021 15:29 WIB
Cerita pegawai KPK pernah ikut TWK di Batujajar: Kami dididik Kopassus

Tri Artining Putri, salah seorang pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mengikuti tes wawasan kebangsaan (TWK) mengungkapkan, tes yang disediakan KPK sama sekali berbeda dengan TWK pada umumnya. Putri, sapaan akrabnya, mengungkap ini agar publik mengetahui soal kondisi seputar TWK yang digelar KPK sebenarnya.

"Tes wawasan kebangsaan yang kami jalani di KPK tidak sama dengan tes wawasan kebangsaan yang dijalani CPNS yang selama ini ada narasinya begitu. Narasinya, ya sudah kalau tidak lulus CPNS, pasrah saja dong, jangan nyalahin soalnya," kata Putri dalam diskusi virtual Indoesia Corruption Watch bertajuk "Mengurai Kontroversi Tes Wawasan Kebangsaan", Minggu (30/5).

Putri mengatakan, ada dua hal yang mendasari perbedaan TWK yang digelar KPK dan TWK CPNS pada umumnya. Pertama, setelah sempat mengecek di Google contoh-contoh soal TWK, dia menemukan bahwa TWK mereka jalani sama sekali berbeda dengan TWK yang diikuti CPNS pada umumnya.

"Yang kami jalani adalah indeks berdemokrasi negara. Soalnya kurang lebih 200 soal dari dinas psikologi TNI AD. Di sana kami harus menyikapi kurang lebih 200 pertanyataan. Salah satunya semua China sama saja, semua orang Jepang itu kejam, apakah masa lalu anda suram, percaya hal gaib atau tidak, apakah setuju dengan LGBT atau tidak?," jelas dia.

Perbedaan kedua, lanjut Putri, mereka yang mengikuti TWK bukan CPNS. Adapun mereka mengikuti TWK hanya merupakan perintah Undang-Undang KPK Nomor 7 Tahun 2019 untuk beralih ke ASN.

Putri mengaku dirinya merupakan salah satu pegawai KPK yang sudah menempuh pendidikan bela negara selama 48 hari di Pusat Pendidikan Kopassus (Pusdiklatpassus) di Batujajar, Jawa Barat.

"Pendidikan bela negara yang kami jalani tidak main-main, ada 48 hari di Pusdiklatpassus Batujajar. Kami dididik oleh Komando Pasukan Khusus, semua baret merah waktu itu. Saya juga menjalani selama 48 hari dikarantina. Tanpa telpon, telpon genggam, tanpa akses ke media, tanpa akses dunia luar," ungkapnya.

Dia mengatakan, selama 48 hari di Pusdiklatpassus Batujajar, dia dan teman-teman angkatannya menyanyikan lagu nasional, lalu menerima materi antikorupsi, dan materi TWK. Pengalaman yang mengharukan di lokasi ini menurutnya ialah untuk pertama kalinya menangis saat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Sponsored

"Pelatih-pelatih kami di Kopassus tidak mendoktrin kami, tidak berceramah banyak hal tentang TWK. Tapi entah kenapa selama 48 hari itu berpengaruh sekali kepada psikologi kami. Mungkin karena komunikasinya akhirnya sesama teman angkatan," jelasnya.

Putri mengatakan, dia juga termasuk salah satu pegawai KPK yang mampu bertahan menjalani pelatihan bela negara selama 48 hari di Pusdiklatpassus Batujajar. "Kami diberitahu pelatih di sana, siswa-siswa KPK sebelumnya rata-rata dua hari bahkan tiga hari sudah kembali. Kami 48 hari. Yang ngalahin kami cuma cako, calon komando yang enam bulan di sana," pungkasnya.

Berita Lainnya