sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kekerasan warnai pengosongan lahan NYIA

Polisi menyeret warga dari rumahnya dan menghalangi mereka melakukan ibadah saat agenda pengosongan lahan pembangunan NYIA.

Purnama Ayu Rizky
Purnama Ayu Rizky Jumat, 20 Jul 2018 17:31 WIB
Kekerasan warnai pengosongan lahan NYIA

Wagirah baru akan menunaikan sembahyang dzuhur saat sejumlah aparat merangsek masuk ke rumahnya. Hari itu, Kamis (19/7) pihak Angkasa Pura I bersama pemerintah Kulon Progo menerjunkan 700 personil aparat gabungan, guna mengawal pembersihan 33 rumah di atas lahan yang akan dibangun NYIA, Bandara Kulon Progo, Yogyakarta. Sebanyak 23 rumah dikabarkan telah berhasil dikosongkan.

Wagirah yang masih mengenakan mukena jambon dipaksa keluar. Saat berupaya masuk kembali ke kediamannya, ia ditarik petugas hingga jatuh. Tak terima, Wagirah meronta keluar dan sengaja menghadang jalannya pengosongan rumahnya dan warga lain yang masih bertahan. Menyaksikan Wagirah diperlakukan seperti itu, seorang warga lainnya turut membantu. Situasi pun kian ricuh.

"Wanine karo wong tuo (Beraninya sama orang tua). Minggir! Minggir ra (Minggir enggak)! Minggir ora (Minggir enggak)!" kata Wagirah berteriak kepada petugas yang menghalanginya.

Cuplikan kejadian itu direkam dan disebarkan oleh akun Instagram @jogja_darurat_agraria

"Warga yang hendak mempertahankan rumahnya dan melakukan salat di dalam rumah, diseret petugas dan dihalang-halangi saat hendak mendekati rumah yang menjadi haknya," tulis akun tersebut.

Memang tak hanya Wagirah yang mengalami tindak kekerasan dalam pengosongan lahan tahap akhir ini. Dilansir HarianJogja, warga lain yang bertahan dari Dusun Kragon II, Desa Palihan, Ika Rochyanti mengatakan, saat itu ia sedang berdoa di dalam rumahnya. Namun kemudian, datang Polisi Wanita (Polwan) yang terlihat sudah cukup berumur dan mengenakan rompi, namun tak terlihat nama yang tersemat. Setelahnya, Polwan itu menginfokan, rumahnya harus segera dikosongkan.

Ika sempat emosi dan bertahan di dalam rumah. Ia terus melantunkan ayat Alquran, tapi terhenti karena polwan tersebut menarik kitab suci yang ia pegang. Ika mengaku, dipukul di bagian wajah, saat berada di luar rumah setelah digotong ke luar.

Sponsored

Kendati warga kukuh bertahan, namun proses eksekusi lahan tetap dilanjutkan oleh AP 1, yang dikawal kepolisian, Satpol PP, lengkap dengan alat berat.

"Hari ini (Jumat), mereka juga menghancurkan rumah baca serta Sanggar Belajar Teman Temon yang menjadi tempat bermain dan belajar adik-adik kami," tulis akun @jogja_darurat_agraria kembali.

Konfirmasi PT Angkasa Pura I

Pihak AP 1 menyelesaikan pembongkaran 33 unit rumah yang dihuni 36 kepala keluarga penolak proyek Bandara Internasional Yogyakarta di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Juru Bicara Proyek Bandara Internasional Yogyakarta Kolonel Pnb. Agus Pandu Purnama di Kulon Progo, Jumat, mengatakan pembersihan lahan merupakan lanjutan dari total lahan yang harus dikosongkan seluas 587,3 hektare.

"Hari ini sudah 100% pembersihan lahan, ditandai dengan pengosongan 33 rumah yang dihuni 36 KK," kata Agus dilansir Antara.

Ia mengatakan pembersihan 33 rumah ini merupakan lanjutan dari pembersihan 518 unit rumah. Artinya, AP I sudah 100% melakukan pengosongan lahan. Sehingga, AP I melalui kontraktor PP akan melalukan tahap kontruksi.

"Hari ini kami sudah melakukan rapat terakhir pemantapan tahapan kontruksi. Artinya, mulai besok pagi, kami sudah bisa memulai melakukan tahap kontruksi," katanya.

Sementara itu, Pimpinan Proyek Bandara Internasional Yogyakarta Sujiastono mengatakan pembersihan lahan terhadap 33 unit rumah warga yang tinggal di kawasan izin penetapan lokasi (IPL) bandara sudah selesai semua.

"Pembersihan lahan berjalan lancar, tidak ada halangan apapun. Kami akan melanjutkan ketahap kontruksi. Waktu tidak bisa mundur, dan kami harus mengejar target, April 2019 sudah beroperasi. Kami akan mengejar tahap kontruksi secara paralel," katanya.

Ia menargetkan runway bandara selesai 100%, taxy way 100% terminal 50%, dan appron 50%, sehingga NYIA bisa beroperasi April 2019.