sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

KontraS: Perkap PAM Swakarsa ancam kebebasan sipil

Porli hendak menghidupkan kembali PAM Swakarsa guna penegakan protokol kesehatan.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Rabu, 23 Sep 2020 16:43 WIB
KontraS: Perkap PAM Swakarsa ancam kebebasan sipil
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 410.088
Dirawat 58.418
Meninggal 13.869
Sembuh 337.801

Staf Riset dan Dokumentasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Danu Pratama, menilai, Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pasukan Pengamanan Masyarakat (PAM) Swakarsa mengancam kebebasan sipil. Alasannya, seakan ingin menciptakan aura intimidasi dan tindakan represif untuk memaksakan ketertiban umum.

"Wajar saja ketika masyarakat masih menyimpan trauma dan kecurigaan yang sangat tinggi terhadap PAM Swakarsa ketika dia dicoba untuk dibangkitkan pada tahun 2020 ini," tuturnya saat telekonferensi, Rabu (23/9).

Menurutnya, istilah PAM Swakarsa juga terkesan ingin menghidupkan kembali kelompok berekam jejak kelam karena eksistensinya terdahulu. Apalagi, kinerja Polri menggambarkan proyeksi potensi pelanggaran HAM dan tindakan represif.

Pada 1998, PAM Swakarsa–yang terdiri dari kelompok sipil seperti Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI), Forum Umat Islam untuk Keadilan dan Konstitusi (Furkon), Pemuda Pancasila (PP), Pancamarga, para pengangguran, preman, hingga anak-anak putus sekolah–dipersenjatai bambu runcing untuk menghalang aksi unjuk rasa mahasiswa penolak Sidang Istimewa MPR pada 1998. Ia disinyalir melakukan banyak kekerasan–yang hingga kini belum jelas pertanggungjawabannya dari pembentukan hingga aktor intelektual dibalik mobilisasi massa.

"(Ada) perbedaannya memang. Kala itu, tidak ada peraturan yang jelas mengenai PAM Swakarsa ini maupun yang secara resmi melegalkan PAM Swakarsa ini. Bisa dikatakan berbeda (dengan PAM Swakarsa sekarang)," akunya.

Meski demikian, bagi Danu, pembentukan PAM Swakarsa untuk penegakan protokol kesehatan saat pandemi coronavirus baru (Covid-19) akan menambah daftar tindakan kepolisian yang tidak peka situasi krisis. Terlebih, kinerja pengawasan "Korps Bhayangkara" masih banyak "lubang".

Tindakan kekerasan pun masih dominan terjadi di tingkat polres lantaran proses pembinaan tidak maksimal. Lalu, mekanisme kontrol dan evaluasi tak berjalan baik dan penegakan hukum terhadap anggota kepolisian pelaku kekerasan tidak menimbulkan efek jera.

Karena itu, dirinya berkeyakinan, pengawasan terhadap PAM Swakarsa bakal menambah beban pekerjaan rumah (PR) Polri yang sudah besar.

Sponsored
Berita Lainnya