sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Langkah BRIN merespons hepatitis akut pada anak

BRIN akan bantu Kementerian Kesehatan riset hepatitis misterius.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Kamis, 12 Mei 2022 15:28 WIB
Langkah BRIN merespons hepatitis akut pada anak

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN akan berkolaborasi dengan para pihak untuk merespons munculnya virus hepatitis akut. Penyakit misterius yang belum diketahui penyebabnya itu sudah menyebar di 20 negara. Di Indonesia tercatat 15 terduga kasus dengan lima kematian. 

Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN Ni Luh P. Indi Dharmayanti mengatakan, BRIN dengan sumber daya masyarakat (SDM) periset andal dan peralatan yang cukup lengkap serta memadai akan merespons dengan beberapa kegiatan riset. Riset berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, perguruan tinggi atau lembaga riset lain. 

"BRIN siap membantu, memberi support, berkolaborasi serta bersinergi dengan Kementerian Kesehatan dan institusi terkait," kata Indi pada kegiatan sapa media yang dilaksanakan secara daring, Kamis (12/5).

Indi menjelaskan, BRIN antara lain akan melakukan analisis molekuler dan diversitas genetik penyebab hepatitis akut, whole genome sequencing for understanding Hepatitis Acute epidemiology and phenotypes, metagenomics pada darah dan jaringan, dan pengembangan perangkat diagnostik.

Juga akan menggelar riset deteksi dini dan respons cepat terhadap penyakit hepatik akut, eksplorasi, dan pengembangan bahan baku obat dan obat tradisional untuk hepatoprotektor, penegakan diagnostik, dan pengembangan terapi (termasuk uji klinik obat).

Cara penularan

Kepala Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, Harimat Hendarwan menjelaskan hepatitis adalah bentuk peradangan pada hati. Hati adalah organ vital yang antara lain berfungsi memproses nutrisi, menyaring darah, detoksifikasi, dan sintesa protein. 

"Ketika hati mengalami peradangan atau kerusakan, maka fungsi hati tersebut dapat terganggu," kata Harimat.

Sponsored

Pada masing-masing pasien, kondisinya bervariasi. Ada yang bisa dapat sembuh sendiri (self-limiting) atau menjadi fibrosis (scarring). Ada juga, kata Harimat, sirosis atau kanker hati.

Harimat menjelaskan, terdapat lima jenis virus hepatitis utama yang dikenal sebagai tipe A, B, C, D, dan E. Kelima jenis virus ini mendapat perhatian yang besar dikarenakan berpengaruh terhadap beban penyakit dan kematian. Juga berpotensi menjadi wabah dan penyebaran epidemi.

Bentuk umum penularan penyakit ini dapat melalui transfusi darah atau menerima darah/produk darah yang terkontaminasi, tindakan medis invasive menggunakan peralatan yang telah terkontaminasi, dan transmisi hepatitis B dari ibu pada bayi saat persalinan. 

"Infeksi akut mungkin akan muncul dengan gejala minimal atau tanpa gejala atau dengan sejumlah gejala seperti kulit dan mata berwarna kuning (jaundice), urine berwarna pekat, kelelahan ekstrim, mual, muntah, dan nyeri abdomen," kata dia.

Beberapa negara yang juga melaporkan kasus hepatitis akut, kata Harimat, antara lain Jepang, Kanada, Singapura, dan Indonesia. Kasus pertama di Amerika Serikat diidentifikasi Oktober 2021 di rumah sakit anak di Alabama. Rumah sakit itu merawat lima anak cedera hati yang signifikan tanpa diketahui penyebabnya. Saat dites positif terhadap adenovirus. 

Cara pencegahan

Salah satu hipotesis yang ditelusuri adalah keterkaitan antara adenovirus dengan kejadian ini. "Adenoviruses merupakan jenis virus yang dapat menyebabkan sakit dari ringan sampai berat (severe)," kata dia.

Adenovirus sering menular dari orang ke orang dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi. Juga melalui jalur respirasi. Cara efektif untuk meminimalisasi penyebaran adenovirus, kata Harimat, dengan mempraktekkan kebersihan tangan dan respirasi, serta edukasi mencuci tangan pada anak.

Cuci tangan dengan air dan sabun, kata dia, merupakan cara pencegahan terbaik. Juga menjaga jarak dengan orang sakit batuk dan bersin, serta mengajarkan anak cara batuk dan bersin yang benar. 

Anak-anak yang sedang sakit, kata dia, disarankan tinggal di rumah sampai gejala hilang dan dinyatakan sehat untuk bisa kembali ke sekolah.

Cara deteksi virus

Peneliti Kelompok Riset Hepatitis, Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman, Korri El Khobar menjelaskan, deteksi virus penyebab hepatitis dapat dilakukan secara serologi dan molekuler. 

"Deteksi serologi dilakukan untuk menentukan apakah seseorang telah atau pernah terinfeksi dengan cara mendeteksi antibodi spesifik terhadap virus," kata Korri.

Menurut Korri, deteksi molekuler dilakukan untuk mengonfirmasi diagnosis infeksi virus dengan cara mendeteksi materi genetik virus. Hasil positif dari deteksi molekuler dapat dilanjutkan dengan melakukan proses sequencing untuk mendapatkan sekuens virus tersebut.

"Analisis sekuens virus dapat dilakukan untuk mengidentifikasi jenis virus, melakukan karakterisasi sekuens virus dengan melihat adanya variasi pada sekuens, melakukan analisis kekerabatan virus, dan juga menentukan sebaran epidemiologi virus," jelas Korri.

Berita Lainnya