logo alinea.id logo alinea.id

Lecet, data CVR Lion Air PK-LQP diyakini tidak rusak

"Secara fisik hanya lecet, tetapi di dalamnya punya kemampuan tahan."

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Senin, 14 Jan 2019 19:19 WIB
Lecet, data CVR Lion Air PK-LQP diyakini tidak rusak

Data Cockpit Voice Recorder (CVR) pesawat Lion Air PK-LQP diyakini tidak rusak, dan dapat digunakan untuk menyelidiki penyebab jatuhnya pesawat di Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, pada 29 Oktober 2018 lalu. Meskipun, kondisi fisiknya sudah banyak terkena goresan.

"CVR punya kekuatan untuk tahan goncangan 200 G, kalau kemarin tidak akan sampai 200 G. Secara fisik hanya lecet, tetapi di dalamnya punya kemampuan tahan," kata Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Kapushidrosal) Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro dalam konferensi pers di Jakarta International Container Terminal 2, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (14/1). 

Harjo menambahkan, CVR dirancang untuk tahan guncangan dan ledakan keras. Menurutnya, pengalaman dalam sejumlah kecelakaan pesawat selama ini, tidak pernah ditemukan adanya data CVR yang rusak. 

"CVR didesain agar jangan rusak, kita belum dapatkan pengalaman kalau CVR rusak. Kalau rusak ya rusak dari awalnya. Kalau dari pabriknya sudah rusak, Wallahualam," katanya. 

Sponsored

CVR pesawat Lion Air JT 610 ditemukan tim Dinas Penyelamatan Bawah Air (Dislambair) Komando Armada (Koarmada) I TNI AL, yang melakukan pencarian dengan KRI Spica-934. Kapal milik Pushidrosal, diberangkatkan dari Dermaga Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Pelabuhan Tanjung Priok, pada Selasa (8/1).

KRI Spica-934 yang memiliki peralatan bawah air dengan teknologi canggih ini, membawa alat yang lengkap seperti Multibeam Echosounder (MBES), Sub Bottom Profiling (SBP), Magnetometer, Side Scan Sonar, ADCP serta peralatan HIPAP yang mampu mendeteksi sinyal dari black box dari Lion JT 610.

Selain peralatan tersebut KRI Spica-934 juga membawa ABK sebanyak 55 orang, personel KNKT 9 orang, penyelam TNI AL 18 orang, serta scientist 6 orang, dan tiga orang dari Komando Pasukan Katak (Kopaska), yang terlibat dalam penyelaman tersebut. (Ant)