sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Malaikat penjaga obat penyintas kanker

Penanganan pasien kanker saat ini hanya melalui kemoterapi. Padahal ada cara pengobatan dengan terapi gen.

Mona Tobing
Mona Tobing Rabu, 07 Nov 2018 08:36 WIB
Malaikat penjaga obat penyintas kanker

Penderita kanker umumnya melakukan pengobatan dengan cara kemoterapi, rupanya ada cara lain untuk mengobati kanker yakni dengan terapi gen. Meski belum banyak dikenal 'malaikat penjaga' ini diyakini menjadi salah satu obat masa depan penderita kanker yang banyak dipilih. 

Adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM), Radya Kusuma Ardianto dan Muhammad Mufti Al Anshori yang mengenalkan pengobatan (penyembuhan) kanker tanpa melakukan kemoterapi, tetapi dengan terapi gen. 

Diakui kedua mahasiswa tersebut, saat ini di Indonesia penanganan pasien kanker saat ini hanya melalui kemoterapi saja. Padahal metode tersebut membutuhkan biaya yang sangat mahal, karena tidak bisa sekali pengobatan. 

Solusi ditawarkan kedua mahasiswa UMM ini pasien kanker bisa melakukan pengobatan alternatif dengan terapi gen. Pengobatan dengan Terapi Gen kata Radya adalah menyuntikkan gen P53 yang merupakan 'malaikat penjaga' gen kepada pasien untuk menggantikan gen P53 yang tidak berfungsi secara normal. 

Sehingga, tidak bisa memperbaiki sel-sel yang rusak. Dengan begitu, gen P53 pengganti tersebut bisa bekerja untuk memperbaiki sel-sel yang rusak. Hanya saja, untuk mengganti gen P53 ini menurut Radya perlu 'kendaraan'.

"Kendaraan yang saya maksudkan adalah dengan menggunakan virus, yakni Adenovierus. Virus itu tepat sasaran karena langsung menginfeksi sel. Namun, yang kita pakai hanya bungkusnya saja dan penyakit berbahayanya sudah dihilangkan terlebih dahulu," paparnya.

Ia menilai dunia medis di Indonesia sudah relatif tertinggal, sebab di Tanah Air pengobatan semacam ini belum diterapkan, atau bisa jadi, masih dalam tahap penelitian. Ketika di Indonesia masih Symtomatik (bergantung kepada obat), di luar negeri sudah mendalam hingga tahap molekuler atau langsung menyasar kepada akar permasalahannya.

"Ada atau tidaknya pengobatan seperti ini, berawal dari kita siap atau tidak. Awalnya kita mengajukan ide-ide seperti ini untuk menyiapkan. Ketika Indonesia sudah siap secara mental, mungkin bisa diimplementasikan meskipun ini harus menempuh waktu yang lama dan biaya yang mahal," terang Radya.

Sponsored

Radya menambahkan ketika seseorang terkena kanker, daya produktivitasnya menurun. Sehingga tidak bisa bekerja sebagaimana manusia normal lainnya.

Dia mengatakan ketika tidak bisa mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, maka keluarganya yang akan menanggung pengobatannya. Kondisi ini membuat pasien ketergantungan kepada keluarga dan obat dengan waktu yang cukup lama.

Radya pun menyarankan agar pengobatan pasien dimulai dengan sistem holistic komprehensif, yaitu pengobatan secara menyeluruh hingga sampai pada kondisi ekonomi, produktivitas, dan kesehatan pasien. 

Radya mengaku ide terapi gen pada pasien kanker tersebut berawal dari keprihatinan dengan mahalnya biaya kemoterapi bagi penderita kanker. Terapi gen yang diperkenalkan kedua mahasiswa FK UMM itu berhasil memenangkan kompetisi penulisan artikel ilmiah tingkat nasional.

Artikel yang ditulis Radya dan Mufti itu memenangi ajang Biology Open House For Environmental Recognition (BIOSFER) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Brawijaya (UB) Malang beberapa waktu lalu. (Ant)