close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
ilustrasi. foto Pixabay
icon caption
ilustrasi. foto Pixabay
Nasional
Senin, 13 Juni 2022 20:46

Menkes: Ada 8 kasus subvarian baru Omicron

Budi menjelaskan, varian BA.4 dan BA.5 memicu kenaikan kasus di sejumlah negara.
swipe

Pemerintah terus memantau perkembangan kasus Covid-19, terutama setelah penemuan subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia. Situasi pandemi saat ini memang terkendali. Tapi pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada dan berhati-hati menghadapi subvarian baru tersebut.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, lebih baik waspada dan berhati-hati. Karena kewaspadaan dan kehati-hatian itulah penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia relatif berhasil baik.

"Bapak Presiden memberikan arahan ke kami tentang hal itu. Karena konservatifnya kita sudah memberikan hasil bahwa penanganan pandemi di Indonesia termasuk yang relatif baik dibandingkan negara-negara lain di dunia," ujar Budi Gunadi usai rapat terbatas evaluasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dipimpin Presiden Jokowi di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (13/6). 

Budi menjelaskan, varian BA.4 dan BA.5 memicu kenaikan kasus di sejumlah negara. Akan tetapi, lanjut dia, varian itu memiliki tingkat kenaikan kasus, hospitalisasi, maupun kematian yang jauh lebih rendah dibandingkan awal munculnya varian Omicron.

"Hasil pengamatan kami bahwa puncak dari penularan varian BA.4 dan BA.5 ini sekitar sepertiga dari puncak Delta dan Omicron. Hospitalisasinya juga sepertiga dari kasus hospitalisasi Delta dan Omicron, sedangkan kematiannya sepersepuluh dari kematian di Delta dan Omicron," ujarnya.

Kasus subvarian baru Omicron

Budi juga membenarkan adanya delapan kasus subvarian baru Omicron di Tanah Air. Satu pasien yang belum memperoleh vaksin booster memiliki gejala sedang dan tujuh pasien lain bergejala ringan atau tidak bergejala.

Budi memaparkan, berdasarkan indikator transmisi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO kondisi penanganan pandemi di Tanah Air masih relatif baik dibandingkan negara-negara lain. Standar WHO untuk kasus konfirmasi level 1 adalah maksimal 20 kasus per minggu per 100 ribu penduduk, sementara Indonesia masih 1 kasus per minggu per 100 ribu penduduk.

"Positivity rate-nya juga WHO memberi standar 5%, kita masih di angka 1,36%. Reproduction rate (Rt) atau reproduksi efektif itu juga dikasih standarnya di atas 1 yang relatif perlu dimonitor, kita masih di angka 1. Dari tiga indikator transmisi, kondisi kita masih baik," jelas dia.

Meski situasi terkendali, pemerintah terus mengantisipasi lonjakan kasus. Di antaranya dengan mengakselerasi vaksinasi booster dan meminta masyarakat untuk tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Bapak Presiden juga memberikan arahan agar booster ini bisa lebih mudah diterima oleh teman-teman. Setiap acara-acara besar kalau bisa diwajibkan menggunakan booster, sehingga bisa memastikan teman-teman yang mengikuti acara dari kerumunan besar itu relatif aman," ujarnya.

Selain itu, kata Budi, pihaknya akan kembali melakukan serosurvei sebagai salah satu dasar pengambilan kebijakan dalam menghadapi pandemi. "Diharapkan minggu ketiga Juli atau minggu keempat Juli sudah keluar hasilnya, sehingga sebelum 17 Agustus kita bisa mengambil kebijakan yang lebih tepat berbasis data," kata Budi.

Situasi terkendali

Menteri Koordinator Perekonomomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, masih terdapat dua provinsi yang capaian dosis pertama di bawah 70%, yaitu Papua Barat dan Papua. Sedangkan untuk vaksinasi dosis kedua terdapat sepuluh provinsi dengan capaian di bawah 70%.

"Provinsi yang masih relatif rendah di bawah 50 persen adalah Maluku, Papua Barat, dan Papua," ujar Ketua Umum Partai Golkar itu.

Terkait situasi Covid-19, Airlangga menyampaikan bahwa meskipun terdapat peningkatan kasus di Indonesia secara keseluruhan masih terkendali. "Kasus kita sekitar 574 (kasus) harian. Kalau kita lihat Australia bisa 16.000-an (kasus), India 8.500 (kasus), Singapura 3.100 (kasus), Thailand 2.400 (kasus), bahkan Malaysia 1.700 (kasus)," ujar dia.

Angka reproduksi kasus efektif (Rt) Indonesia relatif stabil di bawah 1, tingkat kesembuhan (recovery rate) mencapai 97,34%, sedangkan tingkat kematian (case fatality rate) sebesar 2,58%. "Kita lihat penularan kasus kebanyakan lokal, yang kasus dari perjalanan luar negeri sekitar 25 kasus," jelas Airlangga.

Tingkat keterisian tempat tidur di rumah sakit atau BOR (bed occupancy rate), terutama di luar Jawa-Bali, juga masih relatif rendah. "Kalau di luar Jawa-Bali BOR Covid-19 relatif rendah dan yang tertinggi hanya di Kalimantan Utara dan Kalimantan Tengah," kata Airlangga.

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan