logo alinea.id logo alinea.id

Pakar: Sumber pangan di laut terancam akibat perubahan iklim

Perubahan iklim ancam mata pencaharian nelayan tradisional.

Armidis
Armidis Kamis, 14 Mar 2019 17:42 WIB
Pakar: Sumber pangan di laut terancam akibat perubahan iklim

Akademi Ilmuwan Muda Indonesia, Alan Frendy Koropitan, mengatakan perubahan iklim yang terjadi sekarang ini bisa memberi dampak lebih serius bagi nelayan, khususnya tradisional yang berskala kecil. Akibatnya, hal tersebut dapat mengancam ketersediaan produksi pangan yang berasal dari laut.

“Ini sedikit banyak perubahan iklim sudah dirasakan. Makanya perlu adanya langkah adaptasi untuk mengatasi perubahan iklim sebagai solusi,” kata Alan dalam sebuah diskusi di Jakarta pada Kamis, (14/3).

Adaptasi yang dimaksud Alan yakni dengan cara mengalihkan konsentrasi nelayan. Jika semula mereka menangkap ikan ikan di laut, kini sudah saatnya beralih ke akuakultur (budi daya). Menurut dia, praktik akuakultur mampu menjadi alternatif untuk menyediakan pangan dari laut.

Apalagi saat ini terdapat tren penurunan tangkapan ikan yang dirasakan nelayan lokal. Hal itu pun sejalan dengan fakta yang terjadi di negara-negara di dunia, yang mengalami penurunan sekitar 4% setiap tahunnya dari jumlah tangkapan ikan yang rata-rata sebesar 79 ton per tahun.

Sementara di Indonesia, berdasarkan penelitian Alan, terungkap terjadi penurunan stok ikan di perairan Indonesia mencapai 100 ribu ton per tahun. Penurunan cukup banyak ini terjadi untuk jenis ikan pelagis kecil.  

"Terjadi pengurangan 100 ribu ton per tahun. Ini sejalan dengan peneliti di luar, mereka menemukan angka 4 % per tahun," ucap dia.

Dari data itu, Alan menilai semestinya ada persiapan atau langkah alternatif agar produksi ikan meningkat. Salah satunya dengan memperkuat kegiatan budi daya. Peningkatan produksi ikan ini diperlukan seiring meningkatnya jumlah penduduk dunia. Pada 2050, Alan memperkirakan penduduk dunia akan mencapai 9 miliar.

“Tangkapan ikan dunia 79 juta ton per tahun. Artinya ada penurunan 3 juta ton per tahun. Ini yang harus diantispasi. Untuk mengisi itu kita harus menggantinya dengan akuakultur,” kata Alan.

Sponsored

Namun, Alan mengatakan, untuk mengalihkan kegiatan nelayan ke sektor akuakultur tentunya tidak mudah. Perlu ekosistem laut yang sehat untuk menunjang keberhasilan proses akuakultur.

Sementara ekosistem laut Indonesia dinilai belum memadai untuk dilakukannya kegiatan tersebut. Sebab, terumbu karang dan hutan mangrove yang menjadi indikasi kesehatan laut semakin kondisinya kian berkurang.

Terkait kondisi terumbu karang, yang semula sebarannya 14% kini hanya tersisa 12%. Sedangkan untuk hutan mangrove sebelumnya seluas 5,2 juta hektare, kini tersisa 2,5 juta hektare.

“Kalau ekosistemnya terganggu mengalami degradasi, lalu apa lagi yang kita punya,” kata Alan.