logo alinea.id logo alinea.id

Pengamat minta KPU tambah bilik suara di setiap TPS

Banyak warga negara di luar negeri yang tidak dapat menyalurkan aspirasinya lantaran aturan teknis pencoblosan.

Armidis
Armidis Senin, 15 Apr 2019 14:01 WIB
Pengamat minta KPU tambah bilik suara di setiap TPS

Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima) Ray Rangkuti mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) berbenah. Pasalnya, banyak warga negara di luar negeri yang tidak dapat menyalurkan aspirasinya lantaran aturan teknis pencoblosan.

Rangkuti khawatir, kejadian serupa terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, KPU semestinya menyiapkan upaya antisipasi, agar hak warga negara untuk memberikan pilihan politiknya terakomodir.

"KPU sebaiknya segera berbenah. Hal yang sama sangat mungkin terjadi di Indonesia. Luapan partisipasi akan membeludak tapi daya tampung satu TPS tidak memadai," kata Ray Rangkuti melalui pers rilis yang diterima Alinea.id, Jakarta, Senin (15/4).

Di beberapa kota di sejumlah negara, seperti di Singapura, Hong Kong, Sydney dan Belanda, telah melakukan pencoblosan. Hasilnya, sejumlah banyak warga negara tidak dapat menyalurkan suaranya. Terjadi antrean panjang di beberapa lokasi untuk menyalurkan hak politiknya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan itu, dia mendesak agar bilik suara ditambah. Hal itu bisa membuat antrean pemilih tidak memanjang.

Antrean yang terlalu panjang, bisa membuat calon pemilih membatalkan niat menggunakan hak pilih. Teknis yang lebih baik, ujar Ray, perlu ditanggapi oleh KPU agar partisipasi pemilih tidak menurun.

"Dalam satu bulan ini, saya sendiri selalu mengingatkan agar KPU menambah jumlah bilik suara lebih dari empat bilik suara yang disiapkan," Ray.

Menanggapi itu, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ilham Saputra menerangkan, kasus yang terjadi di luar negeri tidak sama dengan di Indonesia.

Sponsored

Di Indonesia, kata Ilham, jumlah pemilih setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) hanya berjumlah 300. Dengan begitu, Ilham yakin kasus yang serupa tidak akan terjadi di dalam negeri.

Selain itu, tidak semua TPS di luar negeri mengalami antrean panjang. Di beberapa negara bahkan berjalan sangat baik dan bisa menyalurkan hak politiknya.

"Insya Allah tidak akan terjadi antrean panjang. Di luar negeri ribuan. Sydney, KL dan Osaka itu ribuan pemilihnya, tapi ada juga yang lancar seperti London dan Amsterdam," tutur Ilham.