sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Peralihan musim, BNPB minta masyarakat waspada

Masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan ditandai dengan beberapa gejala alam yang disebut pancaroba

Hermansah Adi Suprayitno
Hermansah | Adi Suprayitno Senin, 21 Okt 2019 20:22 WIB
Peralihan musim, BNPB minta masyarakat waspada
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 127083
Dirawat 39082
Meninggal 5765
Sembuh 82236

Musim penghujan 2019 di Indonesia akan masuk pada akhir Oktober hingga pertengahan November, sebagaimana menurut perkiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) belum lama ini.

Masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan ditandai dengan beberapa gejala alam yang disebut pancaroba seperti berubahnya suhu dan cuaca secara drastis, munculnya mendung tebal disertai petir, gelombang pasang air laut, angin kencang hingga angin puting beliung.

Musim penghujan sendiri dapat menjadi pemicu terjadinya bencana hidrometeorologi seperti tanah longsor dan banjir dengan ditambah beberapa faktor seperti lingkungan yang tidak terawat dengan baik, alih fungsi hutan pegunungan, dan budaya membuang sampah sembarangan.

Oleh karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau agar masyarakat mulai melakukan persiapan dini dalam menghadapi peralihan musim tersebut, melalui upaya-upaya pencegahan seperti memangkas daun dan ranting terutama untuk pohon-pohon besar, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, membersihkan saluran air hingga sungai, selalu membawa payung atau jas hujan selama beraktivitas di luar ruangan, dan selalu memperbarui informasi perkiraan cuaca yang bersumber dari pihak berwenang.

"Sedangkan untuk upaya jangka panjang, masyarakat bisa melakukan penanaman pohon yang dapat mencegah terjadinya longsor sekaligus mengikat air tanah sebagai cadangan saat kemarau panjang tiba. Adapun beberapa jenis pohon tersebut di antaranya, beringin karet, matoa, jabon putih, sukun, mahoni dan sebagainya," papar Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB Agus Wibowo, dalam keterangan tertulisnya.

Kasus terbaru akibat musim pancaroba terjadi di Batu. Berdasarkan data BNPB, angin kencang menerjang Desa Sumberbrantas Kecamatan Bumiaji Kota Batu pada Sabtu (19/10) sekitar pukul 23.30 WIB, hingga Minggu (20/10). Peristiwa tersebut menyebabkan satu warga atas nama Sodiq meninggal dunia, sejumlah orang mengalami luka-luka dan mengalami gangguan saluran pernafasan.

Angin kencang rusak gedung SMP di Batu 

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebutkan, ada gedung SMP di Batu yang butuh direkonstruksi karena terdampak angin kencang pada Minggu (20/10). 

Sponsored

"Kalau dimungkinkan dapat belajar di luar kelas, tidak masalah, murid tetap masuk," ujar dia saat mengunjungi lokasi pengungsi di Desa punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Senin (21/10). 

Khofifah menunggu data hasil identifikasi Pemkot Batu terkait rumah warga yang mengalami kerusakan. Begitu juga halnya dengan kondisi harta benda dan hewan ternak yang ditinggalkan, Khofifah meminta warga tidak perlu khawatir berlebihan. Mengingat TNI dan Polri menjaga keamanan lingkungan rumah para masyarakat yang mengungsi. 

"Agar ada ketenangan masyarakat bahwa ada yang ikut menjaga barang yang ditinggal," tambahnya.

Pemprov telah menyalurkan bantuan tanggap darurat seperti paket sandang, matras, tikar, masker, selimut, peralatan balita, obat-obatan, popok bayi, dan pembalut wanita. Selain itu, bantuan seperti lauk pauk, tenda gulung, kasur, family kids, dan peralatan anak sudah diberikan ke pengungsi. 

Ia berharap, situasi dan kondisi di Kota Batu bisa segera pulih dalam waktu singkat, sehingga perekonomian masyarakat bisa kembali berputar. 

Para pengungsi tersebar di tujuh titik antara lain Posko  BPBD Kota Batu, Rumah Dinas Walikota, Balai Desa Punten, Balai Desa Tulungrejo, SDN 1 Punten, Balai Desa Sidomulyo, dan Kantor Kelurahan Songgokerto.

Berita Lainnya