sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Periksa CCTV rumah Novel Baswedan hingga Australia, Polri: Gambarnya buram

Mabes Polri memeriksa CCTV di rumah Novel Baswedan di Australi dengan hasil nihil lantaran kualitasnya rendah.

Ayu mumpuni Achmad Al Fiqri
Ayu mumpuni | Achmad Al Fiqri Selasa, 10 Des 2019 18:33 WIB
Periksa CCTV rumah Novel Baswedan hingga Australia, Polri: Gambarnya buram

Polri menyatakan rekaman kamera Closed Circuit Television (CCTV) di lokasi kejadian penyiraman Novel Baswedan tidak memberikan petunjuk karena kualitasnya rendah. Meski telah dikirim ke Australia untuk ditelaah oleh tim Inafis Polri di Australia, namun tak juga memberikan petunjuk.

"Jadi hasil dari keterangan tim di Australia gambarnya agak buram," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Argo Yuwono di Gedung Humas Polri, Jakarta Selatan, Selasa (10/12).

Argo menyatakan tim teknis tidak mengandalkan rekaman CCTV semata untuk mengungkap siapa pelaku penyiraman air keras tersebut. Pasalnya Argo mengklaim, sejumlah saksi, keterangan ahli dan beberapa bukti lainnya memberi petunjuk kuat.

Menurut Argo, tim teknis terus berupaya mengungkapkan kasus tersebut dengan komitmen kuat. Segala perkembangan hingga saat ini, kata dia, pun telah dilaporkan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Tentunya Kapolri telah melaporkan kepada presiden sejauh mana tim yang telah dibentuk mengungkap penyelidikan dan penyidikan kasus tersebut," tutur Argo.

Ia pun mengklaim dalam waktu tidak lama lagi apa yang telah dilakukan tim teknis akan segera diungkap ke masyarakat. Selain itu, segala perkembangan kerja tim teknis juga telah dikomunikasikan kepada pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Presiden Jokowi mengungkapkan Kapolri Jenderal Idham Azis telah melaporkan kepada dirinya mengenai temuan yang cukup signifikan terkait investigasi kasus penyerangan air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Idham melaporkan kepada Jokowi pada Senin (9/12).

Jokowi menyebut temuan baru itu telah mendekati kesimpulan. Tim teknis pun diperintahkan untuk memberikan hasil kerjanya dalam jangka waktu beberapa hari ke depan.

Sponsored

Mantan Kapolri Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian (Kiri) bersama Kapolri Jenderal Pol Idham Aziz (Kanan) salam komando pada Upacara Tradisi serah terima Panji-panji Tribrata Kapolri dan pengantar tugas Kapolri di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/11)./Antara Foto

Bongkar aktor intelektual

Anggota tim kuasa hukum Novel Baswedan, Haris Azhar mengaku khawatir jika tim teknis besutan Tito Karnavian, hanya dapat mengungkap pelaku lapangan saja. Hal itu diyakininya karena progres hasil pemeriksaan terakhir belum menyentuh aktor intelektual.

"Saya khawatir, yang diumumkan pelaku hanya pelaku lapangan saja. Karena dari pemeriksaan terakhir itu dari tim khusus yang bentukan masyarakat sipilnya itu cuma bisa sampai ke pelaku lapangan," kata Haris, saat ditemui di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan.

Padahal, kata Haris, jika melihat sejumlah pernyataan kliennya, peristiwa penyiraman air keras itu terjadi amat sistematis. Bahkan, terdapat indikasi bahwa serangan tersebut berkaitan dengan perkara yang tengah ditangani Novel.

"Jadi, harusnya (kasus penyiraman air keras) dilihatnya sebagai ada konstruksi besar, bukan pelaku lapangan saja," tutur dia.

Kendati demikian, Haris mengaku pesimistis tim teknis Polri dapat mengungkap pelaku lapangan dan intelektual. Pasalnya, kinerja tim teknis terkesan lama. Bahkan, kata dia, terdapat kehati-hatian dalam melakukan tindakan.

"Ini yang membuat pemerintah, terutama presiden cukup kikuk untuk menangani kasus ini, dan itu yang membuat dia tidak tegas dibandingkan kalau ada situasi atau peristiwa lain," ujar Haris.

Sebagai informasi, penyidik senior KPK Novel Baswedan disiram air keras oleh dua pelaku tak dikenal seusai melaksanakan salat subuh di masjid tak jauh dari rumahnya pada 11 April 2017.

Cairan itu mengenai wajah Novel. Kejadian tersebut berlangsung cepat sehingga Novel tak sempat mengelak. Tak seorang pun yang menyaksikan peristiwa tersebut.

Sejak saat itu, Novel menjalani serangkaian pengobatan untuk penyembuhan matanya. Dia harus beberapa kali bepergian dari Indonesia ke Singapura untuk menjalani pengobatan. Selama dua tahun delapan bulan kasus ini terjadi, pelaku lapangan dan intelektual belum terungkap.

Pada saat yang bersamaan, Polri berupaya mengungkap pelaku tersebut. Setidaknya, Korps Bhayangkara itu telah membentuk tiga tim khusus semasa Tito Karnavian menjabat sebagai Kapolri.

Tim pertama, dibentuk pada 12 April 2017. Tim kedua, dibentuk pada 8 Januari 2019. Tim itu berfokus dalam bidang penyelidikan dan penyidikan. Tim tersebut merupakan buah dari rekomendasi atas hasil laporan tim pemantauan proses hukum Novel Baswedan yang dibentuk oleh Komnas HAM.

Kemudian, tim ketiga sering disebut dengan tim teknis. Tim itu merupakan rekomendasi dari tim gabungan. Saat itu, Tito Karnavian mengeluarkan Surat Perintah Tugas (Sprint) pada tanggal 1 Agustus 2019. Meski demikian, hingga kini pelaku lapangan dan intelektual penyiram air keras Novel belum terungkap.

Berita Lainnya