sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Saat mahasiswa generasi pandemi mencari sahabat sejati 

Pandemi membuat mahasiswa baru kesulitan menjalin persahabatan dengan rekan seangkatannya.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Minggu, 21 Feb 2021 16:47 WIB
Saat mahasiswa generasi pandemi mencari sahabat sejati 

Sudah lebih dari enam bulan, Iratri Puspita, 19 tahun, tidak menengok kampus tempatnya kuliah di Surabaya, Jawa Timur. Sejak pandemi Covid-19 bergulir dan kuliah dijalankan secara daring, mahasiswa baru jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga (Unair) itu kini tinggal di rumahnya di Kediri. 

"Dari awal kuliah, saya juga belum pernah ketemu langsung sama temen-temen saya. Saya jadi enggak tahu karakter mereka itu kayak apa," tutur Iratri kepada Alinea.id, Senin (15/2).

Semester anyar perkuliahan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unair dimulai pada September 2020. Iratri menuturkan, ketika itu, ia sempat bingung lantaran tak paham seluk-beluk dunia perkuliahan. Karena tak saling kenal sebelumnya, ia pun segan meminta informasi ke rekan mahasiswa baru yang lain.

"Agak susah cari informasi prodi yang saya ambil, semisal seperti apa progres ke depannya, apa saja yang akan dipelajari, lalu kehidupan kampus itu seperti apa. Itu karena komunikasi terbatas," ujar Iratri.

Pada masa awal perkuliahan, menurut Iratri, ia hanya bertemu dengan teman seangkatan di ruang perkuliahan online. Dalam pertemuan-pertemuan itu, hampir tak ada canda tawa. Obrolan antara dia dan rekannya hanya sebatas soal perkuliahan. 

"Enggak bisa lepas buat cerita. Kalau (bertemu) langsung kita bisa lihat bahasa tubuh dan mimik orang. Kuliah kan pasti serius dan enggak bisa ngobrol santai," ujar dia. 

Tak puas dengan pertemanan kaku itu, Iratri dan rekan seangkatannya mulai bersiasat. Salah satunya dengan menggelar acara nonton film bareng (nobar) via aplikasi Zoom. Terhitung sudah lima kali dia dan rekan-rekannya nobar. 

Acara nobar itu, kata Iratri, cukup ampuh jadi medium untuk mencairkan suasana dan mengenal karakter masing-masing. Saat menentukan film yang mau diputar, misalnya, ia dan rekan-rekannya seringkali terlibat silang pendapat yang terkadang "konyol". 

Sponsored

"Ada yang pengin film horor, film drama, film action. Wah, kadang kita suka lama tuh nentuin film. Tapi, dari situ kita paham karakter masing-masing, mana yang agresif yang pendiam. Saat nonton film itu, kita juga sembari ngobrol," ujarnya.

Dari kegiatan-kegiatan semacam itu, menurut Iratri, interaksi antara rekan seangkatan mulai intens. Kini, Iratri bahkan punya sejumlah rekan kuliah yang bisa dikategorikan sebagai teman. "Tapi, itu baru sebatas temen sekelas saja dan belum terlalu akrab," kata dia. 

Sulitnya membangun ikatan pertemanan via layar juga dialami Cici Aryanti, mahasiswa baru jurusan Kesejahteraan Sosial, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Sulit bergaul, Cici mengaku belum punya rekan kuliah yang bisa dikategorikan sebagai sahabat. 

"Soalnya suka canggung untuk kenal atau membangun pertemanan. Apalagi, kalau di online itu, kadang susah untuk tahu dia orangnya kayak apa. Mungkin kalau kuliah offline bisa kali kalau kenal banyak teman yang bisa dijadikan sahabat," kata dia kepada Alinea.id, Senin (15/2).

Sejak perkuliahan dimulai, menurut Cici, belum ada momen pertemuan fisik antara ia dan rekan-rekan seangkatannya di kampus. Pertemuan virtual yang dihadiri lengkap oleh seluruh rekan sejurusan pun tidak pernah ada. 

"Aku sampai sekarang, terus terang, kurang tahu berapa total jumlah mahasiswa di jurusan Kesejahteraan Sosial di UIN. Aku pribadi juga hanya kenal beberapa (rekan seangkatan) saja karena memang agak susah buat kenal dekat via Zoom," kata dia. 

Buruknya relasi antara mahasiswa baru itu sebenarnya tak sepenuhnya didiamkan oleh pihak kampus. Menurut Cici, ada pula dosen kreatif yang serius mencoba membangun keakraban di kalangan mahasiswa baru. 

"Tiba-tiba itu (si dosen) suka ngajakin Zoom meeting. Padahal, itu hari libur. Dosen itu bercanda terus enggak pernah serius. Kita pun akhirnya ikut-ikutan bercandain dia. Cuma masalahnya yang ikut suka enggak lengkap," kata Cici. 

Bagi Cici, pertemuan virtual yang santai semacam itu sangat berharga. Diselingi tawa, ia mengaku, lebih mudah berbagi cerita kepada rekan-rekannya. "Karena saya sama satu kelas pun masih segan untuk tanya karena enggak pernah ketemu secara langsung," terang dia. 

Cerita sedikit berbeda diutarakan Isna Lifina, mahasiswa baru jurusan Manajemen, Universitas Nasional (Unas). Merasa ruang virtual tak cukup bikin akrab, ia dan rekan-rekannya sesekali menggelar pertemuan fisik di luar ruang kelas.

"Kadang kita ngadain acara bakar-bakar. Desember (2020) kemarin, kita ke kawasan Puncak, (Bogor). Ada sekitar 200 mahasiswa dari 500 mahasiswa Manajemen (yang datang) untuk ketemuan," kata Isna saat dihubungi Alinea.id, Senin (15/2). 

Tak hanya karena bosan saja, menurut Isna, pertemuan fisik itu--meskipun berisiko--digelar lantaran pertemuan virtual cenderung melahirkan lingkaran pertemanan yang eksklusif. Itu menyebabkan ada rekan seangkatan Isna yang "terpinggirkan" dari jaringan pertemanan.

"Tapi, itu (pertemuan fisik) juga belum bisa (membuat mahasiswa baru) mengenal semuanya karena masih ada yang dari luar kota (yang tak bisa datang), seperti dari Kalimantan dan Lampung," ujar Isna. 

Ilustrasi kuliah online di era pandemi Covid-19. /Foto Unsplash

Kampus tak boleh lepas tangan

Kepada Alinea.id, sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Lidya Triana mengatakan, interaksi via layar memang sulit diharapkan bisa membangun ikatan yang kuat antara mahasiswa. Terlebih, sebagian besar dari mahasiswa baru tidak pernah bertemu muka sebelumnya. 

"Berkomunikasi kan enggak sekadar ketemuan. Kalau kita bertemu langsung kan bisa melihat gesture tubuh. Banyak komunikasi yang dipertukarkan. Tidak hanya verbal, tapi juga nonverbal. Saya menduga mahasiswa baru kesulitan untuk bisa membangun itu," ujarnya saat dihubungi, Kamis (19/2).

Menurut Lidya, sulitnya membangun ikatan pertemanan atau persahabatan terutama dialami oleh mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri. Itu terjadi lantaran karakter mahasiswanya cenderung heterogen karena berasal dari berbagai daerah. 

"Sedangkan kampus yang homogen atau mungkin, misalnya, kampus yang banyak anak Jakarta-nya itu bisa lebih cepat membangun bonding sebab dia (mahasiswa baru) bisa  berjumpa dan berinteraksi secara langsung  tanpa sepengetahuan kampus," kata dia. 

Kesulitan bersosialisasi antara mahasiswa baru itu, kata Lidya, bisa "diakali" dengan menciptakan kegiatan-kegiatan yang mendorong terciptanya komunikasi intens antara maba. Di lingkup akademik, misalnya, dosen bisa lebih banyak memberikan tugas kelompok bagi mahasiswa. 

"Jadi, mereka diikat untuk saling berkerja sama di tingkat program studi. Dari situ, bakal tercipta percakapan dari masing-masing karakter yang berbeda. Bila mengandalkan cara formal, ya, yang didengar hanya suara saja dan tidak bisa mengenal lebih dalam," kata dia. 

Cara lainnya, lanjut Lidya, ialah membangun ruang kelas virtual yang merangsang diskusi. Dengan bertukar gagasan di ruang kelas, mahasiswa baru bisa saling mengenal karakter masing-masing. "Kelas yang aktif yang disertai diskusi yang juga aktif bisa memicu mahasiswa saling membangun ikatan," kata dia. 

Upaya membangun kedekatan juga bisa dilakukan dosen dengan membahas persoalan-persoalan personal yang dihadapi mahasiswa selama pandemi. Diskusi semacam itu, kata Lidya, bisa dilakukan dosen di sela-sela perkuliahan atau bahkan di tengah jam kuliah. 

"Jadi, jangan melulu hanya membahas materi kuliah. Tunjukkan empati terhadap mahasiswa yang mungkin kesulitan mendapatkan sinyal di tempat dia tinggal. Cara itu lebih bisa kena ke masing-masing person," ujar Lidya.

Berita Lainnya