sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Semua bisa berperan menanggulangi risiko bencana

Letak Indonesia berpotensi besar terjadi berbagai ancaman bencana tektonik dan vulkanik.

Achmad Rizki Muazam
Achmad Rizki Muazam Rabu, 09 Sep 2020 19:43 WIB
Semua bisa berperan menanggulangi risiko bencana

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Mestinya pepatah tersebut kita ingat-ingat dan terapkan dalam menghadapi banyaknya bencana di negeri ini, termasuk bencana nonalam yang saat ini terjadi, pandemi Covid-19. Masyarakat harus terlibat mengurangi risiko bencana dengan pemahaman dan pengetahuan yang cukup.

Secara geografis, Indonesia sebagai negara kepulauan terletak di khatulistiwa, di antara Benua Asia dan Australia serta di antara Samudra Pasifik dan Hindia, berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia. Nusantara adalah negeri cincin api, dengan berbagai ancaman bencana tektonik & vulkanik. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat secara umum tren bencana alam di Indonesia meningkat. Pada 2018 tercatat sebanyak 3.397 bencana alam. Sedangkan bencana alam pada 2019, hingga 27 Desember, ada 3.768 peristiwa, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Bencana alam yang terjadi di Indonesia sangat beragam, bisa tsunami, gempa, letusan gunung berapi, longsor, kekeringan, banjir.

Data BNPB juga menyebutkan lima provinsi yang paling banyak terkena bencana alam pada 2019, yakni Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Aceh, dan Sulawesi Selatan. Tahun sebelumnya, peta daerah rawan tidak terlalu banyak berubah.

Bagaimana dengan tahun ini? Khusus Provinsi Jawa Barat sepanjang Januari hingga Agustus 2020 sudah menghadapi 1.039 bencana alam yang berdampak pada 768.319 warga. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat Dani Ramdan mengatakan, sebagian besar bencana hidrologi, termasuk banjir dan tanah longsor.

Itu baru bencana alam. Belum lagi bencana nonalam, seperti penyebaran Covid-19. Per Selasa (8/9), jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah menembus 200.035. Kenaikannya cukup pesat selama dua pekan terakhir. 

Dalam bencana nonalam Covid-19, Jawa Barat termasuk dalam daftar lima provinsi dengan kasus paling banyak baik secara keseluruhan maupun penambahan harian. Hingga kemarin, terkonfirmasi 13.045 kasus Covid-19 di Jawa Barat.

Saat negara ini rawan bencana alam, plus sekarang ada bencana nonalam, literasi dan kesadaran masyarakat untuk tanggap bencana masih sangat minim. Padahal, peran masyarakat dalam penanggulangan bencana sangat penting. Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana disebutkan kewajiban masyarakat, yakni melakukan kegiatan penanggulangan bencana dan Mmemberikan informasi yang benar kepada publik tentang penanggulangan bencana.

Sponsored

Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang tanggap bencana bukan hanya kewajiban pemerintah, tapi juga bisa dilakukan semua pihak. Hal itu sudah banyak dilakukan perusahaan, baik hanya untuk kepentingan internal maupun lingkungan sekitar.

Cirebon Power, perusahaan yang mengoperasikan pembangkit listrik di Cirebon, misalnya, bekerja sama dengan Pangkalan TNI Angkatan Laut dan Ditpolairud Polda Jawa Barat membentuk kelompok Masyarakat Tanggap Bencana (Astana). Sejauh ini, sudah ada 20 anggota Astana. Mereka datang dari berbagai latar belakang.

Community Development Manager Cirebon Power Hafid Saptandito mengatakan, tujuan pendirian Astana untuk mendorong masyarakat lebih aktif, memudahkan sinergi antara masyarakat, perusahaan dan pemerintah dalam menangani bencana. Dia juga berharap masyarakat punya pemahaman lebih baik dalam tanggap bencana.

Saat ini, anggota Astana fokus mengurangi risiko penularan Covid-19. Mereka menyemprotkan cairan disinfektan di desa-desa sekitar pembangkit Cirebon di Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Dimulai dari orang-orang terdekat, mereka mengajak agar selalu menerapkan protokol kesehatan. 

"Semoga dengan adanya kelompok Astana, bisa meningkatkan kesadaran masyarakat terkait risiko Covid-19 dan ke depan bisa membantu menangani bencana lainnya," ujar Hafid.

Ketua Astana Salam berharap kegiatan Astana bisa meringankan beban pemerintah dalam menangani penyebaran Covid-19. Selain itu, ia juga yakin Astana bisa terlibat dalam penanggulangan risiko bencana lainnya karena sudah mendapat pelatihan dari tim TNI Angkatan Laut, Ditpolairud Polda Jawa Barat, dan tim medis Cirebon Power. 

“Kami sudah mendapat pelatihan dasar dan peralatan, semoga keberadaan Astana bisa jadi elemen gotong royong untuk membantu masyarakat saat diterpa bencana” ujar Salam.

Berita Lainnya