sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Telemedisin dan obat gratis: Maksud baik, menyisakan masalah

Apakah memberikan obat gratis bagi pasien Covid-19 yang isolasi mandiri adalah solusi?

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Jumat, 30 Jul 2021 17:21 WIB
Telemedisin dan obat gratis: Maksud baik, menyisakan masalah

Nuraini—akrab disapa Aini—terkejut dengan kedatangan enam orang anggota TNI ke rumahnya. Hatinya lega setelah mengetahui maksud kedatangan para serdadu itu hanya untuk memberikan paket obat dan vitamin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah.

Aini memang pernah terinfeksi Covid-19. Namun, sudah sepekan ia dinyatakan negatif dan sembuh.

“Kesal sih, kok baru (sampai) sekarang. Akhirnya hanya vitamin saja (yang diminum),” tutur warga Pademangan, Jakarta Utara itu saat dihubungi Alinea.id, Selasa (27/7).

Paket itu berisi oseltamivir, parasetamol, vitamin C, vitamin D, dan zinc. Usai dirinya terpapar Covid-19 pada Sabtu (3/7) dan mengalami gejala, seperti demam, batuk, dan anosmia, Aini mencoba memanfaatkan layanan telemedisin yang digagas Kemenkes.

Dari 11 layanan telemedisin, Aini memilih Halodoc. Melalui aplikasi tersebut, Aini berkonsultasi dengan dokter lewat pesan singkat. Dokter tak memberikan resep obat, usai Aini menceritakan gejala yang dirasakannya.

Alasannya, Aini belum mendapatkan pesan WhatsApp dari Kemenkes. Pesan tersebut menjadi syarat bagi pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri untuk mendapatkan paket obat gratis. Aini kemudian mencoba memastikan dirinya terdaftar sebagai pasien Covid-19 isolasi mandiri lewat situs web isoman.kemkes.go.id.

“Setelah memasukkan NIK (nomor induk kependudukan), hanya tertulis ‘pasien yang nerima resep obat’. Tapi enggak di-WA dan enggak dapat resep dari dokter. Tiba-tiba obat dikirim ke rumah,” ucapnya.

Pengalaman tak menyenangkan juga dialami Dimas Satryo. Setelah dinyatakan positif Covid-19 dengan gejala demam pada Jumat (9/7), ia mencoba layanan konsultasi kesehatan jarak jauh lewat Alodokter. Akan tetapi, Dimas merasa kurang jelas dengan keterangan dokter saat berkonsultasi.

Sponsored

“Mungkin karena gratis kali ya,” kata pria berusia 25 tahun itu saat dihubungi, Selasa (27/7).

Program jalan terus

11 layanan telemedisin untuk pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri./Foto Instagram Kemenkes.

Program layanan telemedisin dan obat gratis bagi pasien Covid-19 yang isolasi mandiri diluncurkan Kemenkes pada Senin (5/7). Telemedisin bisa diakses secara gratis pada 11 aplikasi kesehatan, antara lain Alodokter, GetWell, Good Doctor, Halodoc, KlikDokter, KlinikGo, Link Sehat, Milvik, Prosehat, SehatQ, dan YesDok.

Sedangkan untuk mendapatkan obat gratis, syaratnya pasien harus mendapat pesan WA dari Kemenkes yang berisi kode voucher guna menebus obat. Adapun ketentuan mendapat pesan tersebut, pasien telah dinyatakan positif dari hasil tes PCR yang diterbitkan laboratorium jaringan Kemenkes.

Menanggapi hal itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengklaim, layanan bantuan paket obat bagi pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri berjalan dengan baik. Setiap pasien yang ingin mengajukan permintaan obat, kata dia, harus melewati proses konsultasi dengan dokter secara daring maupun langsung di puskesmas.

“Artinya, itu tetap dalam pengawasan nakes. Jadi, bukan bagi-bagikan obat tanpa kejelasan,” tutur Nadia ketika dihubungi, Rabu (28/7).

Terkait adanya warga yang mengalami keterlambatan pengiriman paket obat, Nadia mengatakan, hal itu bisa disebabkan adanya kekosongan stok obat. Terlepas dari itu, ia menilai, warga yang menjalani isolasi mandiri selalu mendapatkan pemantauan dari tenaga kesehatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga anggota TNI dan Polri.

Nadia juga meluruskan ihwal kendala warga, terutama syarat administrasi ketika mengakses layanan telemedisin. Menurutnya, konsultasi kesehatan daring dan resep paket obat hanya bisa dilakukan bila pasien dinyatakan positif dari hasil pemeriksaan PCR yang dilakukan laboratorium terafiliasi Kemenkes.

Setidaknya ada 743 laboratorium pemeriksaan PCR yang terafiliasi dengan Kemenkes. Dari jumlah itu, sebanyak 114 laboratorium ada di Jakarta.

Nadia menuturkan, pemerintah tak membayar satu persen pun kepada 11 layanan telemedisin yang bermitra dengan Kemenkes. Menurut dia, keterlibatan 11 layanan telemedisin tersebut semata-mata hanya ikut berkontribusi dalam menangani pandemi Covid-19.

“Itu inisiatif mereka sendiri, gotong royong,” ujarnya.

Sementara itu, dokter spesialis gizi Samuel Oetoro menyarankan agar warga bisa konsultasi terlebih dahulu pada dokter, sebelum mengonsumsi obat. Termasuk paket obat dari pemerintah.

Pasien Covid-19 berstatus orang tanpa gejala (OTG), kata Samuel, cukup mengonsumsi vitamin untuk meningkatkan imunitas. Tak perlu obat. Vitamin juga aman bila dikonsumsi selama tak melebihi dosis yang dibutuhkan tubuh.

“Antivirus itu namanya obat. Semua obat punya efek samping. Namun, efek samping itu akan timbul kalau dosisnya berlebihan dan orangnya punya kelainan, seperti kelainan ginjal dan hati,” tutur Samuel saat dihubungi, Rabu (28/7).

Umumnya vitamin yang dikonsumsi pasien Covid-19 adalah vitamin C dengan dosis dua gram per hari dan vitamin D3 dengan takaran 1 x 5.000 international unit (IU) per hari. Untuk antioksidan, antara lain zinc dengan dosis 25-50 miligram per hari, selenium 50-60 mikrogram per hari, dan acetylcystesine dengan takaran 400-600 miligram per hari.

“Yang penting makan hindari gula, hindari gorengan. Terus banyakin makan buah dan sayur karena itu banyak mengandung vitamin juga,” tuturnya.

Presiden Joko Widodo memegang contoh paket vitamin dan obat gratis untuk pasien Covid-19 yang tengah isolasi mandiri, Kamis (15/7/2021)./Foto Instagram Jokowi.

Perlu dievaluasi

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Hasbullah Thabrany menilai, konsultasi kesehatan melalui layanan telemedisin bukan jalan tengah untuk mengobati pasien Covid-19 yang isolasi mandiri.

Dalam proses mendiagnosis penyakit, kata Hasbullah, ada tiga tahap yang perlu dilakukan dokter. Pertama anamnesis, yakni dokter mengajukan beberapa pertanyaan untuk menilai kondisi kesehatan pasien. Kedua auskultasi, yakni dokter melakukan kontak fisik dengan pasien guna memeriksa bagian tertentu, dengan alat dasar seperti stetoskop.

“Dokter harus mendiagnosis yang benar, enggak bisa tebak-tebakan. Ada virus enggak bisa dideteksi pakai alat, harus diperiksa di laboratorium,” kata dia ketika dihubungi, Kamis (29/7).

“Oleh karena itu, enggak mungkin telemedisin menggantikan (konsultasi tatap muka).”

Di sisi lain, epidemiolog dari FKM UI Pandu Riono mengkritik pemberian paket obat gratis yang digagas Kemenkes. Baginya, pemberian obat itu merupakan kesalahan fatal yang dilakukan pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19.

“Mengapa dikasih obat? Orang sakit harusnya dibawa ke rumah sakit. Apalagi, obatnya sebagian obat keras,” kata Pandu saat dihubungi, Rabu (28/7).

Obat keras yang dimaksud Pandu ialah antivirus oseltamivir dan antibiotik azitromisin. Oseltamivir sesungguhnya sudah dicoret dari daftar paket obat gratis bagi pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri, diganti favipiravir. Pemerintah beralasan, favipiravir lebih ampuh melawan varian Delta.

Menurut Pandu, konsumsi obat keras itu menjadi penyebab angka kematian pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri melonjak. Warga yang melakukan isolasi mandiri, kata Pandu, sebaiknya dipantau, bukan diberi obat.

“Menurut saya sih itu terlalu bodoh membagi-bagi obat,” tutur Pandu.

Ia menduga, hanya Indonesia negara di dunia yang menangani pandemi Covid-19 dengan memberikan obat gratis. Padahal, pemberian obat itu harus melalui proses konsultasi dan penilaian ketat dari dokter. Pasalnya obat memilki efek samping dan berbahaya bila dikonsumsi tanpa anjuran dokter.

“Belum tentu mereka butuh,” ucapnya.

Dihubungi terpisah, epidemiolog dari Griffith University, Australia, Dicky Budiman mengatakan, upaya kuratif atau pengobatan dalam menangani pandemi bukan sebuah solusi. Strategi pengendalian pandemi, menurut dia, adalah preventif dan promotif.

“Kuratif ada, tetapi di belakang. Kalau di depan ya kita akan kalah. Dalam artian banyak korban dan kita akan lama perang melawan pandeminya,” ujar Dicky saat dihubungi, Rabu (28/7).

Infografik Alinea.id/Oky Diaz.

Upaya preventif, menurut Dicky, dilakukan dengan menggencarkan tracing, testing, dan treatment (3T), serta vaksinasi. Dengan cara ini, ia yakin laju transmisi virus bisa ditekan. Sedangkan upaya promotif dilakukan dengan mendisiplinkan penerapan protokol kesehatan.

Menyoal program bantuan paket obat gratis lewat telemedisin untuk pasien Covid-19 yang isolasi mandiri, Dicky menyarankan pemerintah untuk mengevaluasinya. Apalagi dalam layanan itu masih ditemukan sejumlah kendala. Di dalam paket obat itu juga terdapat antivirus, yang belum memiliki bukti ilmiah dapat melawan Covid-19.

“Kan itu lebih pada trial-error saja. Dan karena trial-error, tentu yang harus memutuskan adalah dokter. Tidak bisa asal. Karena bisa jadi malah merugikan yang bersangkutan (pasien),” tutur Dicky.

Menangani pandemi, tutur Dicky, tak bisa disamakan dengan penyakit biasa, seperti cacingan yang bisa diobati dengan obat cacing. Pandemi Covid-19, menurut Dicky, sama dengan penyakit tubercolosis, yang setiap pasien mengalami kondisi berbeda-beda.

“Sehingga obatnya pun tentu akan berbeda-beda. Kalau yang dibagikan itu adalah vitamin, obat batuk, atau obat demam dalam takaran tertentu, itu tidak masalah,” katanya.

“Tapi kalau antivirus dan antibiotik itu harus berbasis kondisi klinis atau penilaian dokter. Karena akan menimbulkan masalah lain yang lebih serius, yakni resisten antibiotik.”

Berita Lainnya