close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Foto Pixabay.
icon caption
Ilustrasi. Foto Pixabay.
Nasional
Sabtu, 04 Februari 2023 19:50

Yang hilang dan terdampak dari penutupan BRIN Pasuruan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) wilayah Pasuruan pamit. Edukasi masyarakat dan komunitas astronomi terancam redup.
swipe

Bukan hanya kegiatan riset keantariksaan dan pengamatan matahari yang mandek karena penutupan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) wilayah Pasuruan. Edukasi masyarakat dan komunitas astronomi yang berkembang luas di wilayah Jawa Timur pun terancam redup dan padam. 

Dijelaskan oleh Ketua Forum Komunikasi Astronomi Amatir Lintas (FOKALIS) Jawa Timur Muchammad Toyib bahwa kehadiran BRIN Pasuruan amat berarti bagi pegiat astronomi di Jawa Timur. BRIN Pasuruan dan FOKALIS Jatim saling bahu-membahu dan melengkapi dalam kegiatan edukasi publik.

"Edukasi publik yang sifatnya non-formal terkait popularisasi sains, khususnya keantariksaan dan astronomi. Kami telah berhasil mengadakan kegiatan seperti Lunar Eclipse Camp 2018, Yuri's Night 2019, pengamatan dan sosialisasi fenomena astronomi, rukyat hilal, dan bahkan pada 2017 lalu mampu menghelat Jambore Nasional Klub Astronomi bekerja sama dengan komunitas astronomi lain dari seluruh Indonesia," kata Toyib kepada Alinea.id, Sabtu (4/2). 

Seperti diberitakan, BRIN wilayah Pasuruan resmi menghentikan operasional sejak 31 Januari 2023. Pengumuman itu diunggah akun instagram @brinpasuruan. 

"Tak terasa sudah 35 tahun kami berada di sisi teman-teman semua. Tumbuh bersama, mendewasa bersama. Dari generasi ke generasi," tulisnya.

Lewat akun tersebut, BRIN Pasuruan mengaku berterima kasih untuk atensi yang telah diberikan. "Terima kasih sudah menemani sejauh ini. Maju terus keantariksaan Indonesia," tulisnya lagi.

Penutupan BRIN Pasuruan, kata Toyib, merupakan pukulan tersendiri buat komunitas astronomi di wilayah Jatim. Bukan saja kolaborasi yang sudah terjalin, jelas Toyib, BRIN Pasuruan telah melaksanakan fungsinya sebagai pengedukasi publik dengan sangat baik, termasuk membina komunitas astronom amatir yang ada dalam jejaring FOKALIS Jatim.

FOKALIS Jatim, jelas Toyib, memiliki jejaring sekitar 40 komunitas di Jatim. Lewat jejaring inilah, FOKALIS Jatim berkolaborasi dengan BRIN Pasuruan menggelar kegiatan berbasis wilayah dengan partisipasi besar.

Kemitraan setidaknya terjadi sejak 2016 atau sejak ada peristiwa gerhana matahari total. Setelah itu, jelas staf di Unit Office of International Affairs, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini, tiap tahun selalu ada acara besar di BRIN Pasuruan, baik level regional, nasional hingga internasional. 

Atas dukungan jejaring FOKALIS Jatim, jelas Toyib, telah dilahirkan satu paper di jurnal internasional. "Jadi, bisa dibayangkan seberapa sentral peran BRIN Pasuruan dalam pengembangan komunitas astronomi di Jatim, yang muaranya tentu ke pengembangan sains keantariksaan," kata Toyib yang juga menjabat Sekjen Surabaya Astronomy Club itu.

Jika proses penutupan operasional ini harus terjadi dan tidak bisa dianulir, kata Toyib, maka kegiatan-kegiatan komunitas tersebut terancam tidak dapat terlaksana kembali. "Setidak-tidaknya akan terganggu kelangsungannya, entah sampai kapan," jelas Toyib menyesalkan.

img
Satriani Ari Wulan
Reporter
img
Khudori
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan