close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Penyerang Argentina Claudio Echeverri, kiri, dan Paris Brunner dari Jerman, kanan. Foto FIFA
icon caption
Penyerang Argentina Claudio Echeverri, kiri, dan Paris Brunner dari Jerman, kanan. Foto FIFA
Olahraga
Selasa, 28 November 2023 11:42

Piala Dunia U-17: Kans Jerman sedikit, Argentina lebih favorit?

Duo penyerang Argentina, Claudio Echeverri dan Agustín Ruberto, sedang bersaing untuk memuncaki topskor Piala Dunia U-17 Indonesia 2023.
swipe

Duo penyerang Argentina, Claudio Echeverri dan Agustín Ruberto, sedang bersaing untuk memuncaki topskor Piala Dunia U-17 Indonesia 2023. Lima gol sudah sama-sama dicetak oleh keduanya.

Mereka dikejar trio Mali (Ibrahim Diarra, Mahamoud Barry, dan Mamadou Doumbia), winger Prancis Joan Tincres, dan striker Jerman Max Moerstedt yang masing-masing baru mengemas tiga gol. Perburuan topskor menjadi salah satu daya tarik menjelang semifinal.

Albicelestes (Argentina) berhadapan Der Panzer (Jerman) di Stadion Manahan, Surakarta, Selasa (28/11). Artinya Moerstedt beradu ketajaman melawan Echeverri dan Ruberto.

Echeverri pemimpin berkelas

Statistik menunjukkan grafik Echeverri yang paling menanjak, sebaliknya performa Moerstedt mulai menurun. Nomor 10 Argentina (Echeverri) menciptakan hattrick ke gawang Brasil di perempatfinal, lalu diistirahatkan pada menit ke-74. Sedangkan nomor 9 Jerman (Moerstedt) juga diganti, sama di menit ke-74, tapi karena gagal membobol Spanyol di 8 Besar.

Argentina yang dibesut Diego Placente memiliki keuntungan dan peluang lebih besar. Spirit mereka tengah membara karena berhasil menyingkirkan juara bertahan, Brasil, lewat kemenangan telak 3-0. Selain sebelas pemain, faktor teknis kepelatihan Argentina U-17 akan banyak berpengaruh.

Placente dulu terkenal sebagai bek kiri klub Bayern Leverkusen (antara tahun 2001-2005). Dia pasti sudah hapal seluk-beluk sepak bola Jerman.

Echeverri dan Ruberto seperti biasa dilayani prima oleh sayap kiri Ian Subiabre. Tapi kali ini ketimpangan akan terasa lantaran sayap kanan Santiago Lopez absen akibat akumulasi kartu kuning.

“Claudio (Echeverri) adalah pemain yang sangat berkelas,” kata Coach Placente dikutip FIFA. “Dia terus berkembang, dan dia masih perlu belajar banyak. Dia telah menunjukkan kualitas permainannya dan dia juga sangat membumi. Sejak dia masih kecil, dia selalu memiliki tekad yang kuat. Dia juga seorang pemimpin. Dia membantu semua orang, dia berbicara kepada anggota kesebelasan seperti yang dilakukan seorang pemimpin, baik di dalam maupun di luar lapangan. Itu sebabnya saya memilih dia sebagai kapten saya.”

Niscaya Argentina mengulangi taktik di laga terakhir fase Grup D. Kala bertemu satu-satunya wakil Eropa, Polandia, yang mereka gilas 4-0. Keempat gol itu semuanya terjadi dari serangan yang langsung merusak jantung pertahanan, kecepatan mematahkan garis belakang di antara bek tengah Polandia. Alurnya bukan dari skema umpan silang atau manuver ofensif memanfaatkan lebar lapangan.

Pembuktian mental juara

Jerman merupakan tim asal Benua Biru kedua yang coba menjajal keampuhan lini depan Albicelestes. Pengalaman sebelumnya, Der Panzer menekuk Venezuela 3-0, wakil CONMEBOL, di fase Grup F. Dua tim lain asal benua Amerika juga mereka tundukkan, Meksiko 3-1, kemudian Amerika Serikat 3-2 di 16 Besar.

Perbedaan antara kedua semifinalis berupa faktor Polandia dan Venezuela. Polandia susah-payah diatasi Jerman 5-3 pada semifinal Piala Eropa U-17 Hongaria 2023. Argentina malah mudah menggilas Polandia 4-0 di Grup D Piala Dunia U-17 2023. Begitu pula Venezuela disudahi Jerman 3-0, namun lebih banyak gol kemenangan Argentina atas Venezuela 5-0 di babak 16 Besar. Tapi sepak bola bukan matematika, walaupun ahli matematika boleh menghitung data sepak bola. Dua faktor tersebut sudah berada di luar lapangan pertandingan nanti.

Di dalam lapangan, pivot ganda Jerman, Fayssal Harchaoui dan Maximilian Hennig, menjadi pembeda bila mereka sigap meringkus Echeverri di kesempatan pertama. Gangguan serius keduanya pada sentuhan awal jimat Nomor 10 Albicelestes bisa mengurangi bahaya ke jantung pertahanan Jerman hingga 75 persen. Kerja sama mereka sudah terbukti ketika menghabisi bintang Spanyol, Marc Guiu, di perempatfinal.

Ancaman frontal dari Argentina terselip di sayap, tentu kawalan bek kanan Eric Da Silva Moreira berguna agar winger Subiabre mati langkah. Strategi simultan meringkus Echeverri dan mematikan langkah Subiabre, berdampak striker Ruberto akan manyun di ujung depan.  

“Dengan generasi ini, kami bangga dengan apa yang telah kami capai,” ujar pelatih Jerman, Christian Wueck. “Namun kami tidak ingin berhenti di sini. Kami belum pernah menjadi juara dunia U-17 dan kami ingin berada di sini (Indonesia) sampai akhir."

Kinerja Moerstedt yang anjlok menjadi kendala tersendiri. Lagi pula tiada striker cadangan yang berkualitas setara. Alternatifnya, sayap Bilal Yalcinkaya dapat menyamar sebagai Nomor 9 palsu. Selain itu, pergerakan efektif Paris Brunner berduet Noah Darvich, pintar mengincar jaring gawang Argentina untuk Jerman membalikkan semua prediksi di atas kertas.

"Tim ini sangat sukses. Saya pikir ini karena fakta bahwa kami telah kembali ke mentalitas Jerman. Di masa lalu, ada rasa hormat yang besar terhadap mentalitas sepak bola kami dan inilah yang ingin kami capai lagi. Saya pikir kami berada di jalur yang benar. Para pemain muda kami percaya bahwa mereka memiliki peluang sempurna (untuk memenangkan Piala Dunia ini) – dan saya yakin mereka akan mampu memanfaatkannya,” pungkas Coach Wueck.

img
Arpan Rachman
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan