close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Foto: FIFA
icon caption
Foto: FIFA
Olahraga
Jumat, 15 Desember 2023 07:02

Publik Korsel marah, FIFA hapus postingan Shoya dengan bendera matahari terbit

Pada abad ke-19, simbol matahari terbit menjadi bendera militer.
swipe

Bendera matahari terbit Jepang kembali memicu kontroversi karena ditampilkan di akun media sosial resmi Piala Dunia FIFA (Federasi Sepakbola Dunia). Postingan tersebut kemudian dihapus menyusul keluhan dari netizen Korea Selatan.

Profesor Seo Kyung-duk dari Universitas Wanita Seongshin melalui Facebook mengungkapkan keprihatinannya tentang bendera matahari terbit yang digunakan sebagai latar belakang foto Shoya Nakajima, pemain sepak bola terkenal Jepang dari Urawa Red Diamonds. Setelah meraih kemenangan di Liga Champions Asia, klub ini akan berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA di Arab Saudi dari 12 hingga 22 Desember.

“Bendera matahari terbit adalah simbol imperialisme dan militerisme Jepang, yang digunakan selama invasi Jepang ke banyak negara Asia,” kata Profesor Seo.

“Dimasukkannya bendera matahari terbit dalam acara internasional seperti Piala Dunia Antarklub FIFA menjadi pengingat yang menyakitkan atas kekejaman Jepang pada masa perang bagi banyak orang Asia,” paparnya. 

Seo menyoroti bahwa organisasi tersebut telah melarang penggemar Jepang mengibarkan bendera matahari terbit di Piala Dunia Qatar 2022. Dia dengan tegas mengutuk penggunaan bendera tersebut di masa depan.

Pada ajang Olimpiade Tokyo 2020, masalah bendera matahari terbit ini juga memantik kontroversi. Korea Selatan meminta pengibaran bendera itu dilarang.

Menurut para politisi Korsel, bendera itu dikibarkan fans yang ingin meromantisir dan menulis ulang pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan tentara Jepang di masa perang. Politikus Negeri Gingseng itu menganggap Bendera Matahari Terbit sebanding dengan Nazi swastika.

Permintaan ini ditepis oleh panitia Tokyo 2020, pasalnya penggunaan bendera matahari terbit tidak mewakili statemen politik apa pun, dan umum digunakan di Jepang.

​Mengapa Korea Selatan tidak senang dengan bendera matahari terbit?

Bendera Matahari Terbit mempunyai piringan merah serupa namun dengan 16 sinar merah yang memancar darinya. Kedua bendera tersebut sebenarnya sudah digunakan sejak lama, sejak berabad-abad yang lalu.

Pada abad ke-19, simbol matahari terbit menjadi bendera militer. Oleh karena itu, bendera ini berkibar selama ekspansi imperialis Jepang ketika menduduki Korea dan sebagian Tiongkok.

Selama Perang Dunia Kedua, bendera ini menjadi bendera angkatan laut - dan di sanalah bendera ini mendapat reputasi kontroversial. Pasukan Jepang menduduki sebagian besar Asia selama perang dan melakukan kekejaman terhadap penduduk setempat.

Saat ini, bendera tersebut masih menjadi bendera angkatan laut negara tersebut dan versi yang sedikit berbeda digunakan untuk bendera militer reguler.

Pada tahun 1905, Jepang menduduki Korea sebagai protektorat, dan lima tahun kemudian sebagai koloni penuh.

Pemerintahan Jepang merupakan sebuah eksploitasi ekonomi dan ratusan ribu warga Korea dipaksa menjadi pekerja paksa untuk membantu ekspansi Jepang di wilayah lain di Asia.

Rezim brutal ini juga menyaksikan ribuan anak perempuan dan perempuan muda dipaksa bekerja di rumah bordil militer yang didirikan untuk tentara Jepang sebelum dan selama Perang Dunia Kedua.

Dikenal secara halus sebagai "wanita penghibur", mereka dipaksa menjadi budak seksual. Selain korban warga Korea, tentara Jepang juga memaksa gadis-gadis dari Taiwan, Tiongkok, dan Filipina ke rumah pelacuran.

Banyak warga Korea Selatan mengasosiasikan bendera matahari terbit dengan daftar panjang kejahatan perang dan penindasan – dan melihat terus menerusnya penggunaan simbol tersebut oleh Jepang sebagai simbol kegagalan Tokyo dalam mengatasi masa lalunya.

"Bendera tersebut merupakan satu rangkaian keluhan Korea Selatan lainnya mengenai ketidakmampuan – atau keengganan – Jepang untuk menerima tanggung jawab atas pelanggaran kolonial,” jelas analis Korea Ellen Swicord.

Kementerian luar negeri Korea Selatan menggambarkan bendera tersebut sebagai simbol "imperialisme dan militerisme" Jepang.

Dalam kisruh isu bendera matahari terbit pada ajang Olimpiade Tokyo 2020 itu, komite olahraga di parlemen Korsel mengatakan bendera itu "mirip dengan simbol setan bagi orang Asia dan Korea, sama seperti swastika adalah simbol Nazi yang mengingatkan orang Eropa akan invasi horor".(BBC,Donga)

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan