close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Pedagang mendorong gerobak berisi buah melintas di depan sejumlah bendera partai politik nasional yang dipasang di jembatan Pantee Pirak, Kota Banda Aceh, Sabtu (23/3/2019). Antara Foto
icon caption
Pedagang mendorong gerobak berisi buah melintas di depan sejumlah bendera partai politik nasional yang dipasang di jembatan Pantee Pirak, Kota Banda Aceh, Sabtu (23/3/2019). Antara Foto
Pemilu
Jumat, 01 Desember 2023 13:31

Kampanye sukacita: Jangan lupakan substansi!

Pelaksanaan pemilu harus disambut dengan optimistis, dengan rasa bersyukur, dan riang gembira.
swipe

Pelaksanaan kampanye sudah memasuki hari ke-4. Masing-masing pasangan calon maupun tim kampanye pun telah terlihat melakukan aktivitas kampanyenya di berbagai daerah. Hal itu dimaksudkan untuk meyakinkan calon pemilih dengan menawarkan visi, misi, program, dan/atau citra diri peserta pemilu.

Berbeda dengan pemilu sebelumnya, pada kali ini, pemerintah dan penyelenggara pemilu mensosialisasikan kepada semua peserta, agar pemilu dilakukan dengan riang gembira atau sukacita. Maksudnya, suasana aman dan damai harus tetap terkondisikan. Suasana kampanye akan terlaksana tanpa ada gangguan keamanan yang bisa mengganggu jalannya pesta demokrasi.

Namun seiring dengan itu, peserta pemilu jangan sampai melupakan tugasnya untuk memberikan pendidikan politik. Peserta pemilu harus menyampaikan misi dan visi agar pemilih paham kenapa harus memilih peserta pemilu tertentu. Bukan hanya sekedar memperlihatkan joget dan bernyanyi di sosial media.

Pengamat politik dari UI Aditya Perdana mengatakan, pelaksanaan kampanye pada hari ke-4 masih terlihat senyap. Peserta pemilu tampaknya masih melanjutkan aktivitas yang dilakukan sebelum masa kampanye resmi dimulai. 

"Memang sebelumnya peserta pemilu sudah berkeliling ke sana dan sini. Jadi belum ada yang istimewa. Mungkin bedanya kalau sekarang sudah boleh menyatakan agar memilih peserta pemilu. Tetapi kami sangat berharap agar peserta pemilu lebih mementingkan substansi daripada gimik," harap dia, saat dihubungi Alinea.id, Jumat (1/12).

Pemerintah dan penyelenggara pemilu beralasan, pelaksanaan pemilu dengan sukacita untuk mencegah terulangnya situasi Pemilu 2019. Di mana pada saat itu, penyelenggaraan pemilu diwarnai politik identitas hingga manipulasi informasi alias hoaks. Dengan tagline pelaksanaan pemilu dengan sukacita, diharapkan tidak ada lagi caci maki antarpeserta pemilu dan menyerang musuh politik secara personal.

Namun, bukan mengartikan pelaksanaan pemilu atau kampanye didominasi oleh joget atau menyanyi peserta pemilu. Hal itu sebenarnya boleh saja, tetapi peserta pemilu jangan melupakan substansi dan maksud kampanye, yakni penyampaian dan sosialisasi visi, misi, dan program untuk Indonesia yang lebih baik.

"Jika sebelumnya joget dan menyanyi dilakukan di panggung besar, sekarang kelihatannya bergeser di sosial media juga. Tampaknya peserta pemilu melihat kalau masyarakat sudah enggan menerima hal-hal berat sehingga mencoba melakukan kampanye dengan have fun. Itu boleh saja. Tetapi perlu diseimbangkan. Jangan terlalu banyak gimik. Edukasi politik juga perlu dilakukan," tutur dia.

Sementara pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI) Cecep Hidayat berharap, agar pernyataan riang gembira dalam pelaksanaan kampanye tidak sekedar lips service. Tetapi harus mengakar ke bawah agar tidak terjadi konflik di masyarakat. Apalagi ada kesan kalau pelaksanaan kampanye sudah mulai menghangat. Indikasinya terlihat dari mulai saling sindir di antara peserta pemilu. Baik itu, pasangan calon presiden/wakil presiden dan partai politik. 

Kendati begitu, dia mengaku, masin belum melihat adanya kampanye hitam terhadap pasangan calon presiden/wakil presiden ataupun partai politik. Pada saat ini masih sebatas klaim dari masing-masing peserta pemilih. Dan itu masih dalam batas wajar. Karena sepertinya terkait dengan strategi dari masing-masing peserta pemilu.

"Masih aman-aman saja. Belum memanas. Mungkin karena peserta pemilu masih menyimpan energi. Biar tidak kehabisan bensin. Saya menduga pada awal Februari atau pada akhir kampanye terbuka baru ada. Soalnya peserta pemilu bakal habis-habisan menjelang pencoblosan," ucap dia.

Tetapi sebenarnya hal itu akan baik-baik saja hingga akhir masa kampanye jika peserta pemilu mampu mencerdaskan voter. Dalam artian, peserta pemilu dan tim kampanye tidak hanya sekedar mendulang suara, tetapi juga membangun bangsa. Sehingga pemilih tidak mencoblos peserta pemilu karena viral di media sosial.

Di sisi lain, pemilih yang saat ini didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z harus lebih kritis dalam menentukan pilihan. Dengan memperhatikan dan mempelajari misi dan visi dari peserta pemilu. Jangan sampai salah pilih karena pilihannya akan menentukan masa depan bangsa.

Sementara pendiri LSI Denny JA, Denny Januar Ali mengatakan, pelaksanaan pemilu harus disambut dengan optimistis, dengan rasa bersyukur, dan riang gembira. Ini karena pemilu menjadi momen, masyarakat bisa ikut menentukan bulat dan lonjong negara, dengan memilih pemimpin nasional yang baru.

"Kita  baca judul berita. Jokowi mengatakan: Jadikanlah demokrasi riang gembira, bukan perang. Lalu Prabowo merespons: Hadirkan  Pilpres 2024 riang gembira. Pengamat menambahkan: Tampilah  apa adanya, dengan santun dan santuy. TPN  Ganjar menyambutnya dengan nada yang sama: Siap menjalani pemilu dengan riang gembira. Tak ketinggalan Anies Baswedan berharap: Berpolitik  bisa dengan riang gembira dan kesampingkan rivalitas," ucap dia.

Mengapa penting menggaris bawahi pemilu yang riang gembira? Itu karena catatan di masa lalu. Ini karena masa kelam yang pernah terjadi di pemilu kita.

Di mana Pada  2019, di ujung pemilu presiden, di Jakarta 20-21 Mei, tewas delapan orang dan cedera lebih dari 600 orang. Pemilu  presiden saat itu berujung  keriuhan pada kerusuhan. Yang terjadi pada saat itu, bukan pemilu yang riang gembira. Tetapi politk yang penuh permusuhan, prasangka, dan kemarahan. 

Tengok pula pemilu yang lain: Pilkada di DKI 2017. Saat itu terjadi pembelahan masyarakat, permusuhan komunal yang keras sekali. Penyulutnya isu emosional karena politisasi agama. Masyarakat pun terbelah dan jejaknya terasa hingga sekarang akibat Pilkada  di DKI Jakarta 2017. Keakraban warga negara berubah dan terpecah, berdasarkan garis primordial dan persepsi soal agama. Politik saat itu juga tidak riang gembira. Sebaliknya itu politik yang menyimpan benci dan mengobarkan rasa curiga.

Itu akibat beredarnya begitu banyak media sosial yang memainkan informasi palsu.  Saat itu dan kini, hadir 800.000 situs penyebar hoaks di Indonesia. Di era pilpres, hoaks ini bekerja secara maksimal. Aneka situs ini bekerja dalam bentuknya yang terburuk.

Namun untunglah. Di Pemilu Presiden di 2019, terjadi pula terobosan pilitik yang unik. Jokowi selaku presiden yang terpilih, yang menang, mengejak capres yang kalah: Prabowo, untuk bekerja sama masuk masuk dalam kabinet.

Jokowi dan Prabowo kemudian memulai satu tradisi berkompetisi kemudian berujung pada koperasi. Bersaing tetapi kemudian bekerja sama. Pada waktunya apa yang Jokowi kerjakan ini akan menjadi bahan kajian. Itu  menjadi pilihan post election di negara negara yang demokrasinya sedang berkembang.

"Karena itu, kami menekankan sekali lagi. Sebaiknya kita termasuk dalam golongan yang menyambut kampanye pemilu dengan riang dan gembira," harap dia.

img
Hermansah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan