logo alinea.id logo alinea.id

Mencermati gaya komunikasi capres dan cawapres

Jokowi selalu tampil apa adanya, dan blusukan ke tengah-tengah masyarakat. Sedangkan Prabowo, menampilkan retorika tegas saat berpidato.

Annisa Saumi Senin, 07 Jan 2019 20:55 WIB
Mencermati gaya komunikasi capres dan cawapres

Memanfaatkan masa kampanye, pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, saling melempar narasi dengan gaya komunikasi masing-masing.

Jokowi selalu tampil apa adanya, dan blusukan ke tengah-tengah masyarakat. Sedangkan Prabowo, menampilkan retorika tegas saat berpidato.

Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio, gaya komunikasi pasangan capres dan cawapres yang paling efektif, tergantung kepada audiensnya.

Blusukan vs teknokrat

Gaya komunikasi Jokowi, kata Hendri, yang kerap blusukan dan bertatap muka secara langsung sudah sangat efektif.

“Itu bagus sekali untuk Jokowi,” kata Hendri ketika dihubungi, Senin (7/1).

Akan tetapi, menurut Hendri, saat Jokowi berbicara dengan gaya teknokrat, dia akan terbata-bata. Sebaliknya, gaya komunikasi ala teknokrat lebih cocok untuk Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Prabowo, katanya, tak akan tepat bila menggunakan komunikasi blusukan dan tatap muka, seperti Jokowi. Sedangkan gaya komunikasi cawapres nomor urut 01 Ma’ruf Amin, yang punya latar belakang ulama, menurutnya, harus difasilitasi keulamaannya.

“Jangan disuruh bicara dengan gaya milenial,” ujar Hendri.

Hendri melihat, gaya komunikasi masing-masing pasangan capres dan cawapres sudah pas dan efektif. Baik pasangan Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi, sudah dapat membedakan siapa saja audiens yang akan disasarnya.

“Tinggal kita lihat siapa yang paling bisa mendekati masyarakat,” katanya.

Sebab, lanjut Hendri, masyarakat lebih membutuhkan sosok capres dan cawapres yang bisa dekat dengan mereka, ketimbang hanya memberikan harapan-harapan melalui retorika belaka.