logo alinea.id logo alinea.id

Partai politik rebutan pemilih dari iklan televisi

Pemilu 2004 tercatat sebagai pemilu yang mampu mempertemukan dunia politik dengan dunia pemasaran.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Jumat, 12 Apr 2019 15:59 WIB
Partai politik rebutan pemilih dari iklan televisi

Secara sederhana, iklan adalah berita pesanan untuk mendorong atau membujuk khalayak agar tertarik pada apa yang ditawarkan. Bukan hanya barang dan jasa, urusan memengaruhi orang untuk memilih dalam konstelasi pemilu pun mesti beriklan.

Partai politik kerap “menjual diri” melalui aneka medium, seperti spanduk, bendera, media sosial, baliho, dan video di televisi.

Menurut Akhmad Danial di dalam bukunya Iklan Politik TV: Modernisasi Kampanye Politik Pasca Orde Baru (2009), Pemilu 2004 tercatat sebagai pemilu yang mampu mempertemukan dunia politik dengan dunia pemasaran. Saat itu, iklan dan media massa, terutama televisi, menjadi semacam mesin politik baru.

Di ajang Pemilu 2019, beragam konsep iklan dimunculkan 16 partai politik di televisi. Beberapa menampilkan ketua umum mereka, calon wakil presiden, calon anggota legislatif, atau calon presiden yang mereka dukung. Yang lainnya, hanya menampilkan anak-anak muda dengan latar musik mars partai.

Misalnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menampilkan video iklan kegiatan “Konsolidasi Kader PKB 1 kan Indonesia”. Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar disorot dominan.

Di iklan tersebut, pidato Ma’ruf yang menginginkan orang Nahdlatul Ulama balik ke PKB ditampilkan. Partai Gerindra mengangkat calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dalam sejumlah aktivitas di berbagai tempat, dengan lagu latar Mars Gerindra.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menampilkan sosok Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang mengajak anak muda untuk bergerak dan berpihak. Di akhir iklan, foto Joko Widodo, Megawati, dengan foto Sukarno besar dipampang sebagai latar belakang.

Figur dan milenial

Dari seluruh iklan partai politik, Partai Demokrat tampil dengan menegaskan prestasi mereka, sepanjang 10 tahun berkuasa. Komandan Komando Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY ditampilkan untuk mengungkap prestasi partai yang identik dengan warna biru ini.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Renanda Bachtar, iklan partai ini diputar di enam stasiun televisi. Sebelum menampilkan iklan memaparkan prestasi partainya selama 10 tahun berkuasa, partai ini membuat iklan berbasis animasi dan jingle.

Renanda mengatakan, ada top isu dari pesan iklan Demokrat, yakni pesan posisi Demokrat untuk menjaga persatuan, demokrasi, dan pemilu sehat, serta program usungan Demokrat.

“Iklan-iklan itu untuk memperkuat posisi kita, agar masyarakat tak tersedot hanya ada Jokowi, Prabowo, PDIP, dan Gerindra,” kata Renanda saat dihubungi reporter Alinea.id, Selasa (9/4).

Komandan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) (kedua kanan) berswafoto dengan pendukung saat kampanye di Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (4/4). /Antara Foto.

Menurut Renanda, alasan memilih sosok AHY untuk menjadi “bintang iklan” Partai Demokrat, karena ia punya nilai elektabilitas. Meski, tak bisa dimungkiri, masih ada kader lainnya, seperti mantan Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

“Harus ada regenerasi. AHY paling pas menjadi figur ketika Pak SBY tidak bisa lagi tampil,” ujar Renanda.

Konsep iklan Partai Demokrat berbeda dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mengusung pemilih dari generasi milenial, partai kontestan baru di pemilu ini membuat beberapa video iklan sederhana.

“Masyarakat juga menanggapi positif. Mereka suka. Video kami juga menampilkan konsep baru. Selama ini, video iklan parpol umumnya ketum-ketum dengan gaya kuno,” kata juru bicara PSI sekaligus calon anggota legislatif (caleg) Sumatera Utara III Dara Adinda Kesuma Nasution saat dihubungi, Selasa (9/4).

Iklan PSI dengan ketua umum mereka, Grace Natalie dan sejumlah figur dalam partai ini, menampilkan tebak-tebakan dan lontaran garing. Lalu, kerap diakhiri dengan kalimat: “Udah? Udah?” Iklan itu, kata Dara, sebagai sosialisasi PSI.

Terakhir, mereka menghadirkan iklan dengan lagu dangdut yang mengajak orang memilih partai berlambang bunga dalam genggaman ini.

“Iklan politik bisa fun, bisa sambil menyanyi. Iklan dangdut itu masyarakat di bawah suka banget dan hafal lagunya,” tutur Dara.

Dara mengatakan, iklan PSI mendapatkan reaksi dari masyarakat dan warganet. Menurutnya, hal itu menunjukkan dari segi pengetahuan tentang PSI tercapai.

“Akhirnya masyarakat jadi ngomongin PSI,” kata dia.

Berdasarkan riset Alinea.id ketika menelusuri Twitter dari 9 November 2018 hingga 9 April 2019, iklan PSI mendapatkan respons dari anak muda berusia 18 hingga 25 tahun, sebesar 38,2% (1.321 akun). Usia 26 hingga 35 tahun sebesar 35,4% (1.225 akun). Usia 35 tahun ke atas sebesar 22,8% (789 akun), dan usia 18 tahun ke bawah 3,6% (125 akun).

Sedangkan Partai Demokrat mendapatkan respons dari usia 18 hingga 25 tahun sebesar 42,3% (907 akun), usia 26 hingga 35 tahun sebesar 31% (665 akun), di atas 35 tahun sebesar 22,4% (480 akun), dan di bawah 18 tahun sebesar 4,3% (93 akun).