close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Banjir menggenangi Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak Kamis (22/1/2026). Alinea.id/Ali.
icon caption
Banjir menggenangi Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut sejak Kamis (22/1/2026). Alinea.id/Ali.
Peristiwa
Jumat, 23 Januari 2026 18:17

Acil, warung kecil, dan banjir yang tak pernah benar-benar pergi

Banjir musiman di Petogogan membuat warung Acil sepi dan akses terputus. Namun ia tetap membuka lapak, bertahan di tengah genangan dan harapan.
swipe

Air masih menggenang di sekitar Kelurahan Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ketika Acil membuka warung makannya pagi itu. Banjir membuat jalan di depan lapak sederhana miliknya berubah menjadi aliran air keruh, bercampur sampah. Namun seperti hari-hari hujan sebelumnya, Acil tetap datang dan membuka warung.

Di balik etalase kaca, tempe goreng dan tahu tersusun rapi. Telur balado dan sayur tumis sederhana masih hangat. Di sudut warung, kopi dan beberapa minuman siap disajikan. Nasi tetap ditanak, meski Acil tahu pembeli tak akan seramai hari biasa.

Sejak pagi, warungnya lebih sering sunyi. Hanya satu-dua warga datang, membeli makanan untuk dibungkus, lalu kembali ke rumah masing-masing. Tak ada obrolan panjang, tak ada kursi yang terisi lama. Banjir membuat orang memilih cepat-cepat pulang.

“Kalau banjir begini pembeli jadi jarang. Orang-orang juga pada enggak berani keluar,” kata Acil, saat berbincang dengan Alinea.id, Jumat (23/1).

Banjir bukan hanya mengusir pembeli, tetapi juga memutus rutinitas. Akses jalan yang tergenang membuatnya kesulitan berbelanja bahan makanan ke pasar. Sepeda motor tak bisa digunakan, sementara kebutuhan dapur tetap harus dipenuhi.

“Kalau banjir begini, jadi susah buat belanja dagangan. Motor enggak bisa keluar,” ujarnya.

Acil mengatakannya tanpa nada mengeluh. Wajahnya tenang, sesekali tersenyum tipis. Barangkali karena baginya, banjir di Petogogan bukan lagi hal luar biasa. Setiap musim hujan, cerita yang sama terulang.

Yang paling mengganggu, menurut Acil, bukan hanya sepinya warung, tetapi air banjir yang kotor. Sampah hanyut dan mengendap di sekitar warung, memaksa dirinya bersentuhan langsung saat beraktivitas.

“Kalau banjir begini paling sering gatal-gatal, apalagi airnya banyak sampah,” katanya.

Meski demikian, Acil tetap bertahan. Warung kecil itu menjadi satu-satunya sumber penghasilan harian. Menutup warung berarti kehilangan pemasukan, meski membuka warung pun belum tentu mendatangkan banyak pembeli.

Di tengah banjir yang datang hampir setiap tahun, harapan Acil sederhana. Ia ingin air tidak lagi mudah meluap dan mengganggu kehidupan warga kecil seperti dirinya.

“Saya berharap pemerintah mau memperluas kali yang ada di sini biar daerah sini enggak gampang kebanjiran. Sama selokan dibersihin biar enggak ada sumbatan sampah,” katanya.

Bagi Acil, bertahan berjualan di tengah banjir bukan soal pilihan besar. Itu tentang menjalani hari, satu porsi nasi pada satu waktu, sambil berharap suatu hari air benar-benar surut untuk selamanya.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan