close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi Iran. Foto: Ist
icon caption
Ilustrasi Iran. Foto: Ist
Peristiwa
Rabu, 18 Februari 2026 14:31

Iran sebut ada kemajuan perundingan nuklir dengan Amerika Serikat di Jenewa

Iran dan AS melanjutkan perundingan tidak langsung terkait nuklir dengan kemajuan awal, namun perbedaan besar masih menghambat kesepakatan final.
swipe

Iran menyatakan telah mencapai kesepahaman dengan Amerika Serikat mengenai prinsip-prinsip panduan untuk menyelesaikan perselisihan terkait program nuklir Teheran. Pernyataan itu disampaikan setelah perundingan tidak langsung yang digelar di Jenewa, Swiss, dengan mediasi Oman.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan bahwa pembicaraan berjalan konstruktif meski masih ada sejumlah hal yang perlu dirampungkan. Di sisi lain, pejabat Amerika Serikat juga mengakui adanya kemajuan dalam perundingan tersebut.

Pembicaraan tersebut berlangsung di gedung misi Oman di Jenewa, dengan Oman berperan sebagai mediator. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, menyebut negosiasi berjalan dengan baik.

“Pertemuan berakhir dengan kemajuan yang baik dalam mengidentifikasi tujuan bersama dan isu-isu teknis yang relevan," ucapnya dilansir dari BBC, Rabu (18/2).

Sementara itu, seorang pejabat AS mengatakan ada beberapa kemajuan yang telah dicapai meski banyak hal yang perlu dibahas.

“Kemajuan telah dicapai, tetapi masih ada banyak rincian yang perlu dibahas. Pihak Iran menyatakan akan kembali dalam dua minggu ke depan dengan proposal terperinci untuk mengatasi beberapa kesenjangan yang masih ada dalam posisi kami,” ujarnya.

Wakil Presiden AS, JD Vance juga menyebut hasil pembicaraan menunjukkan sinyal positif sekaligus tantangan. 

“Dalam beberapa hal, pertemuan itu berjalan baik, mereka sepakat untuk bertemu kembali setelahnya. Namun, dalam hal lain, sangat jelas bahwa presiden telah menetapkan sejumlah garis merah yang hingga kini belum bersedia diakui dan dibahas oleh pihak Iran,” ucap Vance.

Sebelum pertemuan di Jenewa, Iran menegaskan bahwa fokus utama pembahasan adalah program nuklirnya dan kemungkinan pencabutan sanksi ekonomi yang dijatuhkan Washington.

AS dan sekutu Eropanya selama ini mencurigai Iran tengah bergerak menuju pengembangan senjata nuklir. Namun, Teheran secara konsisten membantah tuduhan tersebut.

Washington sebelumnya juga mengisyaratkan ingin membahas isu lain, termasuk pengembangan rudal Iran. Hingga kini belum ada rincian resmi mengenai cakupan lengkap isu yang dibicarakan di Jenewa.

Perundingan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan yakin Iran ingin mencapai kesepakatan.

“Saya tidak berpikir mereka ingin menghadapi konsekuensi jika tidak membuat kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan di dalam Air Force One. Ia menambahkan, “Kita sebenarnya bisa saja memiliki kesepakatan alih-alih mengirim pesawat B-2 untuk melumpuhkan potensi nuklir mereka. Dan kami harus mengirim B-2 itu. Saya berharap mereka akan lebih masuk akal,” kata Trump.

Dalam beberapa pekan terakhir, AS meningkatkan kehadiran militernya di kawasan tersebut, dengan mengirimkan kapal induk USS Abraham Lincoln di dekat Iran. Selain itu, AS juga dilaporkan mengirim kapal induk USS Gerald R Ford ke Timur Tengah.

Iran merespons pengerahan tersebut dengan latihan militer maritim oleh Garda Revolusi Iran (IRGC) di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi ekspor minyak negara-negara Teluk.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menanggapi ancaman militer AS dengan pernyataan keras. 

“Yang lebih berbahaya daripada kapal induk adalah senjata yang bisa mengirimnya ke dasar laut,” katanya.

Ia juga menyebutkan bahwa tentara yang disebut sebagai “terkuat di dunia” itu terkadang dapat menerima pukulan yang membuatnya tidak mampu bangkit kembali.

Khamenei menuding Amerika Serikat berupaya menentukan hasil negosiasi sejak awal dan menyebut langkah tersebut sebagai hal yang salah dan bodoh untuk dilakukan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai peluang diplomasi tetap ada, meski jalan menuju kesepakatan diperkirakan tidak mudah. 

"Saya pikir ada peluang untuk mencapai kesepakatan melalui jalur diplomatik, tetapi saya juga tidak ingin melebih-lebihkannya. Ini akan sulit,” ujarnya saat berkunjung ke Hungaria.

Perundingan di Jenewa ini merupakan kelanjutan dari pembicaraan tidak langsung sebelumnya di Oman awal tahun ini, yang saat itu oleh Araghchi disebut sebagai awal yang baik. Meski kedua pihak mengakui adanya kemajuan, sejumlah perbedaan mendasar masih perlu dijembatani sebelum tercapai kesepakatan final.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan