China menyerukan penghentian perang Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz saat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan kunjungan ke Beijing, pada Rabu (6/5). Pertemuan itu berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan Iran dengan Amerika Serikat terkait blokade jalur pelayaran strategis tersebut.
Araghchi bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi hanya sepekan sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada 14–15 Mei mendatang. Kunjungan ini menjadi lawatan pertama Araghchi ke China sejak perang Iran-AS-Israel pecah pada akhir Februari lalu.
Dalam pertemuan tersebut, Araghchi menegaskan hubungan Iran dan China akan semakin erat di tengah situasi geopolitik saat ini. Ia juga menyatakan Iran tetap ingin mencapai kesepakatan yang adil dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.
“Kami akan melakukan yang terbaik untuk melindungi hak dan kepentingan sah kami dalam negosiasi. Kami hanya menerima kesepakatan yang adil dan komprehensif,” ujar Araghchi seperti dikutip Al Jazeera, Kamis (7/5).
Sementara itu, Wang Yi mendesak agar Selat Hormuz segera dibuka kembali demi menjaga stabilitas perdagangan global dan menghindari eskalasi lebih lanjut di kawasan Timur Tengah.
“China menilai penghentian total pertempuran harus segera dicapai. Memulai kembali permusuhan sama sekali tidak dapat diterima dan negosiasi tetap penting untuk dilanjutkan,” kata Wang Yi dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri China.
Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu titik paling krusial dalam konflik saat ini. Jalur laut tersebut dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Penutupan jalur itu sejak perang dimulai membuat harga energi global melonjak dan memicu kekhawatiran resesi dunia.
Di sisi lain, Washington terus menekan Beijing agar membantu membujuk Iran membuka kembali Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya meminta China menggunakan pengaruhnya terhadap Teheran untuk meredakan krisis pelayaran internasional.
Kunjungan Araghchi juga berlangsung setelah Trump mengumumkan penghentian sementara operasi militer AS untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Trump menyebut langkah itu diambil atas permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain karena adanya “kemajuan besar” menuju kesepakatan dengan Iran.
Namun hingga kini, negosiasi antara Iran dan AS masih menemui jalan buntu. Washington menuntut Iran menghentikan seluruh pengayaan uranium, sementara Teheran tetap ingin mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz.