close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi kritik. Alinea.id.
icon caption
Ilustrasi kritik. Alinea.id.
Peristiwa
Minggu, 11 Januari 2026 19:47

Habis kritik, malah parno? 5 langkah aman hadapi intimidasi

Lima langkah praktis menghadapi rasa teror setelah bersuara kritis: dari keamanan digital, dukungan komunitas, hingga rencana kontingensi.
swipe

Rasa takut atau teror kerap muncul setelah seseorang menyuarakan kritik terhadap pemerintah, terutama ketika ada bayang-bayang intimidasi atau konsekuensi hukum. Situasi ini tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga kesehatan mental dan rasa aman sehari-hari.

Dirangkum dari panduan bystander intervention online yang disusun Right To Be, berikut lima langkah praktis yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi dan mengelola rasa teror, dengan menekankan kesejahteraan pribadi, dukungan komunitas, serta keamanan yang realistis.

1. Prioritaskan keamanan digital dan fisik

Langkah pertama adalah memperkuat keamanan diri, baik di ruang digital maupun dunia nyata. Gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun, aktifkan autentikasi dua faktor, serta pertimbangkan penggunaan aplikasi komunikasi terenkripsi.

Di sisi fisik, langkah sederhana seperti memvariasikan rutinitas harian dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar juga penting. Sejumlah organisasi, seperti Committee to Protect Journalists dan Access Now, menyediakan panduan keamanan bagi jurnalis, aktivis, dan masyarakat sipil.

2. Bangun komunitas dan jaringan dukungan

Jangan menghadapi rasa takut sendirian. Terhubung dengan teman, keluarga, atau kelompok tepercaya dapat mengurangi perasaan terisolasi. Berbagi cerita dan kekhawatiran sering kali menjadi langkah awal untuk memulihkan rasa aman.

Komunitas aktivis, jurnalis, atau pembela hak asasi manusia—baik luring maupun daring—juga dapat menjadi ruang aman untuk bertukar pengalaman, saran, dan solidaritas.

3. Konsultasi dengan penasihat hukum atau organisasi HAM

Jika ancaman terasa nyata, mencari nasihat hukum profesional menjadi langkah penting. Pengacara yang memahami isu kebebasan sipil dan hak asasi manusia dapat membantu menjelaskan hak serta perlindungan hukum yang tersedia.

Selain itu, organisasi seperti Amnesty International dan Human Rights Watch kerap memiliki sumber daya atau jaringan bantuan bagi individu yang menghadapi intimidasi atau pengawasan berlebihan.

4. Lakukan perawatan diri dan manajemen stres

Rasa takut yang berkepanjangan dapat berdampak serius pada kesehatan mental. Teknik sederhana seperti mindfulness, meditasi, latihan pernapasan, atau aktivitas fisik ringan dapat membantu menurunkan tingkat kecemasan.

Kebutuhan dasar seperti tidur cukup dan asupan nutrisi seimbang juga tidak boleh diabaikan, karena kondisi fisik yang baik berperan besar dalam menjaga ketahanan mental.

5. Susun rencana kontingensi

Memiliki rencana cadangan dapat membantu mengembalikan rasa kendali atas situasi. Rencana ini dapat mencakup daftar kontak darurat, lokasi aman yang bisa dituju jika diperlukan, serta penyimpanan dokumen penting di tempat yang mudah diakses dan aman.

Mengetahui ada langkah konkret yang bisa diambil dalam berbagai skenario sering kali menjadi penyangga psikologis yang efektif di tengah situasi penuh tekanan.

Dengan pendekatan yang terstruktur dan proaktif, rasa teror tidak harus melumpuhkan. Mengelola risiko sekaligus menjaga kesehatan mental menjadi kunci untuk tetap bertahan dan bersuara di ruang publik.

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan