Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak menilai Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak lagi memberikan perhatian besar kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam pembahasan mengenai masa depan Jalur Gaza. Menurut Barak, rancangan kesepakatan terbaru justru mengesampingkan tuntutan utama Israel.
Dalam wawancara dengan penyiar publik Israel KAN, Minggu (2/8), Barak mengatakan rancangan kesepakatan terbaru mengenai Gaza tidak mengakomodasi tuntutan utama Israel.
"Bahasa dalam kesepakatan ini sangat ambigu, tetapi arahnya jelas. Israel dan tuntutannya diabaikan," kata Barak, dikutip dari Anadolu Agency, Senin (3/8).
Menurut Barak, rancangan tersebut tidak mengharuskan Hamas melucuti seluruh persenjataannya, mengeluarkan senjata dari Jalur Gaza, maupun mengasingkan para pemimpin kelompok tersebut
Sebaliknya, rancangan kesepakatan itu justru lebih menekankan penghentian operasi pembunuhan yang ditargetkan, serta pengembalian kendali Israel atas sekitar 53 persen wilayah Gaza, bukan 65 persen seperti yang diinginkan pemerintah Israel.
Barak menyebut kondisi tersebut sebagai kenyataan yang menyakitkan. Menurut dia, Netanyahu telah kehilangan posisi tawar di hadapan Trump sehingga kepentingan Israel tidak lagi menjadi pertimbangan utama dalam perundingan.
"Kenyataan yang menyakitkan adalah Trump tidak lagi memperhatikan Netanyahu, dan semua ini sangat mengkhawatirkan," katanya.
Barak bahkan mengklaim hubungan Trump dan Netanyahu telah mengalami keretakan.Ian menilai Lingkaran dalam Presiden AS juga dinilai mulai kehilangan kepercayaan kepada Netanyahu.
Ia menambahkan, kesepakatan tersebut dicapai tanpa melibatkan Israel dalam proses perundingan. Menurut Barak kondisi itu menunjukkan Israel tidak lagi memiliki pengaruh dalam pembahasan mengenai masa depan Gaza.
Selain menyoroti isu Gaza, Barak juga mengomentari keputusan Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran. Ia menilai langkah itu sudah dapat diperkirakan karena Presiden AS tidak menginginkan perang yang lebih luas di Timur Tengah.
"Apa yang terjadi malam ini sepenuhnya dapat diperkirakan. Trump tidak menginginkan perang berskala besar," ujar Barak.