Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan tidak akan menerima kesepakatan akhir dengan Iran apabila Teheran tetap mengenakan biaya terhadap kapal atau aktivitas pelayaran internasional. Menurutnya, jika Iran diizinkan mengenakan biaya pelayaran, negara lain juga akan menuntut perlakuan yang sama.
Dilansir dari Anadolu Agency, Kamis (25/6), pernyataan itu disampaikan Trump saat menerima Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Gedung Putih, Washington. Trump menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan AS menyetujui perjanjian dengan Iran yang mengizinkan pungutan atas lalu lintas maritim.
"Itu tidak dapat saya terima," kata Trump.
Ia menilai pemberlakuan biaya pelayaran akan mengubah tatanan perdagangan internasional karena dapat mendorong negara lain menerapkan kebijakan serupa.
"Jika Anda mengizinkan itu untuk mereka, Anda juga harus mengizinkannya bagi negara lain. Saya juga tidak akan membiarkannya di tempat lain. Itu akan menjadi pengubah permainan (game changer)," ujar Trump.
Pernyataan tersebut muncul di tengah proses negosiasi antara Washington dan Teheran yang dijadwalkan berlangsung selama 60 hari. Perundingan itu merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang ditandatangani secara elektronik oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pekan lalu untuk membuka jalan menuju kesepakatan terkait program nuklir Iran dan pencabutan sanksi internasional. Trump mengatakan proses negosiasi sejauh ini berjalan positif.
"Kami melakukannya dengan sangat baik," kata Trump ketika ditanya mengenai perkembangan pembicaraan dengan Iran.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menanggapi laporan mengenai serangan terhadap sebuah sekolah dasar di Kota Minab, Iran, pada 28 Februari lalu yang menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar merupakan siswi sekolah.
Trump mengaku belum melihat laporan lengkap mengenai insiden tersebut sehingga belum dapat memberikan penilaian.
"Saya harus menunggu sampai penyelidikannya selesai. Saya tidak tahu apakah mereka akan pernah bisa menyelesaikan persoalan itu, karena saat itu rudal beterbangan ke mana-mana," ujarnya.
Trump menyebut insiden tersebut sebagai peristiwa yang "mengerikan". Namun, ia kembali menegaskan tidak yakin rudal yang menghantam sekolah berasal dari militer AS.
"Seseorang mengatakan itu rudal kami. Mungkin saja bukan. Saya tidak melihat bukti yang membuat saya percaya bahwa itu rudal kami. Saat itu banyak rudal ditembakkan oleh pihak lain," kata Trump.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan pemerintah menangani penyelidikan insiden tersebut dengan serius. Meski demikian, sejumlah penyelidikan independen sebelumnya menyimpulkan bahwa serangan itu dilakukan oleh AS.
Kesimpulan tersebut didasarkan pada sejumlah bukti, termasuk temuan rudal jelajah Tomahawk buatan AS di lokasi kejadian. Trump, sebaliknya, berulang kali menyatakan Iran kemungkinan memiliki akses terhadap rudal buatan Amerika Serikat tersebut.