Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky mengatakan Amerika Serikat menargetkan tercapainya kesepakatan damai antara Ukraina dan Rusia pada awal musim panas, meski berbagai putaran perundingan sebelumnya belum menghasilkan terobosan terkait wilayah dan jaminan keamanan.
“Mereka mengatakan ingin menyelesaikan semuanya pada Juni. Dan mereka akan melakukan segala hal untuk mengakhiri perang. Mereka menginginkan jadwal peristiwa yang jelas,” ujar Zelensky dikutip dari CNN, Senin (6/2).
Ia juga menambahkan penting untuk menetapkan tenggat waktu jika Rusia benar-benar ingin mengakhiri perang.
Zelensky juga menyebut Amerika Serikat mengusulkan pertemuan delegasi Ukraina dan Rusia di Amerika Serikat minggu depan, kemungkinan di Miami.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, Rusia tetap menuntut Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas, termasuk wilayah yang sebagian masih dikuasai pasukan Ukraina, tetapi Kyiv menolak tuntutan tersebut.
Zelensky menegaskan bahwa Ukraina tetap berdiri pada posisinya, dengan garis depan saat ini sebagai dasar gencatan senjata. Ia menambahkan bahwa pihak Amerika menyatakan dapat menjamin pemantauan, merujuk pada negosiasi trilateral yang berlangsung di Abu Dhabi pekan ini.
“Tidak mungkin ada akhir perang tanpa jaminan keamanan. Ini kepastian mutlak,” ujar Zelenzky.
Zelensky juga memperingatkan adanya tanda-tanda bahwa pembahasan bilateral antara AS dan Rusia dapat berdampak pada Ukraina.
“Ukraina tidak akan mendukung kesepakatan apa pun tentang kami yang dibuat tanpa kami,” katanya.
Di tengah upaya diplomasi, Rusia kembali melancarkan serangan besar terhadap infrastruktur energi Ukraina. Serangan tersebut melibatkan lebih dari 400 drone dan sekitar 40 rudal berbagai jenis yang menargetkan jaringan listrik, fasilitas pembangkit, dan gardu distribusi.
“Fasilitas energi mengalami kerusakan signifikan, yang memengaruhi situasi energi di hampir seluruh negara dan menyebabkan pemadaman besar,” kata Zelensky.
Sejumlah wilayah yang terdampak antara lain Lviv, Rivne, Kyiv, dan Kharkiv, ketika suhu di sebagian besar Ukraina berada jauh di bawah titik beku.
Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal mengatakan Rusia menyerang tulang punggung jaringan listrik nasional, termasuk saluran tegangan tinggi 750 kV dan 330 kV serta dua pembangkit listrik tenaga termal. Pemadaman darurat pun diberlakukan di seluruh negeri.
“Pekerja energi siap memulai pemulihan segera setelah situasi keamanan memungkinkan,” ujarnya.
Lebih dari 600.000 pelanggan di wilayah Lviv dilaporkan tanpa listrik. Perusahaan energi DTEK menyebut serangan terbaru merupakan serangan besar ke-10 terhadap fasilitas termal mereka sejak Oktober, dengan total lebih dari 220 serangan sejak invasi skala penuh Rusia dimulai.