logo alinea.id logo alinea.id

Cikeas dan saksi koalisi Gerindra-Demokrat yang rapuh

SBY masygul atas pernyataan Prabowo terkait pilihan almarhumah Ani Yudhoyono dalam Pilpres 2014 dan 2019.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Rabu, 05 Jun 2019 00:39 WIB
Cikeas dan saksi koalisi Gerindra-Demokrat yang rapuh

Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkeberatan atas pernyataan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Saat melayat almarhumah Ani Yudhoyono, Prabowo sempat mengungkit pilihan politik mantan Ibu Negara itu dalam Pilpres 2014 dan 2019.

Saat bertakziah di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Senin (3/6), Prabowo mengungkapkan bahwa mendiang Ani Yudhoyono memilihnya pada Pilpres 2014 dan 2019. Raut wajah dan gestur SBY langsung berubah menyiratkan masygul.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat itu langsung mengatakan kepada awak media selepas Prabowo pergi bahwa apa yang dikatakan mantan Danjen Kopassus tersebut tidaklah etis. "Di saat keluarga kami sedang berduka, apa yang dikatakan Pak Prabowo soal pilihan Ibu Ani tidaklah elok," katanya.

Direktur Eksekutif Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo memandang, apa yang dilakukan Prabowo merupakan sikap untuk menunjukkan perlawanan dominasi dari paslon 01 Jokowi-Amin. Menurutnya, paslon 01 itu terlihat lebih bisa menunjukkan kepedulian terhadap keluarga besar SBY saat pemakaman almarhumah Ani Yudhoyono.

"Dia (Prabowo) bilang begitu karena dia merasa selama dua hari itu prosesi pemakaman Ibu Ani itu menjadi panggung 01. Lihat saja tokoh yang hadir dominan dari 01 kan? Sementara Prabowo sama Sandi tidak ada. Baik di Singapura sampai ke Indonesia, rumah duka sampai Taman Makam Pahlawan kan tidak terlihat Prabowo-Sandi," katanya kepada Alinea.id, Selasa (4/6)

Karyono membaca, sepertinya kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi sangat khawatir dianggap kurang peduli dengan SBY lantaran absen saat pemakaman. "Sehingga, keluarlah perkataan soal pilihan Ani Yudhoyono tersebut. Karena dia (Prabowo) memandang momen ini menjadi milik 01. Nah, sedangkan dia sendiri kehilangan momen karena di luar negeri," katanya.

Ia pun menduga, apa yang dikatakan Prabowo soal pilihan Ani Yudhoyono, bukanlah suatu hal yang spontan, melainkan telah direncanakan. "Dan saya duga ini pembisiknya yang kemarin disebut dengan setan gundul," urainya. 

Hal serupa juga diungkapkan oleh Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran Muradi. Dia memandang, sikap Prabowo usai takziah hanya soal ketidakpercayaan Prabowo terhadap posisi SBY di Pilpres 2019. "Jadi dia mengatakan seperti itu. Kalau percaya mah, dia enggak perlu mengungkit pilihan orang," kata dia saat dihubungi terpisah. 

Sponsored

Selain itu, Muradi pun melihat pernyataan Prabowo soal pilihan Ani Yudhoyono didasari rasa ketidaknyamanan Ketua Umum Gerindra itu terhadap SBY. Sehingga, Prabowo membalas dengan melontarkan pernyataan untuk membuat SBY tak nyaman.

"Kalau orang enggak nyaman dengan anda maka orang itu akan keluarkan pernyataan yang bikin anda enggak nyaman," sambungnya.

Meski demikian, Karyono dan Muradi mengatakan, apa yang diungkapkan Prabowo sangat tidak etis pada saat keluarga SBY tengah berduka. Sebab, hal itu dinilai dapat mencederai semangat kekeluargaan.

"Saya kira apa yang disampaikan Pak Prabowo tak etis, enggak elok dan mencederai semangat kekeluargaan. Saya sendiri merasa heran kenapa Prabowo sampai mengeluarkan pernyataan seperti itu yang mengungkit masalah pilihan ibu Ani di tengah kesedihan yang mendalam dialami Pak SBY," ujarnya.

Koalisi rapuh

Jika ditarik kebelakang, silang pendapat cukup tajam antara elite Gerindra dan Demokrat bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya pada 9 Agustus 2018, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief pernah menyebut Prabowo sebagai "jenderal kardus" lantaran dipandang sangat transaksional dalam memilih calon wakil presiden.

Andi mengatakan, Prabowo telah menyetor uang masing-masing Rp500 juta bagi PKS dan PAN untuk memuluskan jalan Sandiaga Uno menjadi calon wakil presiden mendampingi Ketum Gerindra tersebut.

"Itu yang membuat saya menyebutnya dengan Jenderal Kardus. Jenderal yang enggak mau mikir, artinya uang jadi segalanya," katanya. 

Sontak hal ini pun langsung membuat Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono berang, dan "menyerang" balik Demokrat, dengan menyebut SBY sebagai jenderal baper. "Kalau Prabowo jenderal kardus, SBY itu jenderal baper (bawa perasaan) tukang ngeluh," katanya.

Mantan politikus PDIP ini pun mengatakan istilah jenderal kardus lebih tepat disematkan ke SBY. "Sebab kardus-kardus koruptor itu justru adanya di Demokrat, lihat siapa yang korupsi paling banyak? Demokrat," kata Poyuono.

Kemudian, Andi Arief pun sempat menuduh Prabowo disesatkan oleh pembisik yang disebut Andi dengan "setan gundul" karena telah memberi informasi palsu terkait kemenangan 62% yang diraih Prabowo-Sandi. "Setan gundul ini yang memasok kesesatan manang 62%," cuit Andi Arief lewat akun Twitter-nya @Andi Arief pada Senin (6/5).

Hal ini pun kembali mengusik Arief Poyuono, hingga akhirnya politikus Gerindra itu mempersilakan Demokrat untuk keluar dari koalisi Prabowo-Sandi.

Poyuono melihat sejak bergabung Demokrat ke dalam koalisi Adil Makmur, elite Demokrat tidak memiliki sikap politik yang jelas. "Jadi Demokrat sebaiknya keluar saja dari koalisi Adil Makmur," katanya Poyuono.

Selain itu, politisi Gerindra ini pun memandang, selama masa Pilpres 2019, Partai Demokrat sama sekali tidak memberikan sumbangan perolehan suara untuk Prabowo-Sandi.

"Jadi monggo keluar aja deh, wong enggak ada pengaruhnya menghasilkan suara Prabowo-Sandi kok selama ini. Malah menurunkan suara," kata dia.

Perselisihan ini pun akhirnya membuat Demokrat mengambil sikap tegas. Sekjen Partai Demokrat Hinca Pandjaitan menyatakan bahwa koalisi Indonesia Adil Makmur yang mendukung Prabowo-Sandi bakal berakhir setelah proses rekapitulasi suara di Komisi Pemilihan Umum (KPU) rampung. Ia menyebut koalisi yang terdiri Demokrat, Gerindra, PAN dan PKS bukan koalisi yang abadi, tapi hanya untuk Pilpres 2019.

"Nah capres itu habis batas waktunya 22 Mei 2019. Ya sudah, jangan kau paksa terus main bola, capek juga. Sudah berakhir, selesai," ujar Hinca.

Perselisihan ini pun dipandang oleh Muradi sebagai potret nyata tabiat Demokrat yang memang sejak awal enggan mendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019. "Karena sejak awal memang mereka tak sepenuh hati mendungkung Prabowo-Sandi," katanya.