Sejumlah kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Bandung resmi beralih ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Perpindahan ini dipimpin mantan Wakil Ketua PSI Kota Bandung, Alexander J. Ricky, yang turut membawa sejumlah kader PSI untuk bergabung dengan PDIP. Kehadiran mereka disambut jajaran pengurus PDIP, termasuk Wakil Ketua DPD PDIP Kota Bandung Rafael Situmorang, di kantor DPD PDIP Kota Bandung, Jumat (13/2).
Perpindahan ini ditandai dengan prosesi penyerahan bunga mawar putih yang sebelumnya identik sebagai lambang PSI sebelum berganti menjadi lambang gajah. Ricky menyebut keputusan pindah partai diambil setelah mencermati dinamika politik terkini. Menurutnya, PDIP dinilai lebih sejalan dengan arah perjuangan yang ingin ditempuh bersama.
Analis politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Zaki Mubarak, menilai berpindahnya kader PSI Bandung ke PDIP merupakan bagian dari perang psikologis antara PSI dan PDIP usai konflik elite kedua partai. Selama ini, perpindahan kader cenderung terjadi dari PDIP ke PSI.
Namun, fenomena belakangan ini memperlihatkan PDIP juga melakukan manuver balasan untuk memberi sinyal bahwa PDIP merupakan partai yang tetap diminati. Kendati demikian, ia tidak memungkiri bahwa sejauh ini PSI bukan kompetitor sebanding dengan PDIP.
“Bajak-membajak kader parpol merupakan bentuk political psywar yang sering terjadi, biasanya antara parpol kompetitor. Apa yang dilakukan PDI-P merupakan respons terhadap manuver PSI sebelumnya, yang telah membajak beberapa kader PDI-P dan NasDem. Bagi PDI-P, tentunya PSI bukan saingan serius, partai gurem,” kata Zaki kepada Alinea.id, Selasa (17/2).
Zaki menilai manuver PSI yang membajak kader partai besar merupakan bagian dari siasat untuk mendapat atensi publik, lantaran elektabilitasnya semakin meredup. Citra PSI sebagai partai muda, menurutnya, tergerus karena dominasi elite politikus kawakan di partai berlambang gajah tersebut.
“Dampaknya, PSI saat ini sulit menjual diri sebagai partai anak muda yang sebelumnya menjadi ikon. Jadi, bajak-membajak kader partai lain menjadi manuver untuk mendongkrak popularitasnya. Bagi saya, parpol lain termasuk PDI-P tidak perlu menganggap terlalu serius manuver PSI ini,” kata Zaki.