sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Golkar ajukan 3 orang untuk pimpin MPR, NasDem malu-malu

Partai Golkar mengajukan tiga orang politisi untuk mengisi kursi jabatan pimpinan MPR periode 2019-2024.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Sabtu, 27 Jul 2019 04:03 WIB
Golkar ajukan 3 orang untuk pimpin MPR, NasDem malu-malu

Partai Golkar mengajukan tiga orang politisi untuk mengisi kursi jabatan pimpinan MPR periode 2019-2024.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar Lodewijk Fredrick Paulus menyebut ketiga tokoh yang bakal dicalonkan adalah Airlangga Hartarto, Azis Syamsuddin, dan Zainuddin Amali.

Menurut dia, dari sekian banyak kader Golkar yang cakap, ketiga nama itu lah yang dipandang cocok menjadi pimpinan MPR.

"Calon ada Pak Airlangga. (Aziz Syamsuddin) iya, ada calonnya banyak. Partai Golkar punya calon yang banyak, Aziz terus juga ada Zainudin Amali, banyak," katanya di kawasan Menteng, Jakarta, Jumat (26/7).

Lodewijk mengungkapkan, jika saat ini Golkar telah perlahan menjalin komunikasi dengan partai yang ada di Koalisi Indonesia Kerja (KIK) guna membentuk paket pimpinan MPR. Namun, dia mengatakan hal itu juga nantinya bakal dibahas oleh para ketua umum saat membahas pembentukan kabinet dengan Presiden Jokowi.

"Pelan-pelan ya. Dalam waktu dekat dengan pertemuan para ketua umum itu sebenarnya sudah mulai membahas pelan pelan masalah itu," ujarnya.

Ia pun mengatakan, jika Golkar mulai mencocokkan nama dengan beberapa partai di KIK untuk menyusun paket pimpinan MPR. Misalnya, dengan Nasdem dan PKB

"Iya, salah satunya (Nasdem). Tapi itu belum pasti. Jadi kita berbicara kita dapat dulu. (PKB) pelan-pelan kita bahas itu. Karena politik dinamis, semua bisa cair," ujarnya.

Sponsored

Lebih lanjut, Lodewijk pun membeberkan, dalam waktu dekat Golkar akan segera melakukan komunikasi dengan para tokoh di DPD. Sebab, paket pimpinan MPR, harus ada satu kursi yang diisi oleh DPD. 

"Itu akan dilihat lah karena itu sistem paket ya, tentunya perlu dibicarakan tidak hanya partai politik dan kita juga perlu berbicara dengan DPD," ujarnya.

Sikap Nasdem 

Sementara itu, Partai Nasional Demokrat (NasDem) memastikan, jika mereka akan mengajukan paket pimpinan MPR yang tersusun dari sejumlah partai yang ada di Koalisi Indonesia Kerja (KIK) bersama dengan perwakilan DPD.

Hal ini menegaskan jika NasDem tak ingin mengajak partai di luar KIK atau oposisi yang berada di luar pemerintahan.

"Kami hanya akan membentuk formasi pimpinan, paket pimpinan MPR yang terdiri dari tokoh-tokoh partai koalisi bersama-sama dengan DPD," ujar Sekjen Nasdem Johnny G. Plate pada kesempatan yang sama.

Akan tetapi, Johnny enggan menyebutkan partai mana saja di KIK yang bakal diajak Nasdem untuk membentuk paket pimpinan MPR. Dia pun tak mau mengungkapkan secara detail posisi apa yang diincar NasDem dalam paket tersebut.

"Kalau Nasdem sendiri kami menyiapkan pimpinan tak harus selalu ketua. Kami mendukung nanti calon yang bisa menjadi ketua dengan baik yang akan ditunjuk oleh salah satu ketua partai politik. Tapi NasDem akan menyiapkan di samping juga tokoh-tokoh yang punya kompetensi yang memadai," ujarnya 

Lebih lanjut, Johnny mengatakan, selain tokoh yang cakap, Nasdem juga ingin sekali ada keterwakilan perempuan dalam pimpinan MPR periode 2019-2024.

"Jadi kami ingin selain pengalaman yang memadai juga memperhatikan secara serius keterwakilan gander di MPR,"katanya.

Saat ditanya siapa tokoh perempuan NasDem yang layak duduk di kursi pimpinan MPR, Johnny menyebut nama Lestari Moerdijat, yang dianggapnya memiliki kans besar diusung NasDem untuk menjadi pimpinan MPR.

"Calon perempuan itu ada Ibu Lestari Moerdijat, tapi masih ada yang lain," katanya.

Meski demikian, Johnny pun mengaku siap bila namanya yang  diusung oleh Nasdem untuk ikut menjadi kandidat pimpinan MPR.

Baginya, jika partai memberi mandat, seorang kader tak boleh menolak mandat tersebut. Karenanya, ia siap jika ditugaskan partai untuk maju sebagai calon pimpinan MPR.

"Ya kader kan harus siap di setiap cuaca, di musim hujan dan panas terik juga siap, untuk urus negara masa enggak siap," katanya.

Meski menyatakan siap, Johnny menegaskan, bukan berarti dirinya mengincar posisi tersebut. Hal itu ia garis bawahi. "Hanya jika ada tugas dari pimpinan partai," ujarnya.