sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Jelang Muktamar NU ke-34: Adu taktik berebut kursi Ketua PBNU

Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-34 bakal dihelat di Lampung pada Desember 2021.

Achmad Al Fiqri
Achmad Al Fiqri Sabtu, 23 Okt 2021 06:31 WIB
Jelang Muktamar NU ke-34: Adu taktik berebut kursi Ketua PBNU

Pada Sabtu (16/10) malam, tak seperti biasa, Gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) di Jalan Masjid Al Akbar, Surabaya, Jawa Timur ramai. Saat itu, warga Nahdliyin berkumpul. Mereka menyatakan dukungan kepada KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya untuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode selanjutnya.

Dukungan tersebut datang dari 44 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten/kota di Jawa Timur. Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, KH Anwar Iskandar mengatakan, keputusan itu berdasarkan musyawarah yang panjang.

“Cabang-cabang se-Jawa Timur sudah membuat keputusan akan mengusung Gus Yahya menjadi Ketua Umum PBNU. Jadi, enggak ada nama lain,” ujar Anwar saat dihubungi Alinea.id, Rabu (20/10).

“Kalau sudah diputuskan oleh organisasi, semua satu kata satu kalimat sesuai dengan yang diputuskan. Itu namanya demokrasi benar-benar.”

Dukung mendukung

Dukungan PCNU dan PWNU Jawa Timur itu juga didasarkan pada pertimbangan yang mengacu anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD//ART). Salah satunya, calon ketua umum merupakan pengurus aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Di samping pertimbangan itu, NU juga dinilai perlu dipimpin wajah baru.

“Ya perlu ada pembaruan. Regenerasi. Kalau ketuanya itu-itu saja kan berarti enggak berhasil,” tutur Anwar.

Menurut Anwar, dukungan kepada Gus Yahya juga datang dari PWNU berbagai daerah, seperti Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

Sponsored

Namun, langkah Gus Yahya untuk duduk di pucuk pimpinan NU tak mudah. Sebab, KH Said Aqil Siradj pun santer akan kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU. Salah satu PWNU yang menyatakan dukungan kepada Said adalah Aceh.

Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj (kri) sebelum membuka Kongres ISNU di Istana Negara, Jakarta, Jumat (24/8/2018)./Foto Antara/Hafidz Mubarak A.

Rais Syuriah PWNU Provinsi Aceh Teungku Nuruzzahri menilai, Said Aqil punya kapasitas kepemimpinan yang baik dan tak dimiliki tokoh besar NU lainnya. Teungku mengatakan, sebagian besar PCNU Provinsi Aceh telah sepakat mendukung Said Aqil, menjadi Ketua Umum PBNU kembali.

Said Aqil sudah menjadi Ketua Umum PBNU selama dua periode. Pertama kali, ia terpilih menjadi Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 dalam Muktamar NU ke-32 di Makassar, Sulawesi Selatan. Lalu, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, ia kembali terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2015-2020.

Teungku menyebut, di bawah kepemimpinan Said Aqil, warga Nahdliyin berkembang dari sisi pendidikan dan ekonomi. Kapasitas ilmu dan keimanan yang dimiliki Said Aqil pun dinilai dapat memecahkan segala persoalan internal.

“Kinerjanya bagus. Kealiman dan ketangguhannya itu belum terlihat (ada yang) sebanding dengan Kiai Aqil Siradj,” tutur Teungku, Kamis (21/10).

“Ya, apa salahnya beliau naik sekali lagi. Kan bisa, bahkan lima kali bisa kalau mampu. AD/ART juga tidak membatasi.”

Menjelang Muktamar ke-34 NU yang rencananya dihelat di Lampung pada Desember 2021, nama Katib Aam Syuriah PBNU Yahya Cholil Staquf dan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj muncul untuk duduk di kursi pimpinan PBNU periode selanjutnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pencak Silat Pagar Nusa sekaligus anggota DPR Muchamad Nabil Haroen atau Gus Nabil berharap, pimpinan NU yang akan datang tetap mewarisi nilai-nilai luhur yang telah ditanam pendahulu mereka.

Meski begitu, ia tak mau berkomentar lebih banyak terkait dua nama yang masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Nabil, yang notabene juru bicara Said Aqil itu menyatakan siap menerima hasil apa pun pada muktamar ke-34.

“Pagar Nusa sebagai badan otonom NU tidak selayaknya mengomentari ayah kami, orang tua kami. Karena jargon kami itu NKRI harga mati, bela kiai sampai mati,” katanya ketika dihubungi, Rabu (20/10).

Munculnya nama dua tokoh ini disebut-sebut akan menjadi pertarungan yang menarik. Bahkan, perebutan kursi pimpinan PBNU itu dianggap sebagai ajang adu taktik antara kementerian dengan partai politik dalam meraup suara warga Nahdliyin di PCNU dan PWNU berbagai daerah.

Strategi relasi kuasa

Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya (kanan) dalam acara peluncuran bukunya Perjuangan Nahdlatul Ulama di aula lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2020). Foto YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama.

Menurut Direktur Eksekutif for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam, ajang adu taktik itu bisa dilihat dari relasi politik kedua tokoh. Gus Yahya misalnya, memiliki hubungan darah dengan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut.

“Bagaimanapun juga, dia (Gus Yahya) kan kakak dari Gus Yaqut,” ucap Umam, Kamis (21/10).

Dengan relasi tersebut, Umam menilai, akan ada pengaruh politis untuk mendulang suara warga Nahdliyin di PCNU dan PWNU. Pengaruh politis, kata dia, tak akan secara langsung dilakukan Gus Yahya maupun Gus Yaqut.

“Biasanya teman-teman yang ada di kantor wilayah Kemenag di daerah, kalau mereka berasal dari NU, aktif di PWNU atau PCNU setempat. Artinya, ada irisan di sana,” kata dia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, irisan itu membuka ruang komunikasi politik yang terbuka dari sel-sel kekuatan dan pengaruh Gus Yaqut sebagai Menag untuk memengaruhi suara di level PWNU dan PCNU, melalui struktur Kemenag.

“Memang tidak kasat mata, tetapi celah itu berpotensi terjadi,” ujar Umam.

Tak hanya gerakan akar rumput Kemenag, Gus Yahya juga berpotensi menang, terbantu karena memiliki relasi yang baik dengan trah Gus Dur. “Kalau misalnya (Gus Yahya) menang, maka itu berpotensi betul pada stabilitas internal kepemimpinan di PKB,” ujarnya.

Bagaimanapun, ujar Umam, kekuatan politik Gus Yaqut dan keluarga Gus Dur berpotensi melakukan konsolidasi dan memengaruhi kekuatan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin sebagai ketua Umum PKB mendatang.

Kendati demikian, dosen komunikasi politik Universitas Paramadina ini menilai, Cak Imin akan berupaya keras mempertahankan jabatan politiknya. Caranya, menurut Umam, dengan menggandeng dan mendorong Said Aqil untuk mempertahankan kursi Ketua Umum PBNU.

“Tentu dukungannya tidak bisa dilakukan secara langsung, tetapi melalui proses komunikasi politik dengan elemen-elemen (kader PKB) yang berada di jajaran pengurus wilayah dan pengurus cabang NU,” tutur Umam.

Umam memandang, peran Cak Imin amat penting dalam menentukan keberhasilan tokoh mendapat kursi pimpinan PBNU karena basis warga Nahdliyin cukup besar di PKB.

Rekam jejak dan pengalaman 10 tahun Said Aqil memimpin PBNU, ujar Umam, ikut andil pula dalam pertarungan memperebutkan kursi Ketua Umum PBNU. Terlebih, Umam yakin, Said Aqil punya basis akar rumput yang kuat dan loyal.

“Terutama dengan teman-teman di PWNU dan PCNU, seperti di Jawa Barat, Banten, dan seluruh Indonesia dari barat sampai timur,” tutur Umam.

Infografik Alinea.id/Aisya Kurnia.

Di sisi lain, CEO Alvaro Research Center, Hasanuddin Ali menilai, baik Gus Yahya maupun Said Aqil memiliki kompetensi kepemimpinan yang tak diragukan memimpin PBNU mendatang.

“Masing-masing terkhidmat di PBNU sudah lama,” kata Hasanuddin, Rabu (20/10).

Hanya saja, Hasanuddin merasa, calon Ketua Umum PBNU perlu peka terhadap persoalan bangsa ke depan, seperti pandemi Covid-19 yang mengguncang sektor ekonomi nasional. Menurutnya, kemampuan tersebut bisa menjadi nilai tambah bagi calon lantaran dapat merepresentasikan solusi atas persoalan tersebut.

Hasanuddin pun mengatakan, kandidat ideal yang memimpin NU kelak, yakni yang bisa merangkul seluruh warga Nahdliyin, terutama anak muda. Tujuannya, mempersiapkan anak muda Nahdliyin menjadi pemimpin NU masa depan.

“Kiai Said dari sisi pengalaman memimpin PBNU sudah lama, tetapi dari sisi mempersiapkan anak-anak muda mungkin itu salah satu kelemahannya,” ujarnya.

“Kalau Pak Yahya, saya kira mempunyai kekuatan di penerimaan anak-anak muda.”

Hasanuddin memprediksi, NU bakal gagap teknologi dan perkembangan zaman bila pemimpin yang akan datang tak punya kemampuan tersebut. Baginya, selain diterima seluruh warga Nahdliyin, pemimpin NU harus memiliki jiwa progresif dan inovatif.

“Saya melihat, lebih baik kita menatap masa depan daripada terjebak dalam romantisme masa lalu, karena organisasi itu kan harus selalu bergerak dan mengantisipasi dampak perubahan di masa depan,” tuturnya.

Berita Lainnya