sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Ketika Sukarno tertipu raja dan ratu gadungan

Berita bohong yang dilakukan Ratna Sarumpaet bukan yang pertama terjadi. Dahulu, Presiden Sukarno pun pernah tertipu raja dan ratu gadungan.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Kamis, 04 Okt 2018 16:10 WIB
Ketika Sukarno tertipu raja dan ratu gadungan

Beberapa hari kemarin, publik sempat dihebohkan dengan beredarnya foto wajah lebam salah seorang tim kampanye Prabowo-Sandiaga, yang juga aktivis, Ratna Sarumpaet di media sosial. Sontak, hal itu membuat gerah kubu calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 02.

Pada Selasa (2/10) di kediamannya, Jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Prabowo sampai-sampai menggelar konferensi pers, usai bersama Amie Rais mendengarkan cerita Ratna.

“Perempuan berusia 70 tahun yang berjuang untuk orang miskin, yang berjuang untuk keadilan, demokrasi, dan sikap ini adalah sebuah ancaman yang sangat serius terhadap demokrasi,” kata Prabowo saat itu.

Sebelumnya, Wakil Ketua Tim Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Nanik S Deyang mengungkap kasus penganiayaan Ratna. Dia mengatakan, Ratna dianiaya tiga orang tak dikenal di sekitar Bandara Husein Sastranegara, Bandung, usai menghadiri acara konferensi internasional di sebuah hotel.

Taksi yang ditumpangi Ratna dihentikan. Lalu, dia ditarik ke tempat gelap, dan dihajar habis-habisan. Begitu kata Nanik.

Sejumlah reaksi muncul di media sosial, di antaranya datang dari Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, politikus Partai Gerindra Rachel Maryam, dan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera.

Namun, apa mau dikata, semua diam seribu bahasa kala Ratna sendiri mengaku dirinya tak dianiaya. Pengakuan itu dilontarkan saat menggelar konferensi pers di kediamannya, bilangan Bukit Duri, Jakarta, kemarin (3/10).

Ratna mengaku, pada 21 September 2018 dirinya berada di rumah sakit Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat, untuk melakukan operasi sedot lemak. Wajahnya lebam, ya akibat operasi.

Sponsored

Kasus pejabat publik tertipu berita bohong seperti ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Jangankan calon presiden, presiden saja pernah tertipu mentah-mentah karena kabar bohong. Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno, ada pula kasus serupa.

Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (tengah) dan Sandiaga Uno (kanan) didampingi Dewan Penasehat BPN Amien Rais (kiri) memberikan keterangan pers mengenai berita bohong penganiayaan Ratna Sarumpaet, di kediaman Prabowo Subianto, Jalan Kertanegara, Jakarta, Rabu (3/10). (Antara Foto).Raja Idrus dari Kubu

Tersebutlah nama Raja Idrus dan istrinya Ratu Markonah yang membuat heboh pada 1950-an. Mereka mendaku sebagai penguasa dari Suku Kubu di pedalaman Jambi. Menurut Tamar Djaja dalam Soekarno-Hatta Persamaan dan Perbedaannya, Idrus dan Markonah menemui presiden di Istana Merdeka. Bung Karno menyambut baik kehadiran mereka.

Dalam pertemuan tersebut, Idrus dan Markonah menyatakan diri tunduk di bawah kekuasaan republik, serta meminta perlindungan dan nasihat-nasihat Bung Karno.

Dalam buku Bung Karno The Untold Stories, Wijanarko Aditjondro menulis, Markonah kerap menutup matanya yang cacat dengan kacamata hitam. Wijanarko menyebut, Idrus dan Markonah menemui sejumlah pejabat negara, dengan mengaku tengah keliling daerah-daerah di Indonesia. Raja Idrus dan Ratu Markonah diliput media massa dan diajak foto bersama.

“(Raja Idrus dan Ratu Markonah) diberitakan di koran Suluh Marhaen dan Duta Masjarakat,” kata sejarawan Universitas Sebelas Maret, Solo, Robit Nurul Jamil, ketika berbincang dengan saya, Kamis (4/10).

Menurut sejarawan Anhar Gonggong, dalam buku Wijanarko Bung Karno The Untold Stories, kabar Raja Idrus dan Ratu Markonah sampai ke telinga Sukarno, karena ada seorang pejabat yang menyampaikan kepada Bung Karno agar Raja Idrus dan Ratu Markonah diterima di Istana Merdeka.

“Sebab, raja dan ratu itu (mengaku) bisa membantu pembebasan Irian Barat (Papua bagian barat),” kata Anhar Gonggong, seperti dikutip dari buku Bung Karno The Untold Stories.

Sementara itu, Robit mengatakan, para pejabat itu ingin membangun sebuah “keagungan besar” alias pengakuan. Maka, kata Robit, ruang publik membutuhkan informasi itu di koran-koran. Menurutnya, Raja Idrus dan Ratu Markonah tak akan dimuat di koran, seandainya pejabat tak berlebihan menyikapi keberadaan mereka.

Wijanarko dalam Bung Karno The Untold Stories menulis, selain mendapatkan sambutan dan jamuan istimewa, sang raja dan ratu memperoleh uang untuk misi membantu pembebasan Papua bagian barat. Sukarno pun memberikan mereka uang untuk menginap di hotel mewah dan makan gratis selama berminggu-minggu.

Sementara Tamar Djaja dalam Soekarno-Hatta Persamaan dan Perbedaannya menulis, Idrus dan Markonah diberi fasilitas mengelilingi Jakarta dengan iring-iringan mobil.

“Tak hanya Jakarta, tapi banyak kota lain dikelilingi pasangan raja dan ratu ini,” tulis Tamar Djaja.

Menurut Arwah Setiawan dalam Humor Zaman Edan, Idrus dan Markonah bahkan sempat foto bersama penguasa Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono IX. Arwah menulis, koran-koran saat itu memberitakannya, dan memberikan keterangan “Raja Bertemu Raja.”

Menggoreng kabar bohong. Alinea.id.

Konspirasi politik?

Kala itu, Indonesia tengah berjuang membebaskan Papua bagian barat, yang masih berada dalam kekuasaan Belanda. Saat Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, dari 23 Agustus hingga 2 November 1949, Papua bagian barat tak dicapai kesepakatan antara Indonesia dan Belanda.

Belanda mengklaim, Papua bagian barat adalah salah satu provinsi Kerajaan Belanda. Sementara Indonesia mengklaim, seluruh wilayah Hindia Belanda merupakan bagian dari Republik Indonesia.

Bung Karno saat itu tengah butuh dukungan rakyat dalam memperjuangkan Papua bagian barat ke pangkuan ibu pertiwi. Tak heran, dia percaya saja kepada Raja Idrus dan Ratu Markonah.

Menurut Tamar Djaja, Idrus merupakan raja gadungan. Dia sebenarnya orang biasa, yang berasal dari Pariaman, Sumatra Barat. Sehari-hari bekerja sebagai penjual kacang goreng. Sedangkan Markonah, hanya seorang penjual kopi pinggiran jalan.

“Hal ini sampai ketahuan, karena Markonah diketahui orang sebagai pedagang kopi pinggir jalan,” tulis Tamar Djaja dalam buku Soekarno-Hatta Persamaan dan Perbedaannya.

Keterangan lain ditulis Wijanarko dalam Bung Karno The Untold Stories. Wijanarko, yang mengutip pernyataan Anhar Gonggong menyebut, Idrus sebenarnya seorang tukang becak. Sementara Markonah adalah pelacur kelas teri dari Tegal. Ada seorang tukang becak yang mengenali Idrus.

“Mereka tertangkap basah ketika asyik berbelanja macam cendera mata di sebuah pasar di Jakarta,” kata Anhar, seperti dikutip Wijanarko dalam Bung Karno The Untold Stories.

Robit pun mengatakan hal yang sama, seperti pernyataan Anhar Gonggong dalam buku Wijanarko. Profesi Idrus dan Markonah sebagai tukang becak dan pelacur, kata Robit, tertulis dalam koran masa itu.

Penulis dan penerjemah Harsutedjo ingat betul, berita raja dan ratu gadungan itu sempat heboh kala dirinya masih muda. Dia membaca berita itu di koran Trompet Masjarakat dan Harian Rakjat. Saat itu, usia Harsutedjo masih belasan tahun. 

Menurutnya, intelejen saat itu kedodoran, sehingga tertipu seseorang yang mengaku penguasa dari Suku Kubu. Tapi, Harsutedjo tak memberikan alasan mengapa hal itu bisa terjadi. Sedangkan Robit, yang fokus mengkaji pemikiran Sukarno ini menduga, mereka sesungguhnya orang bayaran.

“Apa mungkin profesi strata bawah mampu memikirkan penipuan kelas kakap,” kata Robit.

Robit mempertanyakan sejumlah hal yang ganjil tentang Raja Idrus dan Ratu Markonah.

“Apakah ini skema pejabat oposisi guna menjatuhkan Presiden Sukarno? Apakah kondisi pers sudah mulai terintervensi oposisi?” ujarnya.

Lebih lanjut, Robit mengatakan, hal-hal itu mesti ditelusuri kembali akarnya. Sebab, kata Robit, berita bohong memiliki fokus memperkeruh suasana politik. Namun, Robit tak menjelaskan bagaimana akhir riwayat Raja Idrus dan Ratu Markonah ini.

“Jelas akhirnya harus dihukum. Tapi, tak satupun media menjelaskan di mana mereka dihukum. Saya tidak menemukan sumbernya di buku-buku,” katanya.

Penipuan yang dilakukan raja dan ratu gadungan itu bisa dikatakan sebagai penipuan nasional pertama di Indonesia. Selanjutnya, sejumlah pejabat dalam pemerintahan Orde Baru pun pernah terkecoh berita bohong tentang seorang perempuan hamil dari Aceh bernama Cut Zahara Fona pada 1970.

Menurut Tamar Djaja dalam Soekarno-Hatta Persamaan dan Perbedaannya, Zahara mengaku, janin di dalam kandungannya bisa mengaji, salat, dan mengetahui situasi di luar perut ibunya.

Sampai-sampai, pernah orang-orang salat berjamaah di belakang perut Zahara. Sang bayi didapuk sebagai imam. Ternyata, usut punya usut, suara itu dihasilkan dari kaset yang ditaruh di belakang perutnya.

Sebagai seorang calon presiden, Prabowo tak perlu malu sudah membela Ratna yang ternyata melakukan kebohongan publik. Sebab, dahulu, yang sudah jadi presiden saja pernah tertipu. Namun, untuk pelajaran, sebaiknya investigasi dahulu baru bicara.

"Itu zaman (masa pemerintahan Sukarno) serba kekurangan, juga alat komunikasi. Zaman sekarang yang serba canggih seorang capres yang mantan jenderal tempur saja bisa dikibuli aktivis ecek-ecek," kata Harsutedjo.