sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Nafsu sesaat di balik PDKT Nasdem kepada PKS

Pelukan Ketum NasDem Surya Paloh dengan Presiden PKS Sohibul Iman ditanggapi oleh Presiden Jokowi.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Selasa, 12 Nov 2019 20:28 WIB
Nafsu sesaat di balik PDKT Nasdem kepada PKS

Pakar politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai tak ada keinginan partai politik untuk membentuk suatu koalisi yang berkepanjangan dan benar-benar konsisten untuk kesejahteraan rakyat. Menurutnya, koalisi hanya terbentuk lantaran kepentingan semata.

Hal itu dikemukakan Siti menyoal wacana Partai Nasional Demokrat (NasDem) menggandeng Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk mengusung calon presiden di Pilpres 2024.

"Parpol kita masih sangat mengedepankan kepentingan, orientasi kekuasaan sesaat. Tidak ada lagi kemewahan ideologi dan sebagainya. Kemewahan itu menyangkut kepentingan dan kekuasaan," kata Siti usai diskusi di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (12/11).

Siti mempertanyakan apakah latar belakang ideologi PKS dan NasDem bisa bertemu nantinya. Bagi dia, koalisi PKS-NasDem lebih pada kepentingan kontekstual.

"Jadi kalau cocok, kehendak, chemistry. Any time, lebur, kocar kacir. Jadi konfigurasi politik kita sangat tidak firm, karena sangat kontekstual," jelas dia.

Menurut Siti, wacana koalisi PKS dan NasDem untuk 2024 masih sangat jauh, terlebih melihat karakter koalisi yang selama ini terbangun.

"Ini kan masih lama. dari April sampai November. Belum tahun ke tahun, jadi masih sangat jauh," kata Siti.

Partai NasDem mulai menyiapkan calon presiden meski pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) baru berjalan beberapa bulan. Partai besutan Surya Paloh ini bahkan mengincar Gubenur DKI Jakarta, Anies Baswedan di Pilpres 2024, setelah menggelar pertemuan dengan PKS beberapa waktu lalu.

Sponsored

Siti mengatakan, meskipun wajar sebagai partai politik, seharusnya NasDem tetap mengedepankan mekanisme internal.

"Iya, itu boleh tapi not that way. Ada lah caranya. Lakukan aja seperti biasa. Internal. Ini kan show off," tuturnya. 

Pelukan Surya Paloh

Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh akhirnya memeluk erat Presiden Jokowi saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 Partai NasDem di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Senin (11/11) malam.

Sebelumnya, saat menghadiri HUT Partai Golkar, Jokowi menyampaikan candaan bahwa dia tidak pernah dipeluk seerat pelukan Paloh kepada Presiden PKS Sohibul Iman

Siti Zuhro menilai pelukan Paloh ke Sohibul dan Jokowi bukanlah sebuah pendidikan politik yang baik. Menurut dia, yang dipertontonkan ke publik seharusnya terkait bagaimana membangun bangsa, bukan sisi emosional.

"Itu urusan mereka kenapa dipertontonkan ke publik. Kapan mereka mampu menghentikan itu," kata Siti.

Siti mengatakan, pelukan Paloh ke Sohibul dan Jokowi memang bukan sebuah drama. Namun demikian, pelukan tersebut hanya mempertontonkan kekecewaan dan persahabatan yang seharusnya menjadi konsumsi pribadi.

"Bukan, itu alami. Tapi menurut saya bisa enggak mereka dewasa sedikit," jelas dia.

Lebih lanjut Siti mengatakan agar elite politik seperti Paloh lebih mengedepankan narasi membangun ketimbang mempertontonkan pelukan yang disebutnya tak dibutuhkan rakyat saat ini.

"Pelukan itu kan personal dia (Paloh). Dia orang extrovert. Tapi wacana yang diberikan ke publik kan mestinya mendidik, bukan perseteruan, ketidaknyamanan. Kalau mereka asyik-asyik enggak dipertontonkan," pungkas Siti.