sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Otoriter tanpa represif, Jokowi bisa bikin Soeharto iri

Perbedaan Jokowi dan Soeharto dalam memimpin terletak pada perangkat legal yang digunakannya.

Nanda Aria Putra
Nanda Aria Putra Minggu, 27 Des 2020 17:51 WIB
Otoriter tanpa represif, Jokowi bisa bikin Soeharto iri
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 939.948
Dirawat 149.388
Meninggal 26.857
Sembuh 763.703

Gaya kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap seperti dilakukan Soeharto, tetapi tanpa embel-embel represif. Alasannya, tindakan politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu menggunakan aparatur negara untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya bak pendahulunya tersebut.

"Saya pikir, beliau (Jokowi) tidak terlalu lemah. Saya cenderung mengatakan, bahwa bahkan Jokowi bisa membuat Soeharto itu iri karena dia bisa berkuasa seperti Soeharto tanpa menjadi represif," kata pengamat politik Made Supriyatma dalam telekonferensi, Minggu (27/12).

Dirinya menjelaskan, perbedaan antara Jokowi dan Soeharto terletak pada perangkat legal yang digunakannya. Rezim hari ini memakai perangkat hukum yang sah, seperti Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) serta aparat kepolisian.

"Dia mewarisi UU yang 'sangat baik'. Saya tulis di beberapa media soal ini. Seperti dia mewarisi UU ITE. Dia bisa memenjarakan lawan-lawan politiknya tanpa represif, cukup dengan menggunakan polisi saja, menggunakan kekuatan polisi yang sah," paparnya.

Made pun mengatakan, Jokowi merupakan politisi terjenius yang ada saat ini. Dalihnya, memainkan peran sebagai penyeimbang di antara berbagai macam kekuatan dan menempatkan dirinya sebagai pusat kekuatan.

"Ada banyak hal yang mampu dilakukan Jokowi yang tidak mampu dilakukan Soeharto tanpa tindakan represif. Jokowi ini, menurut saya, politisi paling jenius saat ini," ucapnya.

Dicontohkannya dengan kehadiran Jokowi sejak pertama kali muncul ke "gelanggang politik". Lawan terbesarnya kala itu justru datang dari internal PDIP dengan segala reputasinya yang berkembang; solid, tidak demokratis, dipimpin pemimpin yang kuat, dan matriarkat.

Namun, Jokowi secara perlahan tetapi pasti berhasil tampil sebagai pemenang dengan menjadi penyeimbang dari berbagai kekuatan di internal partai sembari memainkan peranan penting di luar PDIP. 

Sponsored

"Lawan terbesar Jokowi adalah PDIP dan beliau sangat pintar bernegosiasi dan pintar memuaskan para politisi PDIP sekaligus melemahkan mereka, yang tidak mampu dilakukan politisi Indonesia mana pun," jelasnya.

Puncaknya, sambung Made, dengan memasukkan kekuatan politik lainnya, utamanya nonpartai, ke dalam Kabinet Indonesia Maju, Mereka adalah konglomerat Indonesia, seperti Erick Thohir, Sandiaga Uno, dan M. Luthfi.

"Sekarang bagaimana dia akan deal dengan crazy rich ini? Dia akan mengendalikan mereka sejauh kepentingan dia. Trio ini (Erick, Sandi, dan Luthfi) punya kekuatan yang signifikan, bisa digunakan untuk menghadapi kekuatan suatu partai. Namun di satu sisi, partai akan dipelihara untuk menyaingi kekuatan tiga orang ini dan Jokowi berada di senter dari semua ini," urainya.

Berita Lainnya
×
img