sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Pascapilkada, elektabilitas Jokowi belum mumpuni

Elektabilitas Jokowi belum mencapai 50% dan tak punya cukup banyak pemilih loyal.

Gema Trisna Yudha
Gema Trisna Yudha Selasa, 10 Jul 2018 17:08 WIB
Pascapilkada, elektabilitas Jokowi belum mumpuni
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23165
Dirawat 15870
Meninggal 1418
Sembuh 5877

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merilis peningkatan elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) pascagelaran Pilkada Serentak 2018 lalu. Namun angkanya terbilang kecil, sehingga sebagai calon petahana di Pilpres 2019, posisinya masih belum aman.

Dalam survei terbaru LSI yang dilakukan 28 Juni-5 Juli 2018, elektabilitas Jokowi berada di angka 49,3%, atau naik 3,3% dalam survei di bulan Mei, sebelum pelaksanaan Pilkada. Meski begitu, elektabilitas lawan Jokowi juga berada dalam kondisi stagnan. 

Gabungan elektabilitas sejumlah nama calon rival Jokowi, seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dan lain-lain, hanya mengumpulkan angka 45,2%. Naik sedikit dari survei di bulan Mei yang memperoleh 44,7%. 

Survei yang dilakukan terhadap 1.200 responden ini dilakukan dengan metode multistage random sampling. Survei yang juga dilengkapi focus group discussion, analisis media, dan wawancara mendalam ini, memiliki margin of error kurang lebih 2,9%.

Dalam survei ini, terungkap pemilih loyal Jokowi hanya sebesar 32%. Lawan Jokowi, meski jelas dan belum melakukan kampanye, sudah memiliki pendukung loyal sebesar 30,5%. Hal ini juga dipengaruhi oleh gerakan #2019GantiPresiden yang makin populer. Dalam hasil survei, popularitas gerakan ini naik sekitar 10% dari sebelum Pilkada 2018, menjadi 60,5%.

Cawapres Jokowi

LSI mengajukan sejumlah opsi kategori dalam mempertanyakan cawapres ideal Jokowi. Pada kategori partai, urutannya adalah Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto (35,7%), Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (21,5%), dan Ketua Umum PPP Romahurmuziy (16%).

Pada kategori profesional, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjadi cawapres dengan elektabilitas tertinggi dengan 32,5%. Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti 24,5%, dan pengusaha CT Corp Chairul Tanjung dengan 17%.

Sponsored

Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian menjadi cawapres dengan elektabilitas tertinggi untuk isu keamanan, yaitu 32,6%. Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) TNI Moeldoko 29%, dan Menko Polhukam Wiranto dengan 25,7%.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin mendapat 21% dan menjadi kandidat cawapres terkuat dari pemuka agama. Selain itu, ada nama mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, yang mendapat 17,2%, dan Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi mendapat 12,3%.

Selain penilaian responden, LSI juga menambahkan survei expert judgment untuk menilai kelayakan kandidat-kandidat cawapres Jokowi. Mereka adalah para ahli yang mewakili Indonesia Barat, Indonesia Tengah, dan Indonesia Timur. Ada lima nama yang muncul dari penilaian expert judgment ini, yaitu Airlangga Hartarto, Mahfud MD, Tito Karnavian, Moeldoko, dan Sri Mulyani.

Lawan Jokowi

Prabowo Subianto yang digadang-gadang akan kembali maju melawan Jokowi di Pilpres 2019, mendapat elektabilitas paling kuat saat dipasangkan dengan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Pasangan ini mendapat 35,6%, disusul Prabowo-Anies 19,6%, dan Prabowo-AHY 12,3%.

Adapun elektabilitas Gatot berada di puncak saat dipasangkan dengan Anies, dengan 31,8%. Gatot hanya mendapat 21,5% saat dipasangkan dengan AHY, dan 13,3% jika berpasangan dengan mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher).

Sementara Anies, mendulang elektabilitas tertinggi kala diduetkan dengan AHY, yaitu 33,4%. Anies-Aher hanya mendapat 27,4% dan Anies-Cak Imin di angka 23,4%.

Berita Lainnya