sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Putri Gus Dur: Tak ada korelasi agama dan politik

Menurut Inayah Wahid, yang harus ditonjolkan pasangan capres-cawapres adalah program dan visi-misi, bukan sentimen agama.

Soraya Novika
Soraya Novika Sabtu, 29 Des 2018 20:00 WIB
Putri Gus Dur: Tak ada korelasi agama dan politik

Tahun politik senantiasa tak dapat lepas dari beragan sentimen kepentingan. Salah satu yang kian menguat belakangan adalah sentimen agama sebagai identitas berpolitik.

Menanggapi hal tersebut, putri mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid mewanti-wanti akan adanya pihak-pihak yang menggunakan tendensi agama dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 mendatang.

"Saya mau bilang kita ini mau Pemilu memilih presiden, pilih wakil rakyat. Bukan lagi memilih nabi, bukan lagi memilih imam, bukan lagi memilih Tuhan. Jadi, tidak perlu 'baper' bawa-bawa agama dalam politik. Kita kan sedang berbicara soal negara," ujar Inayah Wahid, ditemui usai menghadiri forum dialog lintas agama di Discovery Hotel, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (29/12).

Menurut Inayah, hal paling krusial yang mesti ditonjolkan oleh kedua pihak calon presiden dan wakil presiden, baik pasangan Joko Widodo-Ma'aruf Amin maupun Prabowo Subianto-Sandiaga Uno adalah program, serta visi-misi untuk Indonesia ke depan. Ketimbang sentimen yang sifatnya personal, seperti agama.

"Mestinya program itu yang harusnya dipromosikan, ini kan bukan urusan agama. Ini kan tentang politik, dan ketika kita bicara politik artinya kita membahas kebangsaan dan kenegaraan. Kita fokus pada fungsi-fungsi negara," katanya.

Masyarakat diminta untuk tidak mudah terpancing dengan isu-isu yang berkaitan dengan agama, baik di media sosial maupun kehidupan sehari-hari. Inayah menegaskan, tidak ada kolerasi antara urusan Pilpres dengan agama.

"Jadi, kita ini lagi milih perangkat negara, tidak perlu bawa-bawa agama, karena tidak ada hubungannya," ujarnya.

Inayah menerangkan, memilih kepala negara atas pertimbangan agama bukanlah hal yang salah. Namun, bila urusan agama kemudian menjadi bahan provokasi yang dibawa ke politik, itu lah yang menurutnya penting untuk diwaspadai.

Sponsored

"Kita bisa melihat di media sosial banyak pihak yang bertengkar satu dengan lainnya hanya karena perdebatan mengenai agama. Kalau Anda mau milih bahwa faktornya adalah kesamaan agama silakan. Tapi tidak perlu dibawa-bawa hingga dipolitisasi. Tidak usah dikapitalisasi juga. Itu dua hal yang harus dibedakan," katanya.

Isu agama yang dipolitisasi, kata Inayah, efeknya pun sangat buruk. Sebab, bisa menimbulkan perpecahan. Masyarakat jadi tidak lagi saling mengedepankan toleransi satu sama lain dalam perbedaan pilihan.

"Karena dampaknya bisa buruk, masyarakat bisa terpecah belah, bisa terkotak-kotakan, tidak pantas sekali rasanya kita menghadapi efek seperti itu. Apalagi ini hanya untuk pertarungan lima tahun sekali," ujarnya.